Membaca Qur’an Di kuburan Wali, SYIRIK?

Mengenai baca al-qur’an disamping kuburan para ulama’ menyunnahkan membaca al-qur’an disamping kuburan, pendapat ini merupakan pendapat mayoritas ulama’ madzhab hanafi, syafi’i dan hambali pendapat mayoritas para ulama’ sesuai dengan banyak sekali dalil yang menerangkan tentang hal tersebut, diantaranya ;

1. Imam az-Zabidi menyebutkan di dalam kitab “ithaf” hadist dari saydina anas RA bahwa nabi SAW bersabda :
اذا دخل المقابر فقرا فيها يس خفف عنهم يومىءذ وكان له بعددهم حسنات
Artinya : siapa yang masuk perkuburan lalu membaca surat “yaasin” maka akan diringankan siksa untuk mereka (penghuni kubur) dan bagi orang tersebut pahala sesuai jumlah penghuni perkuburan.

2. Para ulama’ madzhab as-syafii berpendapat : disunnahkan membaca apa saja dari al-qur’an.

3. Imam Qolyubi berkata : yang diriwayatkan dari ulama’ salaf adalah membaca surat al-ikhlas sebanyak sebelas kali, dan pahalanya dihadiahkan ke penghuni kuburan, maka dia akan mendapat pahala sesuai jumlah yang berkubur disana.

4.yang dimaksud oleh Imam Qolyubi adalah hadist yang diriwayatkan oleh Imam khollaf dalam “fadhoil surratil ikhlas” no 53 dari saydina Ali RA, Nabi SAW bersabda :
من مر على المقابر وقرا قل هوالله احد احدى عشرة مرة ثم وهب اجره للاموات اعطي من الاجر بعدد الاموات
Artinya : siapa yang melewati perkuburan dan membaca qul huwallahu ahad (surat al-ikhlas) 11 kali kemudian pahalanya dihadiahkan kepada orang yang meninggal maka dia akan diberi pahala sejumlah orang yang meninggal .

5. Hafidz syamsuddin al-maqdisi al-hambali menyebutkan beberapa hadist diantaranya;
من دخل المقابر ثم قرا فاتحة الكتاب وقل هوالله احد والهاكم التكاثر ثم قال اني جعلت ثواب ما قرات من كلامك لاهل المقابر من المؤمنين والمؤمنات شفعاء له الي الله تعالي
Artinya : siapa yang memasuki perkuburan kemudian membaca fatihatul kitab (surat fatehah) dan qulhuwallahu ahad (surat al ikhlas) dan alhaakumut takatsur (surat attakatsur) lalu mengatakan : aku jadikan pahala yang kubaca dari firmanmu untuk para penghuni kubur dari mukminin dan mukminat maka mereka semua akan menjadi penolong baginya kepada Allah.

Kemudian beliau berkata semua hadist” ini meskipun lemah tetapi kesimpulan dari hal ini adalah membaca al-qur’an di dekat kuburan mempunyai landasan hukum yang kuat. Ditambah lagi kaum muslimin disetiap generasi dan disetiap tempat selalu berkumpul dan membaca al-qur’an untuk orang yang telah meninggal tanpa ada ulama’ yang mengingkarinya, hal ini sudah seperti ijma’.

6. Imam ibnu Abidin berkata : bacalah yang mudah seperti al-fatehah, awal surat al-baqarah hingga “muflihun”, ayat kursi, “aamanarrosul”, yaasin, tabarok, at-takatsur dan al-ikhlas dua belas kali,sebelas, tujuh atau tiga kali.

7. Al-buhuty berkata menurut imam samiri : di kepala kubur membaca pembuka surat al-baqarah sedangkan di kaki kubur bacalah akhir surat al-baqarah.

8. Didalam kitab “al-mausuah al-fiqhiyah al-kuwaitiyah” disebutkan bahwa di dalam kitab ibnu abidin, syarah shoghir, syarah bahjah, dan ghoyatul muntaha disebutkan bahwa menurut madzhab hanafi tidak dimakruhkan membawa makanan ke kuburan pada waktu tertentu, membuat undangan untuk membaca al-qur’an bersama, mengumpulkan orang-orang sholeh dan para qori’ untuk khataman al-qur’an atau untuk membaca surat al-an’am dan al-ikhlas.
9
. ﺍﻣﺎ ﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ ﻓﻘﺪ ﺫﻫﺒﻮﺍ ﺃﻟﻰ ﻛﺮﺍﻫﺔ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ علي ﺍﻟﻘﺒﺮ ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﺪﺭﺩﻳﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻊ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ : ﺍﻟﻤﺘﺄﺧﺮﻭﻥ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻻ ﺑﺄﺱ ﺑﻘﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻔﺮﺁﻥ ﻭﺍﻟﺬﻛﺮ ﻭﺟﻌﻞ ﺛﻮﺍﺑﻪ ﻟﻠﻤﻴﺖ ﻭﻳﺤﺼﻞ ﻟﻪ ﺍﻻﺟﺮ ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ
Ulama’ malikiyah memang memakruhkan membaca al-qur’an disamping kuburan namun menurut Imam Dardir para ulama’ mutaakhirin dalam madzhab maliki tidak memakruhkannya.

10. Prof dr. Ali jum’ah :

ﻭﺍﻟﺨﻼﻑ ﻓﻰ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﺿﻌﻴﻒ ﻭﻣﺬﻫﺐ ﻣﻦ ﺍﺳﺘﺤﺐ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺍﻥ ﻭﺃﺟﺎﺯﻫﺎ ﻫﻮ ﺍﻻﻗﻮﻯ ﺣﺘﻰ ﺇﻥ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺭﺃﻯ ﺃﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﺇﺟﻤﺎﻉ ﻭﺻﺮﺣﻮﺍ ﺑﺬﺍﻟﻚ ﻭﻣﻤﻦ ﺫﻛﺮ ﻫﺬﺍ ﺍﻻﺟﻤﺎﻉ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺇﺑﻦ ﻗﺪﺍﻣﺔ ﺍﻟﻤﻘﺪﺳﻰ ﺍﻟﺤﻨﺒﻠﻰ ﺣﻴﺚ ﻗﺎﻝ : ﻭﺃﻱ ﻗﺮﺑﺔ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﻭﺟﻌﻞ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﻟﻠﻤﻴﺖ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﻧﻔﻌﻪ ﺫﺍﻟﻚ ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ – ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ – ﻗﺎﻝ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﻭﺇﺫﺍ ﻗﺮﺉ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﺃﻭ ﺃﻫﺪﻯ ﺇﻟﻴﻪ ﺛﻮﺍﺑﻪ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺜﻮﺍﺏ ﻟﻘﺎﺭﺋﻪ ﻭﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻛﺄﻧﻪ ﺣﺎﺿﺮﻫﺎ ﻓﺘﺮﺟﻰ ﻟﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﺔ ﻭﻟﻨﺎ ﻣﺎ ﺫﻛﺮﻧﺎﻩ ﻭﺃﻧﻪ ﺇﺟﻤﺎﻉ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻓﺎﻧﻬﻢ ﻓﻰ ﻛﻞ ﻋﺼﺮ ﻭﻣﺼﺮ ﻳﺠﺘﻤﻌﻮﻥ ﻭﻳﻘﺮﺀﻭﻥ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﻳﻬﺪﻭﻥ ﺛﻮﺍﺑﻪ ﺇﻟﻰ ﻣﻮﺗﺎﻫﻢ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻧﻜﻴﺮ . ﺇﻫــ
Khilaf pada masalah ini lemah. Pendapat golongan yang menyatakan sunat membaca al-quran dan membolehkannya adalah pendapat yang kuat, sehingga sebagian ulama berpendapat bahwa masalah ini merupakan masalah yang telah disepakati ulama(ijmak) dan mereka menerangkannya secara jelas.

Sebagian ulama yang menyebutkan ijma’ tersebut adalah Imam Ibnu Qudamah al-Muqaddisy al-Hanbali beliau berkata:
“Qurbah apapun yang dilakasanakan dan dijadikan pahalanya untuk mayit yang muslim atau dihadiahkan pahalanya kepada mayit niscaya pahalanya bisa sampai bagi orang yang membacanya dan adalah mayit seolah ada dihadapan sehingga diharapkan untuk mendapatkan rahmat. Pendapat kami adalah yang telah kami sebutkan. Dan hal ini merupakan kesepakatan kaum muslimin (ijmak) karena umat muslim pada setiap masa dan daerah berhimpun dan membaca al-quran serta menghadiahkan pahalanya kepada mayit tanpa ada orang yang mengingkarinya”.

11. Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
ﺍﻗﺮﺀﻭﺍ ﻳﺲ ﻋﻠﻰ ﻣﻮﺗﺎﻛﻢ
“Bacalah surat Yaasiin untuk orang yang mati di antara kamu.” (Riwayat Imam Abu Dawud; kitab Sunan Abu Dawud, Juz III, halaman 191)
Asy-syaukani berkomentar :
ﻭﺍﻟﻠﻔﻆ ﻧﺺ ﻓﻲ ﺍﻷﻣﻮﺍﺕ ﻭﺗﻨﺎﻭﻟﻪ ﻟﻠﺤﻲ ﺍﻟﻤﺤﺘﻀﺮ ﻣﺠﺎﺯ ﻓﻼ ﻳﺼﺎﺭ ﺇﻟﻴﻪ ﺇﻻ ﻟﻘﺮﻳﻨﺔ
“ Lafazd hadits tsb berkenaan pada mayit, mengarahkannya pada orang yang sekarat menjelang wafat adalah majaz, maka tidak boleh diarahkan ke sana kecuali ada qarinah “. (Nail al-Awthar : 2/679)
Al-Faqih al-Hanbali al-Ushuli al-Mutqin al-‘allamah Qadhi qudhah, Ibnu an-Najjar berkomentar :
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻳَﺸْﻤَﻞُ ﺍﻟْﻤُﺤْﺘَﻀَﺮَ ﻭَﺍﻟْﻤَﻴِّﺖَ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟﺪَّﻓْﻦِ ﻭَﺑَﻌْﺪَﻩُ , ﻓَﺒَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ ﺣَﻘِﻴﻘَﺔٌ , ﻭَﻗَﺒْﻠَﻪُ ﻣَﺠَﺎﺯٌ
“ Hadits tersebut mencangkup orang yang sekarat maupun sudah wafat, baik sebelum dimakamkan atau pun sudah dimakamkan. Setelah dimakamkan, maka itu adalah makna hadits secara hakikat (dhahir) dan sebelum dimakamkan, maka itu makna hadits secara majaz “ (Mukhtashar at-Tahrir syarh al-Kaukab al-Munir : 3/193)

12. Imam Nawawi berkata dalam Majmu’nya :
ﻭَﻳُـﺴْـﺘَﺤَﺐُّ ﻟِﻠﺰَّﺍﺋِﺮِ ﺍَﻥْ ﻳُﺴَﻠِّﻢَ ﻋَﻠﻰَ ﺍْﻟﻤَﻘَﺎﺑِﺮِ ﻭَﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺰُﻭْﺭُﻩُ ﻭَﻟِﺠَﻤِﻴْﻊِ ﺍَﻫْﻞِ ﺍْﻟﻤَﻘْﺒَﺮَﺓِ . ﻭَﺍْﻻَﻓْﻀَﻞُ ﺍَﻥْ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻭَﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﺑِﻤَﺎ ﺛَﺒـَﺖَ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻭَﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَﻘْﺮَﺃَ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺃٰﻥِ ﻣَﺎ ﺗَﻴَﺴَّﺮَ ﻭَﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﻘِﺒَﻬَﺎ ﻭَﻧَﺺَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺸَّﺎِﻓﻌِﻰُّ ﻭَﺍﺗَّﻔَﻖَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍْﻻَﺻْﺤَﺎﺏُ
“Dan disunnahkan bagi peziarah kubur untuk memberikan salam atas (penghuni) kubur dan mendo’akan kepada mayit yang diziarahi dan kepada semua penghuni kubur, salam dan do’a itu akan lebih sempurna dan lebih utama jika menggunakan apa yang sudah dituntunkan atau diajarkan dari Nabi Muhammad Saw. dan disunnahkan pula membaca al-Qur’an semampunya dan diakhiri dengan berdo’a untuknya, keterangan ini dinash oleh Imam Syafi’i (dalam kitab al-Um) dan telah disepakati oleh pengikut-pengikutnya”. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, V/258)

Keterangan :
Lihatlah hadist Rasulullah SAW!
Lihatlah pendapat para ulama’ dari 4 madzhab tidak ada satupun dari mereka yang menghukumi syirik terhadap pembacaan Al-qur’an disamping kuburan.
Apakah anda lebih faham dari oada mereka?

Sebarkan Kebaikan Sekarang

Pages:

loading...

Ustadz M. Hasan Hasbullah

Ustadz M. Hasan Hasbullah has written 78 articles

pelayan ilmu asli keturunan madura yang lahir di jakarta tahun 1985,punya nama asli Muntahal A'la pernah menimba ilmu di pon-pes Al-Fatah temboro,karas magetan pimpinan K.H.Uzairon Thaifur Abdillah th.1997-2006 lalu melanjutkan kembali ke ma'had 'aly Az-Zein kp.pulekan ciampea Bogor pimpinan As-Syeikh Muhammad nuruddin Marbu Al-banjary Al-Makky th.2006-2010.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>