Imsak Pun Dibidahkan Oleh Wahabi

Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani  di dalam kitab “Fathul Baari” tatkala mensyarah maksud hadits di atas antara lain menyatakan:-

“Dan Imam al-Qurthubi berkomentar:

“Padanya (yakni dalam kandungan hadits di atas) terdapat dalil bahwasanya berhenti dari sahur adalah sebelum terbitnya fajar….”

Jadi jelas dinyatakan oleh Imam al-Qurthubi bahwa berhenti sahur Rasulullah Saw. menurut hadits di atas adalah sebelum terbitnya fajar (qabla thulu`il fajri), yang mengisyaratkan bahwa tidaklah Rasulullah Saw. masih mengkonsumsi sahur sampai terbit fajar.

Selanjutnya Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani juga menyatakan bahwa:-

“Maka disamakan oleh Zaid bin Tsabit waktu yang demikian itu dengan ukuran pembacaan al-Quran sebagai isyarat bahwa waktu tersebut (yakni waktu senggang antara selesai sahur dan azan) adalah waktu untuk ibadah membaca al-Quran.”

Jadi bukanlah waktu itu untuk mengunyah makanan lagi, inilah yang dimaksudkan!

Al-’Allaamah Badruddin al-’Ayni  di dalam kitab “‘Umdatul Qari” yang juga merupkan syarah Sahih Bukhari menyatakan:-

“Hadits Zaid bin Tsabit menunjukkan  bahwasanya selesai daripada sahur adalah sebelum fajar dengan kadar pembacaan 50 ayat.”

Beliau juga menulis:-

“Bahwasanya padanya (yakni pada hadits Zaid tersebut) mengakhirkan sahur sehingga tinggal waktu antara azan dan makan sahur itu kadar pembacaan 50 ayat… maka dari situ ianya menunjukkan bahwasanya mereka (Nabi Saw. dan sahabat) menyegerakan bersahur dan berhenti sehingga tinggal (waktu) antara mereka dan fajar sekitar selama waktu yang dibutuhkan tersebut.”

Artinya Rasul Saw. dan sahabat berhenti bersahur sebelum terbit fajar sekitar selama waktu yang dibutuhkan untuk membacaan 50 ayat dan mereka tidaklah mengundurkan sahur sehingga terbitnya fajar shadiq.

Imam an-Nawawi di dalam kitab “Syarah Muslim” tatkala mensyarahkan hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Bakar bin Abu Syaibah yang kandungannya hampir sama dengan hadits Imam al-Bukhari di atas dengan perbedaannya bahwa dalam lafaz al-Bukhari dinyatakan “berapa kadar waktu antara azan dan sahur” dan dalam hadits Muslim juga  digunakan “berapa kadar waktu antara keduanya”, menyatakan:-

“… padanya (yakni dalam hadits tersebut) terkandung anjuran untuk mengakhirkan sahur beberapa saat sebelum terbit fajar”, ( yakni kita dianjurkan untuk mengakhirkan makan sahur beberapa saat sebelum terbitnya fajar shadiq.

Perhatikanlah, dengan berdasarkan pemahaman terhadap hadits di atas yang berasal dari perbuatan Rasul Saw. ulama berpendapat bahwa adanya waktu imsak yang menjadi sunnah untuk menyelesaikan makan sahur (yakni bagi yang telah bersahur) sebelum fajar shadiq terbit.

Ijtihad ulama mazhab Syafi`i seperti yang disebutkan oleh Al-’Allaamah Sayyid ‘Abdullah al-Jurdani di dalam kitab “Fathul ‘Allam bi syarhi Mursyidil Anaam” volume 4 halaman 59 menyebutkan:-

“Telah berkata Imam ar-Ramli seperti (kata) Imam Ibnu Hajar setelah kedua orang itu menyebutkan hadits Zaid bin Tsabit tersebut: “

Dan padanya (yakni terkandung dalam hadits tersebut) dalil bahwa sunnah untuk mengakhirkan sahur. Yaitu yang afdhalnya adalah diakhirkannya sahur tersebut sehingga berhenti darinya (selesai dari bersahur) dan malam masih tersisa (masih belum terbit fajar shodiq) selama waktu yang dibutuhkan untuk (pembacaan) 50 ayat.

Pendapat Habib Umar bin Hafidz,

Pertanyaan:

Banyak orang yg makan sampai waktu adzan tiba, yaitu ia tidak berimsak kecuali tatkala mendengar adzan. Apakah hal ini diperbolehkan atau dia wajib berimsak sebelumnya?

Jawaban:

Tidak diragukan lagi bahwa ber-imsak itu lebih afdhal. Selama belum terbitnya fajar diperbolehkan baginya untuk makan apa yang dikehendakinya. Akan tetapi berhati-hati dengan imsak sebelum azan dengan (untuk menjaga) satu jangka masa adalah baik. Apabila seseorang sampai fajar telah terbit lalu dia makan dan minum, kemudian ternyata perbuatannya itu (yakni makan/minumnya tadi) terjadi setelah terbit fajar, maka berdosalah dia dan wajib atasnya untuk berpuasa sehari sebagai ganti puasanya hari tersebut (yakni apabila nyata bahwa dia telah makan dan minum setelah fajar terbit, maka dia berdosa dan wajib qadha).

Oleh karena itu, maka berhati-hati itu lebih utama dan yang sedemikian itu telah diambil oleh para ulama berdasarkan yang disebutkan di dalam hadits yang mulia:

“Berapa masa antara sahur s.a.w. dan sholat ? Dijawabnya : Sekadar 50 ayat. 50 ayat dikadarkan dengan seperempat jam atau sepertiga, atas sekurang-kurangnya. Oleh karena itu, imsak sebelum fajar dengan seperempat jam atau sepertiga jam adalah awla dan ahwath (terlebih utama dan terlebih berhati-hati).

Oleh karena Ihtiyath (berhati-hati) yang bisa dilakukan oleh seorang muslim dalam masalah imsak itu sangat luas dan ia bisa dipersempit oleh seseorang itu atas dirinya menurut kehendaknya, seperti dilaksanakannya puasa untuk satu hari secara sempurna itu dengan dimulai menahan pada hari itu sebelum habis waktu boleh makan dan minum tersebut (yakni sebelum tiba fajar hari tersebut) sekitar  10 atau 15 menit (sebagai ihtiyath bagi dirinya untuk mendapatkan kesempurnaan puasa satu hari tersebut). Karena menyeret  dirinya dalam keraguan untuk penentuan yang sedemikian adalah satu keburukan dalam berhubungan dengan Allah al-Jabbar Swt.. Bahkan semestinya dia berihtiyath sebelum fajar, maka berimsaklah dia sebelum fajar. Dan pada Maghrib, sedemikian juga dia berihtiyath (berhati-hati) untuk tidak berbuka sehingga diyakini terbenamnya matahari. Wa billahit tawfiq.

Sebarkan Kebaikan Sekarang

Pages:

loading...

Santri Admin

Santri Admin has written 847 articles

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>