Rahasia Dibalik Berdirinya NU

NUKH. As’ad Syamsul Arifin adalah PELAKU sejarah berdirinya NU, beliaulah yang menjadi media penghubung dari KH.R. Kholil (Bangkalan) yang memberika ISYARAT agar KH. Hasyim Asyari mendirikan Jam’iyah Ulama yang akhirnya bernama NAHDLOTUL ‘ULAMA. Pidato ini awalnya berbahasa Madura dan berikut adalah translit selengkapnya.

“Assalamu’alaikum wr. wb ..
Yang akan saya sampaikan pada Anda tidak bersifat nasehat atau pengarahan, tapi saya mau bercerita kepada Anda semua. Anda suka mendengarkan cerita? (Hadirin menjawab: Ya).

Kalau suka, saya mau bercerita. Begini saudara-saudara, tentunya yang hadir ini kebanyakan warga NU, ya? Ya?
(Hadirin menjawab: Ya).

Kalau ada selain warga NU tidak apa-apa ikut
mendengarkan. Cuma yang saya sampaikan ini tentang NU, Nahdlotul Ulama. Karena saya ini orang NU, TIDAK BOLEH BERUBAH – UBAH, sudah NU. Jadi saya mau bercerita kepada anda MENGAPA ada NU.

Tentunya muballigh-muballigh yang lain menceritakan isinya kitab. Kalau saya tidak, Sekarang saya ingin bercerita tentang kenapa ada NU di Indonesia, apa sebabnya? Tolong didengarkan ya, TERUTAMA para pengurus, Pengurus Cabang, MWC, Ranting, kenapa ada NU di Indonesia.

Begini ,, umat Islam di Indonesia ini mulai kira-kira 700 tahun ( yang lalu) dari sekarang, kurang lebih, para auliya’, pelopor- pelopor Rasulullaah Saw. ini yang masuk ke Indonesia membawa syariat Islam menurut aliran salah satu empat madzhab, yang empat.

Jadi, ulama, para auliya’, para pelopor Rasulullaah Saw. masuk ke Indonesia pertama kali yang dibawa adalah Islam. Menurut orang sekarang Islam Ahlussunah wal Jama’ah, syariat Islam DARI Rasulullaah Saw. yang beraliran salah satu empat madzhab KHUSUSNYA madzhab Syafi’i. Ini yang TERBESAR yang ada di Indonesia.

Madzhab-madzhab yang lain juga ada. Ini TERMASUK Islam Ahlussunah wal Jama’ah. Termasuk yang dibawa Walisongo, yang dibawa Sunan Ampel, termasuk Raden
Asmoro ayahanda Sunan Ampel, termasuk Sunan Kalijogo, termasuk Sunan Gunung Jati. SEMUA ini adalah ulama-ulama pelopor yang masuk ke Indonesia, yang membawa syariat Islam Ahlussunah wal Jama’ah.

Kira-kira tahun 1920, waktu saya ada di Bangkalan (Madura), di pondok Kyai Kholil. Kira-kira tahun 1920, Kyai Muntaha Jengkebuan menantu Kyai Kholil, MENGUNDANG tamu para ulama dari seluruh Indonesia. Secara bersamaan tidak dengan berjanji datang bersama, sejumlah sekitar 66 ulama dari seluruh Indonesia.

Masing-masing ulama melaporkan: “Bagaimana Kyai Muntaha ,,, (kami mohon) tolong sampaikan kepada Kyai Kholil, saya (kami) tidak berani menyampaikannya. ini semua sudah berniat untuk sowan kepada Hadhrotusy Syaikh. Ini tidak ada yang berani kalau bukan Anda (kyai Muntaha) yang menyampaikannya.”

Kyai Muntaha berkata: “Apa keperluannya?”

Salah satu ulama menjawab : “ BEGINI , sekarang ini mulai ada kelompok-kelompok yang sangat tidak senang dengan ulama Salaf, tidak senang dengan kitab-kitab ulama Salaf. Yang diikuti hanya al-Quran dan Hadits saja. Yang lain tidak perlu diikuti. Bagaimana pendapat pelopor-pelopor Walisongo karena ini yang sudah berjalan di Indonesia. Sebab rupanya kelompok ini melalui (mendompleng) kekuasaan pemerintah Jajahan, Hindia Belanda. Tolong disampaikan pada Kyai Kholil.”

Sebelum para tamu (termasuk kyai Muntaha) sampai ke kediaman Kyai Kholil dan masih berada di Jengkebuan, Kyai Kholil menyuruh Kyai Nasib:

“Nasib, ke sini! Bilang kepada Muntaha, DI AL-QUR’AN SUDAH ADA, SUDAH CUKUP:

ﻳُﺮِﻳﺪُﻭﻥَ ﺃَﻥ ﻳُﻄْﻔِﺆُﻭﺍْ ﻧُﻮﺭَ ﺍﻟﻠّﻪِ ﺑِﺄَﻓْﻮَﺍﻫِﻬِﻢْ ﻭَﻳَﺄْﺑَﻰ ﺍﻟﻠّﻪُ ﺇِﻻَّ

ﺃَﻥ ﻳُﺘِﻢَّ ﻧُﻮﺭَﻩُ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺮِﻩَ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭﻥَ ﴿٣٢ ﴾

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allaah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allaah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. at-Taubah, ayat : 32)

JADI kalau sudah dikehendaki oleh Allaah Ta’ala, maka KEHENDAK-NYA yang akan terjadi, tidak akan gagal. Bilang ya kepada Muntaha.”

Jadi para tamu BELUM SOWAN sudah dijawab oleh Kyai (Kholil). Ini karomah saudara, belum datang sudah dijawab keperluannya. Jadi para ulama tidak menyampaikan apa-apa, Cuma bersalaman.

“Saya puas sekarang” kata Kyai Muntaha.
Jadi saya belum sowan, sudah dijawab hajat saya ini.

Tahun 1921-1922 ada musyawarah di Kawatan (Surabaya) di rumah Kyai Mas Alwi. Ulama-ulama berkumpul sebanyak 46, bukan 66. Tapi hanya seluruh Jawa, bermusyawarah termasuk Abah saya (KH. Syamsul Arifin), termasuk Kyai Sidogiri, termasuk Kyai Hasan
almarhum, (dari) Genggong, membahas masalah ini.

Seperti apa, seperti apa?

Dari Barat Kyai Asnawi (dari) Kudus, Ulama-ulama Jombang semua, Kyai Thohir. para Kyai
berkata: “Tidak ada jadinya, tidak ada kesimpulan (dari musyawarah itu).”

Sampai tahun 1923, kata Kyai satu (salah satu Kyai): “Mendirikan Jamiyah (organisasi)”,
kata yang lain: “Syarikat Islam ini saja diperkuat.”
Kata yang lain: “Organisasi yang sudah ada
saja.”

Belum ada NU, (Sementara) yang lain sudah merajalela.

Tabarruk-tabarruk sudah tidak boleh. Orang minta berkah ke (lewat) Ampel sudah tidak boleh. Minta syafaat ke nenek moyang sudah tidak boleh. Ini sudah tidak dikehendaki. Sudah ditolak semua oleh kelompok-kelompok tadi.
Seperti apa bawaan (YANG TERJADI SAAT) ini.

Kemudian ada satu ulama yang matur (menghadap) sama Kyai (Kholil) :
“Kyai, saya menemukan satu sejarah tulisan Sunan Ampel”.

Beliau menulis seperti ini. Kalau tidak salah, (soalnya) ini kertas tebal. Saya masih kanak-kanak. Belum dewasa hanya mendengarkan saja :

“Waktu saya (Sunan Ampel / Raden Rahmatullah) mengaji ke paman saya di Madinah, saya pernah pernah bermimpi bertemu Rosulullaah, seraya berkata kepada saya (Sunan Aampel / Raden Rahmat): “Islam Ahlussunah wal Jama’ah ini BAWA HIJRAH ke Indonesia. Karena di tempat kelahirannya ini sudah tidak mampu melaksanakan Syariat Islam Ahlussunah wal Jama’ah. Bawa ke Indonesia.”

Jadi DI ARAB sudah tidak mampu melaksanakan syari’at Islam Ahlussunah wal Jama’ah. Pada zaman Maulana Ahmad, belum ada istilah Wahabi, belum ada istilah apa-apa. Ulama-ulama Indonesia ditugasi melakukan wasiat ini.
Kesimpulannya, mari Istikhoroh.

Jadi ulama berempat (46) ini melakukannya. Ada yang ke Sunan Ampel. Ada yang ke Sunan Giri. Dan ke sunan-sunan yang lain. Paling tidak 40 hari. Ada 4 orang yang ditugasi ke Madinah.
AKHIRNYA, tahun 1923 semua berkumpul, sama-sama melaporkan. Hasil laporan ini tidak tahu siapa yang memegang. Apa Kyai Wahab, apa Kyai Bisri. Insya Allaah ada laporan lengkapnya. Dulu saya pernah minta sama
Gus Abdurrahman dan Gus Yusuf supaya dicari.

Sesudah tidak menemukan kesimpulan, tahun 1924, Kyai (Kholil) memanggil saya. Ya saya ini. Saya tidak bercerita (tentang) orang lain. Saya sendiri.

Saya dipanggil: “As’ad, ke sini kamu!”
Asalnya saya ini mengaji di pagi hari, dimarahi oleh kyai, karena saya tidak bisa mengucapkan huruf Ro’.
Saya ini pelat (cadal). “Allohman Allohim ( Arrohmaan Arrohiim)…”
Kyai marah : “Bagaimana kamu membaca al-Quran kok seperti ini? Disengaja apa tidak?!”
(Jawab kyai as’ad) : “Saya tidak sengaja Kyai. Saya ini pelat.”
Kyai kemudian keluar (Kyai Kholil melakukan sesuatu).

Kemudian esok harinya pelat saya ini hilang. Ini salah satu kekeramatan Kyai yang diberikan kepada saya.

Kedua, saya dipanggil lagi:
(Kyai Kholil) : “Mana yang cedal itu? ,, Sudah sembuh cedalnya?”
(kyai as’ad) : “Sudah Kyai.”
(Kyai Kholil) : “Ke sini. Besok kamu pergi ke Hasyim Asy’ari Jombang. Tahu rumahnya?”
(Kyai as’ad) : “Tahu.”
(Kyai Kholil) : “Kok tahu? Pernah mondok di sana?”
(Kyai as’ad) : “Tidak, Pernah sowan.”
(Kyai Kholil) : “Tongkat ini antarkan, berikan pada Hasyim. Ini tongkat kasihkan.”
(Kyai as’ad) : “Ya, Kyai.”
(Kyai Kholil) : “Kamu punya uang?”
(Kyai As’ad) : “Tidak punya, Kyai.”
(Kyai Kholil) : “Ini.”

Saya diberikan uang 1 Ringgit, uang perak yang bulat. Saya letakkan di kantong. Tidak saya pakai. Sampai sekarang masih ada. Tidak beranak, tapi berbuah (berkah).
Beranaknya tidak ada. Kalau buahnya banyak. Saya simpan. Ini berkah, Ini buahnya ( Kyai as’ad sambil menunjukkan sesuatu).

Setelah keesokan harinya saya mau berangkat, saya dipanggil lagi,
(Kyai Kholil) : “Ke sini kamu! Ada ongkosnya?”
(Kyai As’ad) : “Ada kyai.”
(Kyai Kholil) : “Tidak makan kamu? Tidak merokok kamu? Kamu kan suka merokok?”

Saya dikasih lagi 1 Ringgit bulat. Saya simpan lagi. Saya sudah punya 5 Rupiah. Uang ini tidak saya apa-apakan. Masih ada sampai sekarang.

Kyai keluar: “Ini (tongkat) kasihkan ya,
(Kyai Kholil membaca QS. Thaha ayat 17-21):

ﻭَﻣَﺎ ﺗِﻠْﻚَ ﺑِﻴَﻤِﻴﻨِﻚَ ﻳَﺎ ﻣُﻮﺳَﻰ ﴿١٧﴾

ﻗَﺎﻝَ ﻫِﻲَ ﻋَﺼَﺎﻱَ ﺃَﺗَﻮَﻛَّﺄُ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﻭَﺃَﻫُﺶُّ ﺑِﻬَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻏَﻨَﻤِﻲ ﻭَﻟِﻲَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣَﺂﺭِﺏُ ﺃُﺧْﺮَﻯ ﴿١٨﴾

ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻟْﻘِﻬَﺎ ﻳَﺎ ﻣُﻮﺳَﻰ ﴿١٩﴾

ﻓَﺄَﻟْﻘَﺎﻫَﺎ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻫِﻲَ ﺣَﻴَّﺔٌ ﺗَﺴْﻌَﻰ ﴿٢٠﴾

ﻗَﺎﻝَ ﺧُﺬْﻫَﺎ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺨَﻒْ ﺳَﻨُﻌِﻴﺪُﻫَﺎ ﺳِﻴﺮَﺗَﻬَﺎ ﺍﻟْﺄُﻭﻟَﻰ ﴿٢١ ﴾

“Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa?.” (17)
Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” (18)
Allaah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” (19)
Lalu dilemparkannya-lah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat.(20)
Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.” (21)

Karena saya ini namanya masih muda. Masih gagah. Sekarang saja sudah keriput.
Gagah pakai tongkat dilihat terus sama orang-orang.
Kata orang Arab Ampel: “Orang ini gila. Muda pegang tongkat.”
Ada yang lain bilang: “Ini wali.”
Wah macam-macam perkataan orang. Ada yang bilang gila, ada yang bilang wali. Saya tidak mau tahu, saya hanya disuruh Kyai. Wali atau tidak, gila atau tidak terserah kamu (mereka).

Saya terus berjalan. Saya terus diolok-olok, gila. Karena masih muda pakai tongkat. Jadi perkataan orang tidak bisa diikuti. Rusak semua, yang menghina terlalu parah.
Yang memuji juga keterlaluan. “Wali itu”, kok tahu? Jadi ini UJIAN. Saya DIUJI oleh Kyai.

Saya terus jalan. Sampai di Tebuireng,
(Kyai Hasyim bertanya): “Siapa ini?”
(Kyai As’ad) : “Saya, Kyai.”
(Kyai Hasyim) : “Anak mana?”
(Kyai As’ad) : “Dari Madura, Kyai.”
(Kyai Hasyim) : “Siapa namanya?”
(Kyai As’ad) : “As’ad.”
(Kyai Hasyim) : “Anaknya siapa?”
(Kyai As’ad) : “Anaknya Maimunah dan Syamsul Arifin.”
(Kyai Hasyim) : “Anaknya Maimunah kamu?”
(Kyai As’ad) : “Ya, Kyai”
(Kyai Hasyim) : “Keponakanku kamu, Nak. Ada apa?”
(Kyai As’ad) : “Begini Kyai, saya disuruh Kyai (Kholil) untuk mengantar tongkat.”
(Kyai Hasyim) : “Tongkat apa?”
(Kyai As’ad) : “Ini, Kyai.”
(Kyai Hasyim) : “Sebentar, sebentar…”

Ini orang yang sadar. Kyai ini pintar. Sadar, hadziq (cerdas). “Bagaimana ceritanya?”
Tongkat ini tidak langsung diambil (oleh Kyai Hasyim). Tapi ditanya dulu mengapa saya diberi (disuruh mengatarkan) tongkat. (Kemudian) Saya menyampaikan ayat:

ﻭَﻣَﺎ ﺗِﻠْﻚَ ﺑِﻴَﻤِﻴﻨِﻚَ ﻳَﺎ ﻣُﻮﺳَﻰ ﴿١٧﴾

ﻗَﺎﻝَ ﻫِﻲَ ﻋَﺼَﺎﻱَ ﺃَﺗَﻮَﻛَّﺄُ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﻭَﺃَﻫُﺶُّ ﺑِﻬَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻏَﻨَﻤِﻲ ﻭَﻟِﻲَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣَﺂﺭِﺏُ ﺃُﺧْﺮَﻯ ﴿١٨﴾

ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻟْﻘِﻬَﺎ ﻳَﺎ ﻣُﻮﺳَﻰ ﴿١٩﴾

ﻓَﺄَﻟْﻘَﺎﻫَﺎ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻫِﻲَ ﺣَﻴَّﺔٌ ﺗَﺴْﻌَﻰ ﴿٢٠﴾

ﻗَﺎﻝَ ﺧُﺬْﻫَﺎ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺨَﻒْ ﺳَﻨُﻌِﻴﺪُﻫَﺎ ﺳِﻴﺮَﺗَﻬَﺎ ﺍﻟْﺄُﻭﻟَﻰ ﴿٢١ ﴾

“Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa?.” (17)
Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” (18)
Allaah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” (19)
Lalu dilemparkannya-lah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat.(20)
Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”(21)

Inilah ASALNYA Jam’iyatul Ulama.

Tahun 1924 akhir, saya dipanggil lagi oleh Kyai Kholil:
(Kyai Kholil) : “As’ad, ke sini! Kamu tidak lupa rumahnya Hasyim?”
(Kyai As’ad) : “Tidak, Kyai.”
(Kyai Kholil) : “Hasyim Asy’ari?”
(Kyai As’ad) : “Ya, Kyai.”
(Kyai Kholil) : “Di mana rumahnya.”
(Kyai As’ad) : “Tebuireng.”
(Kyai Kholil) : “Dari mana asalnya?”
(Kyai As’ad) : “Dari Keras (Jombang). Putranya Kyai Asy’ari Keras.”
(Kyai Kholil) : “Ya, benar. Di mana Keras?”
(Kyai As’ad) : “Di baratnya Seblak.”
(Kyai Kholil) : “Ya, kok tahu kamu?”
(Kyai As’ad) : “Ya, Kyai.”
(Kyai Kholil) : “Ini tasbih antarkan.”
(Kyai As’ad) : “Ya, Kyai.”

Kemudian diberi uang 1 Ringgit dan rokok. Saya kumpulkan. Semuanya menjadi 3 Ringgit dengan yang dulu. Tidak ada yang saya pakai. Saya ingin tahu buahnya.

Terus, pagi hari Kyai (Kholil) keluar dari Langgar:
(Kyai Kholil) : “Ke sini, makan dulu!”
(Kyai As’ad) : “Tidak, Kyai. Sudah minum wedang dan jajan,”
(Kyai Kholil) : “Dari mana kamu dapat?”
(Kyai As’ad) : “Saya beli di jalan, Kyai”
(Kyai Kholil) : “Jangan membeli di jalan! Jangan makan di jalan! Santri kok makan di jalan?”
(Kyai As’ad) : “Ya, Kyai.”

Saya MAKAN di jalan dimarahi. Santri kok menjual harga dirinya ..

Akhirnya saya ditanya:
(Kyai Kholil) : “Cukup itu?”
(Kyai As’ad) : “Cukup, Kyai.”
(Kyai Kholil) : “Tidak!”

Diberi lagi oleh Kyai. Dikasih lagi 1 Ringgit … Saya simpan lagi.

KEMUDIAN tasbih itu dipegang ujungnya (oleh Kyai Kholil, dan beliau membaca) :
“Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.”

Jadi , Ya Jabbar 1 kali putaran tasbih. Ya Qahhar 1 kali putaran tasbih. Saya disuruh dzikir.

(Kyai Kholil) : “Ini.”

Disuruh ambil. Saya tengadahkan leher (menundukkan kepala) saya.

(Kyai Kholil) : “Kok leher?”
(Kyai As’ad) : “Ya, Kyai. Tolong diletakkan di leher saya supaya tidak terjatuh.”
(Kyai Kholil) : “Ya, kalau begitu.”

Jadi saya berkalung tasbih. Masih muda, berkalung tasbih. Saya berjalan lagi, bertemu kembali dengan yang membicarakan saya dulu: “Ini orang yang megang tongkat itu? Wah.. Hadza majnun”. Ada yang bilang
“wali”, ya seperti tadi. Jadi saya tidak menjawab. Saya tidak bicara kalau belum bertemu Kyai. Saya berpuasa. Saya tidak bicara, tidak makan, tidak merokok, karena
amanatnya Kyai. Saya tidak berani berbuat apa-apa.

Sebagaimana kepada Rosulullaah, ini kepada guru. Saya tidak berani. Saya berpuasa. Saya tidak makan, tidak minum tidak merokok. Tidak terpakai uang saya. Ada yang narik: “Karcis! karcis!”. Saya tidak ditanya. Saya pikir ini karena tasbih dan tongkat. Saya pura-pura tidur karena tidak punya karcis.

Jadi selama perjalanan 2 kali saya tidak pernah membeli karcis. Mungkin karena tidak melihat saya. Ini sudah jelas keramatnya Kyai.
Jadi Auliya’ itu punya karomah. Saya semakin yakin dengan karomah. Saya semakin yakin.

Saya lalu sampai di Tebuireng, Kyai (Hasyim) tanya: “Apa itu?”
Saya mengantarkan “tasbih.”
(Kyai Hasyim) : “Masya Allaah, Masya Allaah [Saya diperhatikan betul oleh guru saya]. Mana tasbihnya?”
(Kyai As’ad) : “Ini, Kyai.” (dengan menjulurkan leher).
(Kyai Hasyim) : “Lho?”
(Kyai As’ad) : “Ini, Kyai. Tasbih ini dikalungkan oleh Kyai (Kholil) ke leher saya, sampai sekarang saya tidak memegangnya. Saya takut
su’ul adab (tidak sopan) kepada guru. Sebab tasbih ini untuk Anda. Saya tidak akan berbuat apa-apa terhadap barang milik Anda.”

KEMUDIAN diambil oleh Kyai:
“Apa kata Kyai?” “Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar. Siapa yang berani pada NU akan hancur. Siapa yang berani pada ulama akan hancur.”

INI DAWUHNYA.

PADA tahun 1925, Kyai Kholil wafat tanggal 29 Romadlon. Banyak orang berserakan (berdatangan untuk ta’ziah).

AKHIRNYA pada tahun 1926 bulan Rajab diresmikan Jam’iyatul Ulama. Ini sudah dibuat, organisasi sudah disusun. TERMASUK yang menyusun adalah Kyai Dahlan dari Nganjuk, yang membuat anggaran dasar. Kemudian para ulama sidang
lagi untuk mengutus kepada Gubernur Jenderal.

Ya, seperti itulah yang dapat saya ceritakan”.



TRASNLIT PIDATO KH. As’ad Syamsul ‘Arifin.
* Nb. File rekaman diperoleh dari Gus Adib Mursyid, MAg. pada Jum’at 23 Maret 2012 di atas Kapal Lawit (Pelni).

* Dialih bahasakan oleh Moh. Ma’ruf Khozin.
Diedit ulang oleh Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 18 Februari 2013.

Sebarkan Kebaikan Sekarang
loading...

Santri Admin

Santri Admin has written 847 articles

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>