Encyclopedia Britannica: Biografi Muhammad bin Abdul Wahab

Sengaja saya tidak mengambil referensi tentang biografi singkat Muhammad bin Abdul Wahab (pendiri Wahabisme) dari kitab-kitab Ensiklopedi Islam yang berbahasa Arab, tapi saya ambil dari “Encyclopaedia Britannica” yang berbahasa Inggeris yang saya terjemahkan sendiri. Karena, ada sekelompok orang di pihak Wahabi Salafi yang ingin menyelewengkan sejarah dan pendiri Wahabisme supaya kedok kebohongan mereka tidak terungkap. Kata mereka: Pendiri ajaran Wahabi (Wahabisme) itu bukan berasal dari Muhammad bin Abdul Wahab dari Najd Saudi Arabia, tapi pendirinya adalah Muhammad bin Abdul Wahab as-Rustumiyah dari sebuah tempat di Afrika, yang keberadaannya jauh sebelum lahirnya Muhammad bin Abdul Wahab dari Najd Saudi Arabia. 
Adapun, biografi singkat Muhammad bin Abdul Wahab dari Najd Saudi Arabia (pendiri Wahabisme) diterangkan di dalam buku “Encyclopaedia Britannica” sebagai berikut:
Muḥammad ibn ʿAbd al-Wahhāb
====================
Muḥammad ibn ʿAbd al-Wahhāb, (born 1703, ʿUyaynah, Arabia [now in Saudi Arabia]—died 1792, Ad-Dirʿīyah), theologian and founder of the Wahhābī movement, which attempted a return to the “true” principles of Islam.
Having completed his formal education in the holy city of Medina, in Arabia, ʿAbd al-Wahhāb lived abroad for many years. He taught for four years in Basra, Iraq, and in Baghdad he married an affluent woman whose property he inherited when she died. In 1736, in Iran, he began to teach against what he considered to be the extreme ideas of various exponents of Sufi doctrines. On returning to his native city, he wrote the Kitāb at-tawḥīd (“Book of Unity”), which is the main text for Wahhābī doctrines. His followers call themselves al-Muwaḥḥidūn, or “Unitarians”; the term Wahhābī is generally used by non-Muslims and opponents.
ʿAbd al-Wahhāb’s teachings have been characterized as puritanical and traditional, representing the early era of the Islamic religion. He made a clear stand against all innovations (bidʿah) in Islamic faith because he believed them to be reprehensible, insisting that the original grandeur of Islam could be regained if the Islamic community would return to the principles enunciated by the Prophet Muhammad. Wahhābī doctrines, therefore, do not allow for an intermediary between the faithful and Allah and condemn any such practice as polytheism. The decoration of mosques, the cult of saints, and even the smoking of tobacco were condemned.
When the preaching of these doctrines led to controversy, ʿAbd al-Wahhāb was expelled from ʿUyaynah in 1744. He then settled in Ad-Dirʿīyah, capital of Ibn Saʿūd, a ruler of the Najd (now in Saudi Arabia).
The spread of Wahhābīsm originated from the alliance that was formed between ʿAbd al-Wahhāb and Ibn Saʿūd, who, by initiating a campaign of conquest that was continued by his heirs, made Wahhābīsm the dominant force in Arabia since 1800.
Artinya:
———-
Muhammad bin ʿAbd al-Wahhab, (lahir 1703 M / 1115 H, ʿUyaynah, Saudi [sekarang Arab Saudi]-meninggal 1792 M/1206 H, Ad-Dirʿ iyah), seorang teolog dan pendiri gerakan Wahhabi, yang berusaha kembali kepada prinsip-prinsip Islam yang “benar”.
Setelah menyelesaikan pendidikan formalnya di kota suci Madinah, di Arabia, ʿ Abd al-Wahhab tinggal di luar negeri selama bertahun-tahun. Dia mengajar selama empat tahun di Basra, Irak, dan di Baghdad ia menikahi seorang wanita kaya yang memiliki properti yang ia warisi ketika wanita itu meninggal. Pada tahun 1736, di Iran, ia mulai mengajar dan menentang terhadap apa yang dia anggap sebagai gagasan ekstrim dari berbagai ajaran Sufi. Ketika kembali ke kota asalnya, ia menulis sebuah kitab at-Tauhid (“Kitab tentang Keesaan Allah”), yang merupakan teks utama bagi Doktrin Wahhabi. Para pengikutnya menyebut diri mereka sebagai al-Muwaḥḥidūn, atau “Unitarian”, yaitu istilah Wahhabi yang biasa digunakan oleh non-Muslim dan lawan-lawannya.
Ajaran ʿAbd al-Wahhab dikarakteristikkan sebagai ajaran yang bersifat puritan dan tradisional, seperti pada masa permulaan agama Islam. Di dalam akidah Islam dia dengan terang-terangan menentang segala seauatu yang berbau bid’ah (innovasi). Dia berkeyakinan bahwa semua bid’ah itu tercela (sesat). Dia bersikeras mengatakan bahwa kemegahan murni Islam bisa diraih kembali jika masyarakat Islam kembali kepada ajaran-ajaran sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad. Olehkarena itu, doktrin Wahhabi tidak mengakui adanya perantara (tawassul) antara keyakinan terhadap sesuatu dan Allah, dan mengutuk setiap praktek yang berbau syirik (politheisme). Dekorasi masjid, ziarah ke makam-makam orang suci (seperti Nabi, waliyullah, orang shaleh dsb), dan merokok pun dikutuknya.
Ketika dia berkhutbah mengajarkan tentang doktrin-doktrin ini yang mengarah kepada kontroversi, ʿAbd al-Wahhab diusir dari ʿUyaynah pada tahun 1744. Kemudian, dia menetap di ad-Dir’ iyah, ibukota Ibnu Saʿud, penguasa Najd (sekarang Arab Saudi).
Penyebaran Wahhabisme berasal dari aliansi yang dibentuk antara Ibn Abd al-Wahhab dan Ibn Saʿud, yang dengan tegas dia mengkampanyekan penaklukan yang kemudian dilanjutkan oleh ahli warisnya, sehingga menjadikan Wahhabisme sebagai kekuatan dominan di Arabia sejak tahun 1800.

Sebarkan Kebaikan Sekarang
loading...

Avatar

KH. Thobary Syadzily has written 70 articles

Beliau adalah Cicit dari Syaikh Nawawi Banten yang sangat gigih berdakwah untuk Islam Ahlusunnah Waljamaah

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>