Imsak Pun Dibidahkan Oleh Wahabi

Hal yang disepakati oleh ulama adalah:

  1. Setiap muslim wajib mulai menahan dari segala yang membatalkan puasa sejak terbit fajarshadiq (saat masuknya waktu shalat Subuh.
  2. Seorang muslim yang masih makan/minum saat fajar shadiq telah terbit, maka puasanya tidak sah, tapi ia tetap wajib menahan pada hari tersebut dan puasa di hari itu diganti (qadhai)
  3. Seorang muslim wajib menahan diri dari segala yang membatalkan puasa dan menjauhkan dirinya dari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.  Dan ia boleh mengkonsumsi makanan sampai sebelum terbit fajar, apabila:
    1. Yakin bahwa fajar belum masuk, atau
    2. Dipastikan dengan informasi dari orang yang bisa dipercaya (tsiqah) bahwa masih ada waktu untuk boleh makan/minum, atau
    3. Berpedoman kepada ijtihad.

Jikalau ada yang makan dan minum tanpa pertimbangan 3 hal diatas, kemudian terbukti bahwa ia makan dan minum saat fajar TELAH terbit, maka puasanya batal dan ia WAJIB mengganti (qadha`) puasa hari itu. Sama halnya dengan saat berbuka puasa. Apabila sudah berbuka sedangkan mereka tidak melalui 3 proses di atas, kemudian terbukti bahwa mereka telah berbuka di saat matahari BELUM terbenam, maka puasa mereka batal dan mereka WAJIB mengganti (qadha`) di hari lain.

4. Rasul saw. dan para sahabat sudah berhenti mengkonsumsi sesuatu pada saat sahur sekitar 10-15 menit sebelum terbitnya fajar shadiq. Akan ada pembahasan tentang ini lebih rinci di bawah.

5. Seorang yang mulai menahan sejak sebelum terbit fajar, tidak berdosa dan tidak merusak kepada puasanya.

6. Filosofi dasar dalam beribadah lebih didominasi oleh prinsip ihtiyath (kehati-hatian) dalam melaksanakannya.

Realita yang tidak bisa dipungkiri adalah:

  1. Tidak semua umat mengetahui fajar shadiq dan fajar kadzib. Dan tidak semua umat yang bisa membedakannya.
  2. Tidak semua umat yang bisa melihat jam dan atau mendengar azan/isyarat sudah mulai menahan dengan mudah. Bisa jadi karena mereka tinggal di pedalaman, karena jauh dari masjid, karena tidak masuk listrik, dll..

Titik perdebatan

Imsakiyah ini tidak ada di zaman Rasul Saw. dan di zaman sahabat (salaf sholeh).

 

Apa manfaat imsakiyah?

Imsakiyah memang tidak ada di zaman Rasul Saw. dan sahabat, akan tetapi dari penjelasan di atas dan realita yang kita temui serta pengalaman yang sudah dialami oleh mayoritas kaum muslimin, imsakiyah sangat membantu, seperti:

  1. Membantu seorang muslim untuk mengetahui waktu shalat, waktu imsak (ketika berpuasa), dan waktu syuruq (matahari terbit)
  2. Membantu seorang muslim untuk mengukur waktu yang mereka butuhkan untuk persiapan pelaksanaan sahur dan berbuka.
  3. Menghidari kesalahan dalam penetapan waktu yang menyebabkan batalnya pelaksanaan ibadah mereka; puasa dan shalat.
  4. Lebih hati-hati untuk mengakhiri sahur dan memulai berbuka puasa.
  5. Dll.

Perspektif imsak menurut ilmu Falak

Waktu imsak adalah waktu tertentu sebelum shubuh, saat kapan biasanya seseorang mulai berpuasa. Mengenai waktu imsak ada yang berpendapat 15 menit, 10 menit, dan ada yang menggunakan 18 menit dan 20 menit sebelum fajar shodiq yang merupakan awal waktu shubuh dan juga awal berpuasa. Dalam hal ini  para ahli astronomi berbeda pendapat mengenai irtifa’ (ketinggian matahari) fajar shadiq yang pada waktu itu dibawah ufuq (horizon) ada yang berpendapat  -18,-19,dan -20.

Fenomena ini dalam astronomi disebut dengan Twilight, fenomena ini muncul dibawah horizon sampai matahari terbit pada pagi hari atau setelah matahari terbenam pada sore hari. Pada waktu itu cahaya kemerahan di langit sebelah timur sebelum matahari terbit, yaitu saat matahari menuju terbit pada posisi jarak zenith 108 derajad di bawah ufuq sebelah timur[7]. Dalam Explanatory Supplemen to The Astronomical Almanac dijelaskan” this is caused by the scattering of sunlight from upper layer of the earth atmosphere. It begins at sunset (ends at sunrise) and is conventionally taken to end (or begin) when the center of the sun reaches an altitude of -18”. 

Fajar sendiri dibagi  menurut ahli astronomi dapat dibagi menjadi dua, yaitu fajar waktu pagi dan fajar waktu senja hari, secara fiqhi fajar dibagi menjadi dua juga yaitu fajar shodiq dan fajar kadzib, dalam hal ini K. Maisur mengatakan sebagaimana dijelaskan oleh ulama bahasa arab dan ulama fiqh:

وهو المنتشر ضوؤه معترضا ينواحى السماء. بخلاف الكاذب  فإنه يطلع مستطيلا ثمّ يذهب ويعتقبه ظلمة.وذالك قبل الصادق

Dalam ranah fiqih fajar dapat dibagi dua macam yaitu fajar shadiq dan fajar kadzib.

Fajar kadzib adalah fenomena cahaya kemerahan yang tampak dalam beberapa saat kemudian menghilang sebelum fajar shadiq, dalam dunia ilmu astronomi sering disebut Twilight False atau Zodiacal light, Fajar kadzib terjadi akibat hamburan cahaya matahari oleh debu-debu antar planet di ekliptika.

Sedangkan fajar shadiq adalah fenomena astronomical twilight yang muncul setelah fajar kadzib. Para Ahli Fiqih memberi gambaran bahwa fenomena fajar shadiq ketika mega putih (biyadh) dari horizon telah tampak dari arah timur, hal tersebut telah dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 187 dimana waktu melakukan puasa adalah ketika terbitnya fajar (fajar shadiq) sampai tenggelamnya matahari.

Sebarkan Kebaikan Sekarang

Pages:

loading...

Santri Admin

Santri Admin has written 847 articles

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>