Ngaji Bid’ah Dari Ulama’ Salaf

MADZHAB MALIKI

 

  1. Imam al Hafizh Muhammad bin Ahmad al Qurthubi

Al Qurthubi berkata menanggapi ucapan ucapan Imam Syafi’i tentang pembagian bidah:

قُلْتُ: وَهُوَ مَعْنَى قَوْلِهِ صلى الله عليه وسلم فِي خُطْبَتِهِ: (وَشَرُّ اْلاُمُورِ مُحْدَثَاتُهاَ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ) يُرِيدُ مَا لَمْ يُوَافِقْ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً، أَوْ عَمَلَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ، وَقَدْ بَيَّنَ هذَا بِقَوْلِهِ: (مَنْ سَنَّ فِي اْلاِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي اْلاِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ). وَهذَا إِشَارَةٌ إِلَى مَا ابْتُدِعَ مِنْ قَبِيحٍ وَحَسَنٍ، وَهُوَ أَصْلُ هذَا اْلبَابِ، وَبِاللهِ اْلعِصْمَةُ وَالتَّوْفِيقُ، لاَ رَبَّ غَيْرُهُ.

“Saya katakan bahwa makna Hadits Nabi SAW yang berbunyi ‘Seburuk-buruk perkara adalah hal yang baru. Semua hal yang baru adalah Bidah, dan semua Bid’ah adalah sesat’ maksudnya hal-hal yang tidak sejalan dengan al Qur an, Sunnah Rasul SAW dan perbuatan Sahabat Rasul SAW.

Sesungguhnya hal ini telah diperjelas oleh Hadits lainnya, yaitu “Barangsiapa membuat-buat satu gagasan yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun dari pahalanya. Dan barangsiapa membuat gagasan yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya.”. Hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai terbaginya Bid’ah pada Bid’ah yang baik dan Bid’ah yang sesat”.(Tafsir Imam al Qurthubi  2/87)

 

  1. Imam Ibnu Abdil Barr.

Imam Abu Umar Yusuf bin Abdil Barr an Namiri al Andalusi, ahli hadits dan ahli fiqih bermadzhab Maliki. Beliau membagi bid’ah menjadi dua. Hal ini dapat kita lihat dengan memperhatikan pernyataan beliau:

وَأَماَّ قَوْلُ عُمَرَ نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ فِيْ لِسَانِ الْعَرَبِ اِخْتِرَاعُ مَا لَمْ يَكُنْ وَابْتِدَاؤُهُ فَمَا كَانَ مِنْ ذَلِكَ فِي الدِّيْنِ خِلاَفاً لِلسُّنَّةِ الَّتِيْ مَضَى عَلَيْهَا الْعَمَلُ فَتِلْكَ بِدْعَةٌ لاَ خَيْرَ فِيْهَا وَوَاجِبٌ ذَمُّهَا وَالنَّهْيُ عَنْهَا وَاْلأَمْرُ بِاجْتِنَابِهَا وَهِجْرَانُ مُبْتَدِعِهَا إِذَا تَبَيَّنَ لَهُ سُوْءُ مَذْهَبِهِ وَمَا كَانَ مِنْ بِدْعَةٍ لاَ تُخَالِفُ أَصْلَ الشَّرِيْعَةِ وَالسُّنَّةِ فَتِلْكَ نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ.

“Adapun perkataan Umar, sebaik-baik bidah, maka bid’ah dalam bahasa Arab adalah menciptakan dan memulai sesuatu yang belum pernah ada. Apabila bid’ah tersebut dalam agama menyalahi sunnah yang telah berlaku, maka itu bid’ah yang tidak baik, wajib mencela dan melarangnya, menyuruh menjauhinya dan meninggalkan pelakunya apabila telah jelas keburukan alirannya. Sedangkan bid’ah yang tidak menyalahi dasar syariat dan sunnah, maka itu sebaik-baik bidah.” (Al Istidzkar, 5/152).

 

  1. Al Hafizh Ibnul Arabi al Maliki.

Imam al Qadhi Abu Bakar Ibnul ‘Arabi al Maliki, seorang ahli hadits, pakar tafsir dan ahli fiqih madzhab Maliki, juga membagi bid’ah menjadi dua bagian. Dalam kitabnya ‘Aridhat al Ahwadzi Syarh Jami’ at Tirmidzi, 10/146-147, beliau berkata:

اِعْلَمُوا عَلَّمَكُمُ اللهُ أَنَّ اْلمُحْدَثَاتِ عَلىَ قِسْمَيْنِ : مُحْدَثٍ لَيْسَ لَهُ أَصْلٌ إِلاَّ الشَّهْوَةَ وَاْلعَمَلَ بِمُقْتَضَى اْلإِرَادَةِ ، فَهَذَا بَاطِلٌ قَطْعًا. وَمُحْدَثٍ بِحَمْلِ النَّظِيرِ عَلَى النَّظِيرِ، فَهذِهِ سُنَّةُ الْخُلَفَاءِ ، وَاْلأَئِمَّةِ الْفُضَلاَءِ، وَلَيْسَ اْلمُحْدَثُ وَاْلبِدْعَةُ مَذْمُومًا لِلَفْظ مُحْدَثٍ وَبِدْعَةٍ وَلاَ لِمَعْنَاهَا، فَقَدْ قَالَ تَعَالَى ) مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ مُحْدَثٍ ( وَقَالَ عُمَرُ:نِعْمَتِ اْلبِدْعَةُ هَذِهِ وَإِنَّمَا يُذَمُّ مِنَ اْلبِدْعَةِ مَا خَالَفَ السُّنَّةَ ، وَيُذَمُّ مِنَ اْلمُحْدَثَاتِ مَا دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ وَمُخَالَفَةِ السُّنَّةِ وَأَمَّا مَا كَانَ مَرْدُودًا إِلَى قَوَاعِدِ اْلأُصُولِ وَمَبْنِيًّا عَلَيْهَا فَلَيْسَ بِدْعَةً وَلاَ ضَلاَلَةً

“Ketahuilah, semoga Allah memberikan pengajaran kepada kalian, bahwa Bid’ah (al-muhdatsah) itu ada dua macam: Pertama, setiap perkara baru yang diadakan yang tidak memiliki landasan agama, melainkan mengikut hawa nafsu sesuka hati, ini adalah batil secara pasti. Kedua, perkara baru yang diadakan namun sejalan dengan apa yang sudah disepakati, ini (bukan batil melainkan adalah)  jalan para Khulafa’urrasyidin dan para Imam besar.

Hal baru (muhdats) dan bid’ah tidak tercela hanya karena ia bernama ‘hal baru’ atau bid’ah bukan pula karena maknanya. Allah SWT berfirman:

مَا يَأْتِيْهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ مُحْدَثٍ

“Tidak datang kepada mereka suatu ayat al-Qur`an pun yang baru (muhdats) dari Tuhan mereka” (QS. al-Anbiya`: 2).

Dan perkataan Sayyidina `Umar RA: “Alangkah bagusnya bid’ah ini!” Yang tercela dari bid’ah hanya yang bertentangan dengan sunah. Dan hal baru yang tercela adalah yang mengajak kepada kesesatan dan menentang sunah. Adapun apa yang ada dalam naungan kaidah-kaidah ushul dan didasari padanya maka itu bukanlah bid’ah dan bukan pula termasuk kesesatan.

 

  1. Imam Muhammad az Zarqoni al Maliki

Imam Az Zarqoni dalam  kitabnya, Syarah Muwatho (1/238) menjelaskan ucapan sayidina Umar نِعْمَتِ اْلبِدْعَةُ هذِهِ :   

فَسَمَّاهَا بِدْعَةً لِأَنَّهُ صلى اللّه عليه وسلم لَمْ يَسُنَّ اْلاِجْتِمَاعَ لَهَا وَلاَ كَانَتْ فِي زَمَانِ الصِّدِّيقِ، وَهِيَ لُغَةً مَا أُحْدِثَ عَلَى غَيْرِ مِثَالٍ سَبَقَ وَتُطْلَقُ شَرْعًا عَلَى مُقَابِلِ السُّنَّةِ وَهِيَ مَا لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِهِ صلى اللّه عليه وسلم ، ثُمَّ تَنْقَسِمُ إِلَى اْلأَحْكَامِ اْلخَمْسَةِ. انتهى

Beliau (Sayidina Umar) menamakan tarawih (20 rakaat dengan 1 imam) dengan bid’ah karena tidak pernah dibuat di zaman Nabi SAW dan Sayidina Abu Bakar ra. Adapun bid’ah secara bahasa : perkara baru yang dibuat tanpa ada contoh sebelumnya. Bid’ah menurut istilah syariat adalah lawan dari sunnah, yaitu yang tidak ada di zaman Nabi SAW, kemudian bid’ah itu terbagi menjadi hukum yang lima (wajib, sunnah, makruh, haram dan mubah).

  1. Syeikh Ahmad Bin Yahya al Wansyarisi al Maliki

Al Wansyarisi dalam kitabnya al-Mi’yar al Muarrob juz 1 hal 357-358 menyatakan:

“وَأَصْحَابُنَا وَإِنِ اتَّفَقُوا عَلى إِنْكَارِ اْلِبدَعِ فِي الْجُمْلَةِ فَالتَّحْقِيقُ الْحـَقُّ عِنْدَهُمْ أَنَّهَا خَمْسَةُ أَقْسَامٍ”، ثُمَّ ذَكَرَ اْلأَقْسَامَ الْخَمْسَةَ وَأَمْثِلَةً عَلَى كُلِّ قِسْمٍ ثُمَّ قَالَ: “فَاْلحَقُّ فيِ اْلبِدْعَةِ إِذَا عُرِضَتْ أَنْ تُعْرَضَ عَلَى قَوَاعِدِ الشَّرْعِ فَأَيُّ اْلقَوَاعِدِ اقْتَضَتْهَا أُلْحِقَتْ بِـهَا، وَبَعْدَ وُقُوفِكَ عَلىَ هذَا التَّحْصِيلِ وَالتَّأْصِيلِ لاَ تَشُكَّ أَنَّ قَوْلَهُ صلى الله عليه وسلم:” كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ”، ِمنَ اْلعَامِّ الْمَخْصُوصِ كَمَا صَرَّحَ بِهِ اْلأَئِمَّةُ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ”.اهـ

Sahabat-sahabat kami walaupun mereka sepakat mengingkari bid’ah secara global namun mereka mentahqiq pembagiannya. Kemudian beliau menyebutkan lima bagian dan contoh di setiap bagian dan berkata : “Sejatinya dalam hal bid’ah apabila disandingkan dengan kaidah syariat maka mana saja kaidah yang cocok dengannya maka akan dihukumi dengan kaedah tersebut. Setelah engkau mengetahui kesimpulan dan hukum asalnya maka jangan ragu lagi bahwasanya sabda Nabi SAW “Kullu bid’atin dhalalah” termasuk kata “umum yang dikhususkan” seperti yang dijelaskan oleh para imam radhiyallahu anhum.

 

  1. Imam al Qarafi al Maliki

Dalam Anwar al-Buruq fi Anwa’ al-Furuq (popular disebut al-Furuq), Imam Qarafi membagi bid’ah menjadi lima, disertai dengan standar dan contoh:

وَالْحَقُّ التَّفْصِيلُ، وَأَنَّهَا خَمْسَةُ أَقْسَامٍ) قِسْمٌ) وَاجِبٌ، وَهُوَ مَا تَتَنَاوَلُهُ قَوَاعِدُ الْوُجُوبِ وَأَدِلَّتُهُ مِنْ الشَّرْعِ كَتَدْوِينِ الْقُرْآنِ وَالشَّرَائِعِ إذَا خِيفَ عَلَيْهَا الضَّيَاعُ )الْقِسْمُ الثَّانِي) : مُحَرَّمٌ، وَهُوَ بِدْعَةٌ تَنَاوَلَتْهَا قَوَاعِدُ التَّحْرِيمِ وَأَدِلَّتُهُ مِنْ الشَّرِيعَةِ كَالْمُكُوسِ… وَتَوْلِيَةِ الْمَنَاصِبِ الشَّرْعِيَّةِ مَنْ لَا يَصْلُحُ لَهَا بِطَرِيقِ التَّوَارُثِ
)الْقِسْمُ الثَّالِثُ) مِنْ الْبِدَعِ مَنْدُوبٌ إلَيْهِ، وَهُوَ مَا تَنَاوَلَتْهُ قَوَاعِدُ النَّدْبِ وَأَدِلَّتُهُ مِنْ الشَّرِيعَةِ كَصَلَاةِ التَّرَاوِيحِ )الْقِسْمُ الرَّابِعُ) بِدَعٌ مَكْرُوهَةٌ، وَهِيَ مَا تَنَاوَلَتْهُ أَدِلَّةُ الْكَرَاهَةِ مِنْ الشَّرِيعَةِ وَقَوَاعِدُهَا كَتَخْصِيصِ الْأَيَّامِ الْفَاضِلَةِ أَوْ غَيْرِهَا بِنَوْعٍ مِنْ الْعِبَادَاتِ )الْقِسْمُ الْخَامِسُ) الْبِدَعُ الْمُبَاحَةُ، وَهِيَ مَا تَنَاوَلْته أَدِلَّةُ الْإِبَاحَةِ وَقَوَاعِدُهَا مِنْ الشَّرِيعَةِ كَاِتِّخَاذِ الْمَنَاخِلِ لِلدَّقِيقِ
القرافي, الفروق )أنوار البروق في أنواء الفروق( 4/ 202-204

Yang benar ada perincian (dalam masalah bid’ah). Bid’ah terbagi menjadi lima jenis:

  1. Jenis yang wajib yaitu yang masuk dalam kaidah wajib dan dalil wajib dari syariat seperti penyusunan al Quran dan hukum-hukum syariat ketika dikhawatirkan akan terbengkalai.
  2. Jenis yang haram yakni bid’ah berada dalam naungan kaidah haram dan dalil keharaman dari syariat seperti cukai, memberikan jabatan syariat melalui jalur turun temurun kepada orang yang tidak layak.
  3. Jenis ketiga bid’ah yang sunah, yaitu yang berada dalam naungan kaidah-kaidah sunah dan dalil-dalilnya dari syariat seperti shalat tarawih (berjamaah dalam satu imam).
  4. Jenis keempat bid’ah makruh yakni yang tercakup dalam dalil-dalil makruh dari syariat dan kaidah-kaidahnya seperti mengkhususkan hari-hari utama atau lainnya dengan satu jenis ibadah.
  5. Jenis yang mubah, yakni yang dicakup dalil-dalil mubah dan kaidah-kaidahnya dari syariat seperti membuat ayakan tepung. (al Buruq fi anwa`il Furuq, 4/202-204)

 

  1. Ibnu `Asyur

Ahli Tafsir Ibnu Asyur al Maliki dalam tafsirnya menjelaskan ketika menerangkan ayat:

وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا فَآَتَيْنَا الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْهُمْ أَجْرَهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik.” (QS al Hadid: 27)

وَفِيهَا حُجَّةٌ لِانْقِسَامِ اْلبِدْعَةِ إِلى مَحْمُودَةٍ وَمَذْمُومَةٍ بِحَسَبِ انْدِرَاجِهَا تَحْتَ نَوْعٍ مِنْ أَنْوَاعِ الْمَشْرُوعِيَّة فَتَعْتَرِيهَا اْلأَحْكَامُ الْخَمْسَةُ كَمَا حَقَّقَهُ الشِّهَابُ الْقَرَافِي وَحُذَّاقُ اْلعُلَمَاءِ . وَأَمَّا الَّذِينَ حَاوَلُوا حَصْرَهَا فِي الذَّمِّ فّلّمْ يَجِدُوا مَصْرفاً . وَقَدْ قَالَ عُمَرُ لَمَّا جَمَعَ النَّاسَ عَلَى قَارِىءٍ وَاحِدٍ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ (نِعْمَتِ اْلبِدْعَةُ هَذِهِ ) .

Dalam ayat ini terdapat dalil atas terbaginya bid’ah kepada yang baik dan yang tercela sesuai dengan tercakupnya ia di bawah naungan jenis-jenis perbuatan yang disyariatkan. Maka bid’ah diliputi oleh hukum yang lima sebagaimana telah ditahqiq oleh As Syihab al Qorofi dan para ulama yang cerdas. Adapun orang-orang yang berusaha membatasi bid’ah pada yang tercela saja mereka tidak menemukan jalan keluar. Sungguh Sayidina Umar telah berkata ketika mengumpulkan manusia dalam satu imam saat tarawih “Inilah sebaik-baiknya bidah.” (Tafsir At Tahrir wat Tanwir hal 4318)

  1. Imam Ibnu al Haj al Maliki

Dalam kitab al Madkhal, Ibnul Haj al Maliki mengatakan:

إنَّ الْبِدَعَ قَدْ قَسَّمَهَا الْعُلَمَاءُ عَلَى خَمْسَةِ أَقْسَامٍ : بِدْعَةٌ وَاجِبَةٌ وَهِيَ مِثْلُ كَتْبِ الْعِلْمِ فَإِنَّهُ لَمْ يَكُنْ مِنْ فِعْلِ مَنْ مَضَى لِأَنَّ الْعِلْمَ كَانَ فِي صُدُورِهِمْ وَكَشَكْلِ الْمُصْحَفِ وَنَقْطِهِ . الْبِدْعَةُ الثَّانِيَةُ : بِدْعَةٌ مُسْتَحَبَّةٌ قَالُوا : مِثْلُ بِنَاءِ الْقَنَاطِرِ وَتَنْظِيفِ الطُّرُقِ لِسُلُوكِهَا وَتَهْيِئِ الْجُسُورِ وَبِنَاءِ الْمَدَارِسِ وَالرُّبُطِ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ .الْبِدْعَةُ الثَّالِثَةُ : وَهِيَ الْمُبَاحَةُ كَالْمُنْخُلِ وَالْأشْنَانِ وَمَا شَاكَلَهُمَا .الْبِدْعَةُ الرَّابِعَةُ : وَهِيَ الْمَكْرُوهَةُ مِثْلُ الْأَكْل عَلَى الْخوَانِ وَمَا أَشْبَهَ .الْبِدْعَةُ الْخَامِسَةُ : وَهِيَ الْمُحَرَّمَةُ وَهِيَ أَكْثَرُ مِنْ أَنْ تَنْحَصِرَ .

Sesungguhnya bid’ah telah dibagi oleh ulama kepada lima jenis:

  1. Bid’ah yang wajib seperti menyusun fan-fan ilmu, karena itu tidak termasuk perbuatan orang terdahulu, sebab ilmu mereka terjaga dalam dada mereka. Termasuk dalam hal ini, mengharokati dan memberi titik dalam al Quran.
  2. Bid’ah yang sunnah, mereka mengatakan seperti membangun benteng-benteng, membersihkan jalan-jalan, membuat jembatan, membangun sekolah dan pesantren dan yang serupa dengannya.
  3. Bid’ah ketiga yang mubah seperti membuat ayakan, asynan (semacam pembersih) dan yang serupa dengannya.
  4. Bid’ah keempat yang makruh seperti makan di atas meja dan semisalnya.
  5. Bid’ah kelima yang haram dan itu terlalu banyak untuk disebutkan. (Al Madkhal juz 2/257)


Sebarkan Kebaikan Sekarang

Pages:

loading...

Santri Admin

Santri Admin has written 845 articles

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>