Membaca Qur’an Di kuburan Wali, SYIRIK?

BERTAWASUL DENGAN PARA WALI DI SAMPING KUBUR

● al-hafidz al-Khathib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad berkata : “ DARI Ubaidillah bin Abdurrahman bin Muhammad az-Zuhri, ia berkata :
” ﻗﺒﺮ ﻣﻌﺮﻭﻑٍ ﺍﻟﻜﺮﺧﻲ ﻣﺠﺮﺏ ﻟﻘﻀﺎﺀ ﺍﻟﺤﻮﺍﺋﺞ، ﻭﻳﻘﺎﻝ : ﺇﻧﻪ ﻣﻦ ﻗﺮﺃ ﻋﻨﺪﻩ ﻣﺎﺋﺔ ﻣﺮﺓٍ : } ﻗﻞ ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪ { ﻭﺳﺄﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻣﺎ ﻳﺮﻳﺪ ﻗﻀﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻪ ﺣﺎﺟﺘﻪ “.
“ Kubur Ma’ruf al-Kurkhi mujarrab untuk terlaksana hajat, dikatakan ;
Bahwa barangsiapa yang membaca di samping makamnya surat al-Ikhlash 100 kali dan memohon kepada Allah apa yang ia inginkan, maka Allah akan menunaikan hajatnya “.

● Abu Jakfar al-Hasyimi, syaikh Hanabilah (W 470 H) ketika wafat dan dimakamkan di samping makam imam Ahmad, maka banyak kaum Hanabilah yang membaca al-Quran di samping makamnya bahkan hingga khatam 10.000 kali. Lihat siyar a’lam an-Nubala : 18/547

● Jadi selain kami membaca al-Quran di masjid, maka kami pun juga membaca al-Quran di manapun seperti rubath, mushollah, di rumah, di toko, di pasar, di rumah sakit, di hotel atau di pekuburan. Dan kami juga bertawassul dan berdoa di sisi makam orang-orang sholeh. Karna makam orang sholeh termasuk tempat diijabahi doa oleh Allah, sebagaimana banyak dikatakan oleh ulama di antaranya al-Hafidz al-Jazri dalam kitabnya Hishnul Hashin :
ﻣﻦ ﻣﻮﺍﺿﻊ ﺇﺟﺎﺑﺔ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻗﺒﻮﺭ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ
“ Di antara tempat-tempat pengabulan doa, adalah makam-makam orang-orang shalih “.
● Al-Khatib al-Baghdadi dalam Tarikhnya berkata dari Abi Abdillah al-Mahamili bahwa ia berkata :
ﺃﻋﺮﻑ ﻗﺒﺮ ﻣﻌﺮﻭﻑٍ ﺍﻟﻜﺮﺧﻲ ﻣﻨﺬ ﺳﺒﻌﻴﻦ ﺳﻨﺔً، ﻣﺎ ﻗﺼﺪﻩ ﻣﻬﻤﻮﻡ ﺇﻻ ﻓﺮﺝ ﺍﻟﻠﻪ ﻫﻤﻪ
“ Aku tahu makam Ma’ruf AL-Kurkhi sejak 70 tahun, tidaklah seorang yang susah mendatanginya, kecuali Allah melapangkan kesusahannya “.

● Al-Khatib berkata dari Hasan bin Ibrahim al-Khallal, bahwa beliau berkata :
ﻣﺎ ﻫﻤﻨﻲ ﺃﻣﺮ ﻓﻘﺼﺪﺕ ﻗﺒﺮ ﻣﻮﺳﻰ ﺑﻦ ﺟﻌﻔﺮٍ ﻓﺘﻮﺳﻠﺖ ﺑﻪ ﺇﻻ ﺳﻬﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻟﻲ ﻣﺎ ﺃﺣﺐ
“ Tidaklah ada satu perkara yang membuatku susah, lalu aku datang ke makam Musa bin Jakfar, kemudian aku bertawassul dengannya, maka Allah akan memudahkan apa yang aku inginkan

Apa yang dilakukan oleh para ulama’ bukanlah sebuah kesyirikan karena menurut aqidah ahlussunnah wal jama’ah bertawasul dg Nabi,dan para wali adalah hal yang diperbolehkan, karena inti dari bertawasul adalah do’a meminta kepada Allah dengan memakai perantara bukan meminta kepada orang yang ditawasuli, hal ini sesuai dengan dalil berikut :

■ Di dalam tafsir al qurtubi dalam menafsirkan ayat:
ﻭَﻟَﻮْ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﺇِﺫْ ﻇَﻠَﻤُﻮﺍ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻬُﻢْ ﺟَﺎﺀُﻭﻙَ ﻓَﺎﺳْﺘَﻐْﻔَﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺍﺳْﺘَﻐْﻔَﺮَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝُ ﻟَﻮَﺟَﺪُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺗَﻮَّﺍﺑًﺎ ﺭحيما
( surat an-nisa’ 64)”

Abu Sholih meriwayatkan dari ‘ali beliau berkata : telah datang kepada kami seorng badui setelah 3 hari rasulullah dikebumikan dia tersungkur di kubur rasul dan menaburkan debu kuburan rasul di kepalanya dan berkata : aku berkata ya rasulullah kami telah dengar perkataanmu dan engkau telah sampaikan perkataan tersebut dari Allah dan kami juga sampaikan itu darimu dan telah turun ayat : walau annahum idz dzolamu anfusahum jaa uka …
( al-ayat) , sungguh aku telah mendzolimi diriku dan aku datang kepadamu lalu apakah kau memintakan ampun untukku? Maka terdengarlah suara dari kubur :” (bahwasanya sungguh Allah telah mengampunimu )”

Sumber dr kitab inhaful adzkiya’ bi jawazi at tawassul bil anbiya’ wal auliya’ karangan syeikh abdullah shiddiq al hasani.
Imam ibnu katsir juga menafsirkan dengan hadist yang sama.

■ Syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab yang dianggap sebagai orang yang mengasaskan “Wahhabi” berkata dalam kitabnya, seperti dalam “Ad Durar As Saniyyah” dan “Rasail Syakhshiyyah”, sebagaimana yang dikumpulkan oleh al Habib Muhammad bin Alawi al Maliki dalam beberapa bukunya:

إِنَّ إِشَاعَةَ الْبُهْتَانِ بِمَا يَسْتَحْيِ الْعَاقِلُ أَنْ يَحْكِيَهُ فَضْلاً عَنْ أَنْ يَفْتَرِيَهُ مِمَّا قُلْتُمْ: أَنَّنِيْ أُكَفِّرُ جَمِيْعَ النَّاسِ إِلاَّ مَنِ اتَّبَعَنِيْ، وَيَا عَجَباً كَيْفَ يَدْخُلُ هَذَا فِي عَقْلِ عَاقِلٍ، وَهَلْ يَقُوْلُ هَذَا مُسْلِمٌ ؟.
وَمَا قُلْتُمْ: لَوْ أَنَّنِيْ أَقْدِرُ عَلَى هَدْمِ قُبَّةِ النَّبِيِّ خ لَهَدَمْتُهَا، وَفِي دَلاَئِلِ الْخَيْرَاتِ وَحَرَّمْتُهُ، وَأَنْهَى عَنِ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ خ بِأَيِّ النَّظْمِ كَانَ، فَهَذَا مِنَ الْبُهْتَانِ، وَالْمُسْلِمُ لاَ يَظُنَّ مِنْ قَلْبِهِ أَجَلَّ مِنْ كِتَابِ الله.
“Sesungguhnya menyebarkan berita bohong itu adalah sesuatu yang harusnya membuat seorang yang berakal malu apalagi menciptakannya, di antara yang kalian katakan aku mengkafirkan manusia seluruhnya kecuali yang mengikutiku, heran sekali bagaimana mungkin hal seperti ini bisa masuk dipikiran orang yang berakal normal, apakah pantas ucapan ini dilontarkan seorang muslim?
Yang kalian katakan bahwa aku jikalau mampu menghancurkan Qubbah Nabi غ maka pasti aku akan menghancurkannya, bahwa aku mengharamkan membaca kitab Dalailul Khoirat, melarang bersholawat kepada Nabi dengan sholawat apapun, ini semua adalah berita fitnah dan seorang muslim tidaklah pandas menilai sesuatu diluar yang diajarkan al Qur’an.”

Beliau juga mengatakan:

وَماَ قُلْتُمْ: أَنَّنِيْ أُكَفِّرُ مَنْ تَوَسَّل بِالصَّالِحِيْنَ، وَأُكَفِّرُ الْبُوْصِيْرِيّ لِقَوْلِهِ: يَا أَكْرَمَ الْخَلْقِ، وَأُنْكِرُ زِيَارَةَ قَبْرِ النَّبِيِّ خ، وَأُنْكِرُ زِيَارَةَ قُبُوْرِ الْوَالِدَيْنِ وَغَيْرِهِمْ، وَأُكَفِّرُ مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ.َ
جَوَابِي عَلَى ذَلِكَ أَقُوْلُ: سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيْمٌ

“Yang kalian anggap bahwa aku mengkafirkan orang yang bertawassul dengan orang-orang sholeh, aku mengkafirkan al Bushiri karena ucapannya (dalam Burdah) “Wahai makhluk yang paling mulia..”, aku mengingkari kebolehan ziarah Nabi dan ziarah kubur kedua orang tua dan lainnya, aku mengkafirkan orang yang bersumpah dengan selain Allah, maka jawabanku untuk itu semua adalah: “Subhanallah, ini adalah fitnah yang besar.”

Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Fatwanya di kitab “Majmu’atul Muallafat” yang disebarkan oleh University Imam Muhammad bin Su’ud:

سُئِلَ الشَّيْخُ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ عَنْ قَوْلِهِمْ فِي اْلاِسْتِسْقَاءِ:
( لَا بَأْسَ بِالتَّوَسُّلِ بِالصَّالِحِيْنَ ) وَقَوْلِ أَحْمَدَ: (يَتَوَسَّلُ بِالنَّبِيِّ خ خَاصَّةً ) مَعَ قَوْلِهِمْ: إِنَّهُ لاَ يُسْتَغَاثُ بِمَخْلُوْقٍ) ؟
فَقَالَ: فَالْفَرْقُ ظَاهِرٌ جِدًّا، وَلَيْسَ الْكَلاَمُ مِمَّا نَحْنُ فِيْهِ، فَكَوْنُ بَعْضٍ يُرَخِّصُ بِالتَّوَسُّلِ بِالصَّالِحِيْنَ، وَبَعْضُهُمْ يَخُصُّهُ بِالنَّبِيِّ خ وَأَكْثَرُ الْعُلَمَاءِ يَنْهِى عَنْ ذَلِكَ وَيُكْرِهُهُ، فَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ مِنْ مَسَائِلِ الْفِقْهِ، وَإِنْ كَانَ الصَّوَابُ عِنْدَنَا قَوْلُ الْجُمْهُوْرِ مِنْ أَنَّهُ مَكْرُوْهٌ، فَلاَ نُنْكِرُ عَلَى مَنْ فَعَلَهُ، وَلاَ إِنْكاَرَ فِي مَسَائِلِ اْلاِجْتِهَادِ، وَلَكِنْ إِنْكَارُنَا عَلَى مَنْ دَعَا لِمَخْلُوْقٍ أَعْظَمَ مِمَّا يَدْعُو اللهَ تَعَالَى وَيَقْصُدُ الْقَبْرَ يَتَضَرَّعُ عِنْدَ ضَرِيْحِ الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ أَوْ غَيْرِهِ يَطْلُبُ فِيْهِ تَفْرِيْجَ الْكُرُبَاتِ وَإِغَاثَةَ اللَّهْفَاتِ وَإِعْطَاءَ الرَّغَبَاتِ، فَأَيْنَ هَذَا مِمَّنْ يَدْعُو اللهَ مُخْلِصاً لَهُ الدِّيْنَ لاَ يَدْعُو مَعَ اللهِ أَحَداً وَلَكِنْ يَقُوْلُ فِي دُعَائِهِ: أَسْأَلُكَ بِنَبِيِّكَ أَوْ بِالْمُرْسَلِيْنَ أَوْ بِعِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ، أَوْ يَقْصُدُ قَبْراً مَعْرُوْفاً أَوْ غَيْرَهُ يَدْعُوْ عِنْدَهُ، لَكِنْ لاَ يَدْعُوْ إِلاَّ اللهَ مُخْلِصاً لَهُ الدِّيْنَ فَأَيْنَ هَذَا مِمَّا نَحْنُ فِيْهِ.

Syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab ditanya terhadap maksud ucapan para ulama dalam bab Istisqo: “Boleh bertawassul dengan orang sholeh,” dan maksud ucapan imam Ahmad Bertawassul hanya dengan Nabi غ saja,” juga ucapan ulama: “Tidak boleh meminta tolong kepada makhluk.”

Maka Syeikh menjawab: “Bedanya tiga ungkapan itu jelas sekali, dan pembicaraan kita bukan masalah ini sebenarnya. Kenyataan bahwa sebagian ulama menilai bertawassul dengan orang sholeh itu boleh, sebagian ulama lainnya hanya membolehkannya khusus dengan Nabi غ dan ulama kebanyakannya melarang tawassul dan memakruhkannya. Masalah tawassul ini adalah masalah fikih, sekalipun menurut kami yang benar adalah pendapat jumhur yang menganggapnya makruh, maka kami tidak akan mengingkari orang yang melakukan tawassul dan tidak boleh ingkar terhadap masalah-masalah ijtihad (khilafiyah). Pengingkaran dari kami adalah terhadap orang yang menyeru makhluk lebih besar dari pada Allah, Ta’ala, dia mendatangi kuburan untuk mengadu kepada Syeikh Abdul Qodir Jailani atau yang lainnya, dia meminta kepada mereka diberikan jalan terhadap berbagai kesengsaraan, meminta tolong atas berbagai kesulitan dan minta diberi apa yang dia harapkan, maka ini jauh sekali dengan orang yang berdoa ikhlas kepada Allah yang tidak meminta kepada selain Allah, justeru yang dia katakan adalah:
أَسْأَلُكَ بِنَبِيِّكَ أَوْ بِالْمُرْسَلِيْنَ أَوْ بِعِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ

“Aku memohon kepada-Mu dengan Nabi-Mu (atau) dengan para Rasul (atau) dengan hamba-hamba-Mu yang sholeh…”
Atau dia mendatangi kubur yang dikenal (kesholehannya) atau yang lainnya dan berdoa di sana, namun dia tidak berdoa kecuali hanya kepada Allah semata, maka ini jauh sekali dari yang telah kami sebutkan sebelumnya.”

■ Imam al-Hafidz adz-Dzahabi berpendapat sebagai berikut :

ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﻋﻠﻲ ﺍﻟﻐﺴﺎﻧﻲ : ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﻔﺘﺢ ﻧﺼﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺴﻜﺘﻲ ﺍﻟﺴﻤﺮﻗﻨﺪﻱ : ﻗﺪﻡ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺑﻠﻨﺴﻴﺔ ﻋﺎﻡ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﻭﺳﺘﻴﻦ ﻭﺃﺭﺑﻊ ﻣﺌﺔ . ﻗﺎﻝ : ﻗﺤﻂ ﺍﻟﻤﻄﺮ ﻋﻨﺪﻧﺎ ﺑﺴﻤﺮﻗﻨﺪ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﺍﻻﻋﻮﺍﻡ، ﻓﺎﺳﺘﺴﻘﻰ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﺮﺍﺭﺍ، ﻓﻠﻢ ﻳﺴﻘﻮﺍ . ﻓﺄﺗﻰ ﺭﺟﻞ ﺻﺎﻟﺢ ﻣﻌﺮﻭﻑ ﺑﺎﻟﺼﻼﺡ ﺇﻟﻰ ﻗﺎﺿﻲ ﺳﻤﺮﻗﻨﺪ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ : ﺇﻧﻲ ﺭﺃﻳﺖ ﺭﺃﻳﺎ ﺃﻋﺮﺿﻪ ﻋﻠﻴﻚ . ﻗﺎﻝ : ﻭﻣﺎ ﻫﻮ ؟ ﻗﺎﻝ : ﺃﺭﻯ ﺃﻥ ﺗﺨﺮﺝ ﻭﻳﺨﺮﺝ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻌﻚ ﺇﻟﻰ ﻗﺒﺮ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ، ﻭﻗﺒﺮﻩ ﺑﺨﺮﺗﻨﻚ، ﻭﻧﺴﺘﺴﻘﻲ ﻋﻨﺪﻩ، ﻓﻌﺴﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﺴﻘﻴﻨﺎ . ﻗﺎﻝ : ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ : ﻧﻌﻢ ﻣﺎ ﺭﺃﻳﺖ .
ﻓﺨﺮﺝ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﻭﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻌﻪ، ﻭﺍﺳﺘﺴﻘﻰ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ، ﻭﺑﻜﻰ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻘﺒﺮ، ﻭﺗﺸﻔﻌﻮﺍ ﺑﺼﺎﺣﺒﻪ، ﻓﺄﺭﺳﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﺑﻤﺎﺀ ﻋﻈﻴﻢ ﻏﺰﻳﺮ، ﺃﻗﺎﻡ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﺃﺟﻠﻪ ﺑﺨﺮﺗﻨﻚ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﺃﻭ ﻧﺤﻮﻫﺎ، ﻻ ﻳﺴﺘﻄﻴﻊ ﺃﺣﺪ ﺍﻟﻮﺻﻮﻝ ﺇﻟﻰ ﺳﻤﺮﻗﻨﺪ ﻣﻦ ﻛﺜﺮﺓ ﺍﻟﻤﻄﺮ ﻭﻏﺰﺍﺭﺗﻪ، ﻭﺑﻴﻦ ﺧﺮﺗﻨﻚ ﻭﺳﻤﺮﻗﻨﺪ ﻧﺤﻮ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻣﻴﺎﻝ .
Dan telah berkata Abu ‘Aliy Al-Ghassaaniy : Telah mengkhabarkan kepada kami Abul-Fath Nashr bin Al-Hasan As-Sakatiy As-Samarqandiy : “Kami datang dari negeri Valencia (Spanyol) pada tahun 464 H. Selama beberapa tahun hujan tidak turun pada kami di negeri Samarqand. Orang-orang melakukan istisqaa’ (shalat meminta hujan) beberapa kali, namun hujan tidak juga turun. Maka, seorang laki-laki shalih yang dikenal dengan keshalihannya mendatangi qaadly negeri Samarqand. Ia berkata : “Sesungguhnya aku mempunyai satu pendapat yang hendak aku sampaikan kepadamu”. Qaadliy berkata : “Apa itu ?”. Ia berkata : “Aku berpandangan agar engkau keluar bersama orang-orang menuju kubur Al-Imaam Muhammad bin Ismaa’iil Al-Bukhaariy. Makam beliau ada di Kharantak. Lalu kita melakukan istisqaa’ di sisi kuburnya, semoga Allah menurunkan hujan kepada kita”. Qaadliy berkata : “Ya, aku setuju”.
Maka, sang Qaadliy pun keluar dan diikuti oleh orang-orang bersamanya. Qaadliy tersebut melakukan istisqaa’ bersama orang-orang. Orang-orang menangis di sisi kubur dan meminta syafa’at kepada penghuni kubur (Al-Imaam Al-Bukhaariy). Setelah itu, Allah ta’ala mengutus awan yang membawa hujan sangat lebat. Orang-orang tinggal di Kharantak selama kurang lebih tujuh hari. Tidak seorang pun yang dapat pulang ke Samarqand karena derasnya hujan yang turun. Jarak antara Kharantak dan Samarqand sekitar tiga mil” [ Siyaru A’laamin-Nubalaa’ , 12/469].

Kisah yang dibawakan oleh adz-Dzahabi dan as-Subki sanad periwayatannya sahih, riwayat ini telah disebutkan sendiri oleh al-Hafidz Abu Ali al-Ghassani dalam kitabnya Taqyid al-Muhmal wa Tamyiz al-Musykal.

Sayyidah Aisyah رضي الله عنها menganjurkan tawassul dan tabarruk di makam Nabi ﷺ.

Al-Imam al-Darimi meriwayatkan dalam kitabnya :
باب ما أكرم الله تعالى نبيه بعد موته

حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مَالِكٍ النُّكْرِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو الْجَوْزَاءِ أَوْسُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قُحِطَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ قَحْطًا شَدِيدًا فَشَكَوْا إِلَى عَائِشَةَ فَقَالَتْ انْظُرُوا قَبْرَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاجْعَلُوا مِنْهُ كِوًى إِلَى السَّمَاءِ حَتَّى لَا يَكُونَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّمَاءِ سَقْفٌ قَالَ فَفَعَلُوا فَمُطِرْنَا مَطَرًا حَتَّى نَبَتَ الْعُشْبُ وَسَمِنَتْ الْإِبِلُ حَتَّى تَفَتَّقَتْ مِنْ الشَّحْمِ فَسُمِّيَ عَامَ الْفَتْق

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’man telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Zaid telah menceritakan kepada kami Umar bin Malik An Nukri telah menceritakan kepada kami Abu Al Jauza` Aus bin Abdullah, ia berkata: “Suatu hari penduduk Madinah dilanda kekeringan yang sangat hebat, dan saat itu mereka mengadu kepada Aisyah Radliyallahu’anha, kemudian ia berkata: “Pergilah ke kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, buatlah lubang ke arah langit dan jangan sampai ada atap diantaranya dengan langit. Kemudian Abu Al Jauza` melanjutkan kisahnya: ” kemudian masyarakat Madinah melakukan apa yang diperintahkan Aisyah Radliyallahu’anha, setelah itu, turunlah hujan dan rerumputan pun tumbuh dan ternak-ternak menjadi sehat. Karenanya tahun tersebut disebut dengan tahun kemenangan/kesuburan”.

Sebarkan Kebaikan Sekarang

Pages:

loading...

Ustadz M. Hasan Hasbullah

Ustadz M. Hasan Hasbullah has written 78 articles

pelayan ilmu asli keturunan madura yang lahir di jakarta tahun 1985,punya nama asli Muntahal A'la pernah menimba ilmu di pon-pes Al-Fatah temboro,karas magetan pimpinan K.H.Uzairon Thaifur Abdillah th.1997-2006 lalu melanjutkan kembali ke ma'had 'aly Az-Zein kp.pulekan ciampea Bogor pimpinan As-Syeikh Muhammad nuruddin Marbu Al-banjary Al-Makky th.2006-2010.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>