Inilah Hasil Bahtsul Masail Muktamar NU ke-33 di Jombang

D. KOMISI ORGANISASI
Beberapa perubahan dalam Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) NU hasil Komisi Organisasi:
1. Penambahan huruf latin “N” dan “U” pada logo resmi tulisan Arab “Nahdlatul Ulama”.
2. Tidak ada lagi Lajnah (kepanitiaan yang menangani kegiatan khusus dan spesifik) di kepengurusan yang akan datang. Guna lebih memperkuat dan mendayagunakan posisinya, Lajnah akan berubah menjadi Lembaga.
3. Badan Otonom:
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) akan menjadi salah satu badan otonom (BANOM) yang menaungi mahasiswa Nahdlatul Ulama.
Maksimal umur ketua/pengurus Ansor dan Fatayat adalah 40 tahun; PMII adalah 30 tahun; IPNU-IPPNU adalah 27 tahun.
4. SK Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) akan disahkan oleh Pengurus Cabang (PC), bukan lagi oleh Pengurus Wilayah (PW). Sementara SK PC tetap akan disahkan oleh Pengurus Besar (PB), setelah mendapatkan rekomendasi dari PW.
5. Pemilihan Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziyah:
Rais Syuriah di semua tingkat kepengurusan akan dipilih secara langsung melalui musyawarah mufakat oleh formatur yang disebut ahlul halli wal-‘aqdi. Kriteria ulama/kiai anggota ahlul halli wal-‘aqdi adalah beraqidah Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyyah, bersikap adil, alim, memiliki integritas moral, tawadhu’, berpengaruh, memiliki pengetahuan untuk memilih pemimpin, munadzdzim, dan muharrik, serta wara’ dan zuhud. Anggota ahlul halli wal-‘aqdi tingkat Pengurus Besar (PB) berjumlah: 9 orang, Pengurus Wilayah (PW): 7 orang, Pengurus Cabang (PC)/Pengurus Cabang Istimewa (PCI), Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC), Pengurus Ranting (PR) dan Pengurus Anak Ranting (PAR): 5 orang.
Calon Ketua Tanfidziyah di semua tingkat kepengurusan ditentukan oleh ahlul halli wal-‘aqdi bersama dengan Rais Syuriah terpilih.
(KH. Hilmy Muhammad PP Krapyak Yogyakarta)