Jawaban Terhadap Majalah Wahabi ‘AL-FURQON’ (Bagian 1)

jawaban terhadap majalah al-furqon

JAWABAN TERHADAP MAJALAH WAHABI AL-FURQON (Part 1)

 

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat kabar dari seorang teman yang tinggal di Makassar Sulawesi Selatan, bahwa ia melihat seorang Wahabi menulis bantahan terhadap buku saya, Membedah Bid’ah dan Tradisi dan Buku Pintar Berdebat Dengan Wahabi. Kemudian setelah teman tersebut, mengirim scan bantahan seorang Wahabi tersebut, ternyata yang menulis bantahan bernama Ustadz Abu Ahmad Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah, dan dimuat di Majalah Wahabi al-Furqan, Sidayu Gresik.

 

Setelah itu, kami berusaha menghubungi redaksinya, melalui no HP yang tertulis di dalamnya, untuk menghubungi penulis bantahan tersebut, ternyata mereka tidak pernah membalas SMS maupun menjawab call kami.

 

Setelah saya amati, bantahan Arif, ternyata dia tidak membantah dalil-dalil yang saya ajukan dalam buku tersebut. Ia hanya menulis pengertian hadits yang saya ajukan sesuai dengan pengertian Wahabi dan tidak mampu membantah maksud hadits yang dipahami oleh para ulama ahli hadits dan kaum Salaf. Oleh karena itu, tulisan ini akan mengomentari bantahan Arif yang Wahabi, dalam format dialog agar lebih mudah dipahami oleh pembaca.

 

WAHABI: “Bid’ah hasanah tidak ada. Karena agama telah sempurna, sebagaimana dalam firman Allah:

 

اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا

 

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan bagimu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepada kamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agamamu.” (QS al-Ma-idah : 3).

 

SUNNI: “Ayat di atas tidak menolak adanya bid’ah hasanah. Dalil bid’ah hasanah terdapat dalam al-Qur’an dan sekian banyak hadits, yang tidak Anda komentari dalam artikel lemah Anda. Para ulama salaf, tidak ada yang menafsirkan ayat tersebut, dengan makna menolak bid’ah hasanah seperti yang dipahami oleh penganut faham Wahabi. Dalam kitab tafsir al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bil-Ma’tsur, al-Hafizh al-Suyuthi mengutip banyak riwayat dari ulama salaf tentang ayat tersebut, semuanya berkisar antara menafsirkan, bahwa keimanan umat Islam telah sempurna, dan makna bahwa ibadah haji umat Islam telah sempurna, dengan ditaklukkannya Kota Mekkah dan dilarangnya kaum Musyrik menunaikan ibadah haji. (Lihat, al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi, al-Durr al-Mantsur, juz 5 hal. 181 dan seterusnya).”

 

WAHABI: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة

“Dan awaslah kalian dari perkara-perkara baru, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”

 

SUNNI: “Anda tidak menanggapi pemahaman para ulama ahli hadits dan kaum salaf terhadap hadits tersebut wahai Wahabi. Dalam hal ini al-Imam al-Hafizh al-Nawawi menyatakan:

 

قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ هَذَا عَامٌّ مَخْصُوْصٌ وَالْمُرَادُ غَالِبُ الْبِدَعِ. (الإمام الحافظ النووي، شرح صحيح مسلم، ٦/١٥٤).

“Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “semua bid’ah adalah sesat”, ini adalah kata-kata umum yang dibatasi jangkauannya. Maksud “semua bid’ah itu sesat”, adalah sebagian besar bid’ah itu sesat, bukan seluruhnya.” (al-Imam al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 6/154).

 

Oleh karena hadits “semua bid’ah itu sesat”, adalah redaksi general yang jangkauan hukumnya dibatasi, maka para ulama membagi bid’ah menjadi dua, bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah sayyi’ah (buruk). Lebih rinci lagi, bid’ah itu terbagi menjadi lima bagian sesuai dengan komposisi hukum Islam yang lima; wajib, sunnat, haram, makruh dan mubah. Berikut ini akan dikemukakan beberapa dalil tentang adanya bid’ah hasanah, dan bahwa tidak semua bid’ah itu sesat dan tercela. Dalam konteks ini, Syaikh Ibnu Taimiyah berkata:

 

وَمِنْ هُنَا  يُعْرَفُ  ضَلاَلُ  مَنِ ابْتَدَعَ طَرِيْقًا أَوِ اعْتِقَادًا زَعَمَ أَنَّ اْلاِيْمَانَ لاَ يَتِمُّ اِلاَّ بِهِ مَعَ الْعِلْمِ بِأَنَّ الرَّسُوْلَ صلى الله عليه وسلم لَمْ يَذْكُرْهُ، وَمَا خَالَفَ النُّصُوْصَ فَهُوَ بِدْعَةٌ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَمَا لَمْ يُعْلَمْ أَنَّهُ خَالَفَهَا فَقَدْ لاَ يُسَمَّى بِدْعَةً، قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ البِدْعَةُ بِدْعَتَانِ بِدْعَةٌ خَالَفَتْ كِتَابًا وَسُنَّةً وَإِجْمَاعًا وَأَثَرًا عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَهَذِهِ بِدْعَةُ ضَلاَلَةٍ وَبِدْعَةٌ لَمْ تُخَالِفْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهَذِهِ قَدْ تَكُوْنُ حَسَنَةً لِقَوْلِ عُمَرَ نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ هَذَا الْكَلاَمُ أَوْ نَحْوُهُ رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ بِاِسْنَادِهِ الصَّحِيْحِ فِي الْمَدْخَلِ. (الشيخ ابن تيمية، مجموع الفتاوى ۲٠/١٦٣).

 

“Dari sini dapat diketahui kesesatan orang yang membuat-buat cara atau keyakinan baru, dan ia berasumsi bahwa keimanan tidak akan sempurna tanpa jalan atau keyakinan tersebut, padahal ia mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyebutnya. Pandangan yang menyalahi nash adalah bid’ah berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin. Sedangkan pandangan yang tidak diketahui menyalahinya, terkadang tidak dinamakan bid’ah. Al-Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu berkata, “Bid’ah itu ada dua. Pertama, bid’ah yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan atsar sebagian sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini disebut bid’ah dhalalah. Kedua, bid’ah yang tidak menyalahi hal tersebut. Ini terkadang disebut bid’ah hasanah, berdasarkan perkataan Umar, “Inilah sebaik-baik bid’ah”. Pernyataan al-Syafi’i ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitab al-Madkhal dengan sanad yang shahih.” (Syaikh Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, juz 20, hal. 163).

WAHABI: “Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang melakukan suatu bid’ah dalam Islam yang dia anggap baik bid’ah tersebut, maka ia telah menuduh Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhianati risalah ini. Sebab Allah berfirman: ‘Pada hari ini telah Ku-sempurnakan bagimu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepada kamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agamamu.’ Oleh sebab itu, apa saja yang bukan merupakan agama pada hari itu, maka ia bukan termasuk agama pula hari ini.” (Al-Ihkam, Ibnu Hazm 6/225 dan al-I’tisham, al-Syathibi 1/64).”

 

SUNNI: “Pernyataan Imam Malik bin Anas di atas bukan pernyataan tegas bahwa bid’ah hasanah tidak ada. Karena dalam konsep madzhab beliau, bid’ah hasanah dimasukkan ke dalam Mashalih Mursalah. Sebagaimana dimaklumi, Istihsan dan Mashalih Mursalah termasuk sumber pengambilan hukum dalam madzhab Maliki. Sementara madzhab Syafi’iy, tidak mengakui keduanya sebagai sumber pengambilan hukum.

 

WAHABI: “Salaf yang shaleh sangat keras dalam melarang setiap kebid’ahan, sebagaimana dinukil dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata:

 

كل بدعة ضلالة وإن رأها الناس حسنة

“Setiap bid’ah adalah kesesatan walaupun dipandang oleh manusia sebagai sesuatu kebaikan.”

 

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ikutilah dan jangan berbuat bid’ah! Sebab, sungguh itu telah cukup bagi kalian. Dan ketahuilah bahwa setiap bid’ah adalah sesat.” (Ibnu Nashr: 28 dan Ibnu Wadhdhah: 17).

 

SUNNI: “Memahami perkataan seorang ulama, jangan sepotong-sepotong. Misalnya, perkataan Abdullah bin Umar, tentang bid’ah yang dianggap sesat oleh beliau, hal ini jelas hanya bid’ah sayyi’ah, bukan bid’ah yang hasanah. Karena beliau sendiri termasuk pelaku bid’ah hasanah. Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa doa talbiyah yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika menunaikan ibadah haji adalah:

 

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لكَ.

 

Tetapi Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma sendiri menambah doa talbiyah tersebut dengan kalimat:

 

لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ بِيَدَيْكَ لَبَّيْكَ وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ.

 

Hadits tentang doa talbiyah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tambahan Ibn Umar ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (2/170), Muslim (1184), Abu Dawud (1812) dan lain-lain. Menurut Ibn Umar, Sayidina Umar  radhiyallahu ‘anhu juga melakukan tambahan dengan kalimat yang sama sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim (1184). Bahkan dalam riwayat Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, Sayidina Umar menambah bacaan talbiyah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kalimat:

 

لَبَّيْكَ مَرْغُوْبٌ إِلَيْكَ ذَا النَّعْمَاءِ وَالْفَضْلِ الْحَسَنِ.

 

Sedangkan perkataan Sayyidina Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, yang melarang melakukan bid’ah, tentu harus kita artikan dengan bid’ah sayyi’ah. Sedangkan bid’ah hasanah, tidak termasuk dalam larangan beliau. Bukankah beliau telah berkata:

 

عن ابن مسعود قال فما رآه المسلمون حسنا فهو عند اللَّه حسن ، وما رآه المسلمون قبيحا فهو عند اللَّه قبيح

 

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Apa saja yang dianggap baik oleh umat Islam, maka hal tersebut baik menurut Allah. Dan apa saja yang dianggap buruk oleh umat Islam, maka hal tersebut buruk menurut Allah.” (HR. Ahmad dalam as-Sunnah, al-Bazzar, al-Thayalisi, al-Thabarani, Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya’, dan al-Baihaqi dalam al-I’tiqad. Menurut al-Hafizh al-Sakhawi, hadits ini mauquf yang hasan. Lihat, al-Sakhawi, al-Maqashid al-Hasanah, hadits no. 914).

 

Di sisi lain, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga mencontohkan bid’ah hasanah, dalam menyusun bacaan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Syaikh Ibnu Qayyim al-Jauziyah, murid terdekat Syaikh Ibnu Taimiyah, dan salah satu ulama otoritatif di kalangan kaum Wahabi, meriwayatkan beberapa redaksi shalawat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang disusun oleh para sahabat dan ulama salaf, dalam kitabnya Jala’ al-Afham fi al-Shalat wa al-Salam ‘ala Khair al-Anam shallallahu ‘alaihi wasallam. Antara lain shalawat yang disusun oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berikut ini:

 

اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَوَاتِكَ وَرَحْمَتَكَ وَبَرَكَاتِكَ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَإِمَامِ الْمُتَّقِيْنَ وَخَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ إِمَامِ الْخَيْرِ وَقَائِدِ الْخَيْرِ وَرَسُوْلِ الرَّحْمَةِ، اللَّهُمَّ ابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا يَغْبِطُهُ بِهِ اْلأَوَّلُوْنَ وَاْلآخِرُوْنَ. (الشيخ ابن القيم، جلاء الأفهام، ص/٣٦).

 

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa kaum salaf dan para sahabat tidak menolak hal-hal yang memang termasuk bid’ah hasanah dalam pandangan agama. Kalaupun ada pernyataan dari mereka yang melarang berbuat bid’ah, itu maksudnya bid’ah sayyi’ah atau bid’ah dalam akidah, seperti bid’ah ajaran Wahabi. Bid’ah ajaran Wahabi, adalah bid’ah yang sangat ditentang oleh kaum salaf.

 

WAHABI: “Penulis begitu antusias mengajak kaum muslimin kepada bid’ah sebagaimana tampak sekali di dalam perkataan-perkataannya:

 

1) Hlm. 16: “Hadits ini menunjukkan bolehnya membuat perkara baru dalam ibadah seperti shalat dan lainnya..”

2) Hlm. 21: “Hadits ini menunjukkan bolehnya membuat bid’ah hasanah dalam agama.”

 

SUNNI: “Apa yang ditulis oleh kami, hanya menyampaikan ajaran Islam yang dipahami oleh para ulama salaf dan ahli hadits. Anjuran memperbanyak bid’ah hasanah, ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:

 

عن جرير بن عبد الله -رضي الله عنه- قال قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «مَنْ سَنَّ فِي الإسلام سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِها بعْدَهُ كُتِب لَه مثْلُ أَجْر من عَمِلَ بِهَا وَلا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، ومَنْ سَنَّ فِي الإسلام سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وزر من عَمِلَ بِهَا ولا يَنْقُصُ من أَوْزَارهِمْ شَيْءٌ» رواه مسلم.

“Barangsiapa yang memulai perbuatan yang baik dalam Islam, maka dia mendapat pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi dari pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang memulai perbuatan yang jelek dalam Islam, maka ia akan menanggung dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi dari dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim).

 

Hadits di atas, merupakan dalil yang tegas dan jelas, agar kita memotivasi umat Islam untuk selalu melakukan bid’ah hasanah. Dalam konteks ini, al-Imam al-Nawawi berkata dalam Syarh Shahih Muslim, ketika mengomentari hadits tersebut:

 

قوله صلى اللـه عليه وسلم من سن في الإسلام سنة حسنة فله أجرها إلى آخره فيه الحث على الابتداء بالخيرات وسن السنن الحسنات والتحذير من اختراع الأباطيل والمستقبحات وفي هذا الحديث تخصيص قوله صلى اللـه عليه وسلم “كل محدثةٍ بدعة وكل بدعة ضلالة” وأن المراد به المحدثات الباطلة والبدع المذمومة ثم قال “والبدع خمسة أقسامٍ: واجبة ومندوبة ومحرمة ومكروهة ومباحة”انتهى أنظر شرح النووي لصحيح مسلم ج-6

“Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Barangsiapa yang memulai dalam Islam perbuatan yang baik, maka ia akan memperoleh pahalanya …” Hadits tersebut mengandung motivasi untuk memulai perbuatan-perbuatan kebaikan dan memulai perbuatan-perbuatan yang baik, serta peringatan agar menjaduhi memulai kebatilan-kebatilan dan perbuatan-perbuatan yang dianggap buruk. Dalam hadits ini juga ada pembatasan terhadap sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah tersesat”. Dan bahwa yang dimaksud dengan hadits tersebut adalah perkara-perkara baru yang batil dan bid’ah-bid’ah yang tercela.” … Bid’ah itu ada lima bagian; yaitu bid’ah wajib, mandub, haram, makruh dan mubah.” (Syarh Shahih Muslim, karya al-Imam an-Nawawi).

 

Demikianlah, dorongan kami kepada umat Islam agar menyebarkan dan memperbanyak bid’ah hasanah, semata-mata menyampaikan pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam hadits-hadits beliau, seperti yang dipahami oleh para ulama ahli hadits, bukan pemahaman kaum Wahabi.

 

WAHABI: “Ketidaktahuan penulis terhadap Sunnah Taqririyah dan menganggapnya sebagai bid’ah hasanah. (Ustadz Arif, menulis panjang lebar tentang makna Sunnah, tetapi tidak menanggapi dalil-dalil kami serta pernyataan para ulama salaf dan ahli hadits tentang bid’ah).”

 

SUNNI: “Para ulama yang biasa membaca kitab-kitab hadits, akan memahami bahwa Sunnah-sunnah Taqririyah termasuk dalil-dalil bid’ah hasanah. Misalnya hadits shahih berikut ini:

 

عَنْ سَيِّدِنَا رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ رضي الله عنه قَالَ: كُنَّا نُصَلِّيْ وَرَاءَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ قَالَ (سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ) قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قاَلَ (مَنِ الْمُتَكَلِّمُ؟) قَالَ: أَنَا قاَلَ: «رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِيْنَ مَلَكًا يَبْتَدِرُوْنَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا». رواه البخاري (799) والنسائي (1016) وأبو داود (770) وأحمد (19018) وابن خزيمة (614).

 

“Rifa’ah bin Rafi’ radhiyallahu ‘anhu berkata: “Suatu ketika kami shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika beliau bangun dari ruku’, beliau berkata: “sami’allahu liman hamidah”. Lalu seorang laki-laki di belakangnya berkata: “rabbana walakalhamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih”. Setelah selesai shalat, beliau bertanya: “Siapa yang membaca kalimat tadi?” Laki-laki itu menjawab: “Saya”. Beliau bersabda: “Aku telah melihat lebih 30 malaikat berebutan menulis pahalanya”.

 

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (799), al-Nasa’i (1016), Abu Dawud (770), Ahmad (4/340) dan Ibn Khuzaimah (614).

 

Hadits atau sunnah taqririyah di atas termasuk dalil adanya bid’ah hasanah. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:

واستدل به على جواز إحداث ذكر في الصلاة غير مأثور اذا كان غير مخالف للمأثور وعلى جواز رفع الصوت بالذكر ما لم يشوش على من معه. (الحافظ ابن حجر، فتح الباري، 2/361).

“Hadits ini menjadi dalil bolehnya membuat dzikir baru yang tidak ma’tsur dalam shalat, apabila tidak menyalahi dzikir yang ma’tsur (datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam), dan bolehnya mengeraskan suara dalam bacaan dzikir selama tidak mengganggu orang lain.” (Al-Hafizh Ibnu Hajar, Fath al-Bari, juz 2 hal. 361).

 

Dari paparan di atas, jelas sekali, bahwa Sunnah Taqririyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, termasuk dalil bid’ah hasanah dalam shalat menurut al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani. Kalau Anda menolak pandangan beliau, karena mengikuti pendapat Syaikh Ibnu Baz atau Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, itu bagian dari hak Anda untuk taklid kepada mereka. Biarkan kami, umat Islam mengikuti al-Hafizh Ibnu Hajar, al-Imam al-Nawawi dan lain-lain. Tapi mana hujjah Anda???

 

Bersambung ….

 

Wassalam

Muhammad Idrus Ramli

Sebarkan Kebaikan Sekarang
loading...

ustadz Idrus Ramli

ustadz Idrus Ramli has written 142 articles

Aktivis Bahtsul Masail NU, Dewan Pakar ASWAJA Center PWNU Jawa Timur, dan Pengasuh Pondok Pesantren al-Hujjah, Jember dan Jambi