Kisah Kyai Suket (Rumput)

Kisah Kyai Suket (Rumput)

Kyai suket

Oleh : Zainal Wong Wongan

Saya bingung harus memulai dari mana dalam mengisahkan Kyai yang terkenal dengan Kyai Suket (Kyai Rumput) ini, akibat banyak hikmah, ahlaq dan tauladan yang bisa kita ambil darinya.

Beliau mungkin satu satunya tokoh di dunia yang berhasil melakukan terobosan merubah sikap hidup masyarakat melalui cara yang aneh dan tidak terpikirkan oleh siapapun selainnya, yaitu dengan cara menanam rumput.

Seorang yang ketika remajanya nyantri pada Kyai Mawardi Gandrirojo dan kepada Kyai Zubair Sarang setelah dewasanya, dilanjutkan ke Lirboyo kepada Kyai Mahrus, kealimannya tidak diragukan, apalagi puncak spiritual yang beliau jalani sebagai Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah wa Annaqsyabandiyah sampai ahir hayatnya pada 22 syuro kemaren semakin mengukuhkan bahwa KH. Nur Salim Tanjungsari Kec Kragan itu adalah tokoh yang Alimun bisyari’atihi wa Arifun birobbih, sederhana, merakyat (semua rumah penduduk sekitar pernah beliau singgahi sebagai cara dakwah yang halus, bersahaja, dan satu lagi, yaitu hampir dalam hidupnya tidak pernah marah.

Karena hampir semua ummatnya mempunyai ternak sapi atau kambing, beliau memberikan contoh langsung bagaimana agar ternak yang tumbuh itu tidak dari rumput yang haram, beliaulah yang pertama kali menanam rumput gajah di daerahnya, setiap pematang sawah dan pekarangan beliau tanami rumput, semula beliau mendapat komentar miring dari masyarakat, Kyai kok nandur suket (rumput)?. Hingga beliaupun mendapat julukan baru Kyai Suket.

Tetapi bukan Kyai namanya jika apa yang dimilikinya tidak dibagi, pun demikian dengan rumput tanaman Mbah Nur Salim tersebut, bahkan rumput itu beliau bawa ketika beliau ngaji keliling atau atas undangan tetangga, baik tetangga desa atau tetangganya sendiri, beliau bagikan rumput rumput itu hingga kepada santri beliau yang jauh, sedekah sambil tarbiyyah masalah duniawi dan sambil ngaji.

Perhatiannya kepada pembangunan mental dan spiritual masyarkat begitu total beliau buktikan, beliau lebih memilih menunda berangkat haji demi mendirikan Masjid dan Madrasah, saya menyaksikan sendiri luasnya tanah yang diwakafkan itu tidak memungut iuran masyarakat dalam membangun masjid dan madrasahnya, tanahnya dari beliau, beliau yang merancangnya dan beliau juga yang mendanainya, tak pernah ada proposal yang melayang kepada pemerintah maupun kepada masyarakat, bahkan kepada santrinya sendiri.

Sepertinya karena ada kesamaan dalam hal banyaknya Masjid yang dibangun oleh beliau dengan Syyid Hamzah Syatho yang juga banyak mempunyai banyak peninggalan Masjid, beliau dikebumikan persis pada puncak haulnya Sayyid Hamzah Syatho yaitu 23 Syuro.

Kedermawanan beliau juga hampir sama dengan Sayyid Hamzah, bahkan beliau lebih dermawan kepada santri santrinya dibanding dengan putra putrinya sendiri.

Terbukti seorang pekerja keras seperti beliau wafat tidak meninggalkan harta benda yang pantas, tetapi beliau lebih banyak meninggalkan monumen surga di banyak tempat.

Jangankan mobil yang menghiasi halaman rumahnya, beliau lebih suka dijemput dengan sepeda motor oleh santri atau orang yang mengundangnya.

Sebarkan Kebaikan Sekarang
loading...

Santri Admin

Santri Admin has written 846 articles

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>