Dear Teuku Wisnu, Ini Dalilnya Baca Al Fatihah Untuk Ahli Kubur

Sunnah Membaca Al Quran Di Kuburan

Imam al-Nawawi mengutip kesepakatan ulama Syafi’iyah tentang membaca al-Quran di kuburan:

وَيُسْتَحَبُّ (لِلزَّائِرِ) اَنْ يَقْرَأَ مِنَ الْقُرْآنِ مَا تَيَسَّرَ وَيَدْعُوَ لَهُمْ عَقِبَهَا نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ اْلاَصْحَابُ (المجموع شرح المهذب للشيخ النووي 5 / 311)

“Dan dianjurkan bagi peziarah untuk membaca al-Quran sesuai kemampuannya dan mendoakan ahli kubur setelah membaca al-Quran. Hal ini dijelaskan oleh al-Syafi’i dan disepakati oleh ulama Syafi’iyah” (al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab V/311)

Di bagian lain Imam Nawawi juga berkata:

قَالَ الشَّافِعِي وَاْلأَصْحَابُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْرَؤُوْا عِنْدَهُ شَيْئًا مِنَ اْلقُرْآنِ قَالُوْا فَإِنْ خَتَمُوْا الْقُرْآنَ كُلَّهُ كَانَ حَسَنًا (الأذكار النووية 1 / 162 والمجموع للشيخ النووي 5 / 294)

Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah berkata: Disunahkan membaca sebagian dari al-Quran di dekat kuburnya. Mereka berkata: Jika mereka mengkhatamkan al-Quran keseluruhan, maka hal itu dinilai bagus” (al-Adzkar I/162 dan al-Majmu’ V/294)

Murid Imam Syafi’i yang juga kodifikator Qaul Qadim[3], al-Za’farani, berkata:

وَقَالَ الْحَسَنُ بْنُ الصَّبَّاحُ الزَّعْفَرَانِي سَأَلْتُ الشَّافِعِيَّ عَنِ اْلقِرَاءَةِ عِنْدَ الْقَبْرِ فَقَالَ لاَ بَأْسَ بِهَا (الروح لابن القيم 1 / 11)

“Al-Za’farani (perawi Imam Syafii dalam Qaul Qadim) bertanya kepada Imam Syafii tentang membaca al-Quran di kuburan. Beliau menjawab: Tidak apa-apa”

Ibnu Hajar mengulas lebih kongkrit:

ِلأَنَّ الْقُرْآنَ أَشْرَفُ الذِّكْرِ وَالذِّكْرُ يَحْتَمِلُ بِهِ بَرَكَةٌ لِلْمَكَانِ الَّذِي يَقَعُ فِيْهِ وَتَعُمُّ تِلْكَ الْبَرَكَةُ سُكَّانَ الْمَكَانِ وَأَصْلُ ذَلِكَ وَضْعُ الْجَرِيْدَتَيْنِ فِي الْقَبْرِ بِنَاءً عَلَى أَنَّ فَائِدَتَهُمَا أَنَّهُمَا مَا دَامَتَا رَطْبَتَيْنِ تُسَبِّحَانِ فَتَحْصُلُ الْبَرَكَةُ بِتَسْبِيْحِهِمَا لِصَاحِبِ الْقَبْرِ … وَإِذَا حَصَلَتِ الْبَرَكَةُ بِتَسْبِيْحِ الْجَمَادَاتِ فَبِالْقُرْآنِ الَّذِي هُوَ أَشْرَفُ الذِّكْرِ مِنَ اْلآدَمِيِّ الَّذِي هُوَ أَشْرَفُ الْحَيَوَانِ أَوْلَى بِحُصُوْلِ الْبَرَكَةِ بِقِرَاءَتِهِ وَلاَ سِيَّمَا إِنْ كَانَ الْقَارِئُ رَجُلاً صَالِحًا وَاللهُ أَعْلَمُ (الإمتاع بالأربعين المتباينة السماع للحافظ ابن حجر 1 / 86)

“Sebab al-Quran adalah dzikir yang paling mulia, dan dzikir mengandung berkah di tempat dibacakannya dzikir tersebut, yang kemudian berkahnya merata kepada para penghuninya (kuburan). Dasar utamanya adalah penanaman dua tangkai pohon oleh Rasulullah Saw di atas kubur, dimana kedua pohon itu akan bertasbih selama masih basah dan tasbihnya terdapat berkah bagi penghuni kubur. Jika benda mati saja ada berkahnya, maka dengan al-Quran yang menjadi dzikir paling utama yang dibaca oleh makhluk yang paling mulia sudah pasti lebih utama, apalagi jika yang membaca adalah orang shaleh” (al-Hafidz Ibnu Hajar, al-Imta’ I/86)

Dan hadis dari Ali secara marfu’:

وَحَدِيْثُ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَرْفُوْعًا مَنْ مَرَّ عَلَى الْمَقَابِرِ وَقَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ أَحَدَ عَشَرَ مَرَّةً وَوَهَبَ اَجْرَهُ لِلاَمْوَاتِ اُعْطِىَ مِنَ اْلاَجْرِ بِعَدَدِ اْلأَمْوَاتِ رَوَاهُ أَبُوْ مُحَمَّدٍ السَّمَرْقَنْدِي (التفسير المظهرى 1 / 3733 وشرح الصدور بشرح حال الموتى والقبور للحافظ جلال الدين السيوطي 1 / 303)

“Barangsiapa melewati kuburan kemudian membaca surat al-Ikhlas 11 kali dan menghadiahkan pahalanya kepada orang yang telah meninggal, maka ia mendapatkan pahala sesuai bilangan orang yang meninggal. Diriwayatkan oleh Abu Muhammad al-Samarqandi” (Tafsir al-Mudzhiri I/3733 dan al-Hafidz al-Suyuthi dalam Syarh al-Shudur I/303)

Imam Ahmad Menganjurkan Membaca Alfatihan

Hal ini diperkuat oleh madzhab Imam Ahmad:

(وَتُسْتَحَبُّ قِرَاءَةٌ بِمَقْبَرَةٍ) قَالَ الْمَرُّوْذِيُّ سَمِعْتُ أَحْمَدَ يَقُوْلُ إذَا دَخَلْتُمُ الْمَقَابِرَ فَاقْرَءُوْا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَاجْعَلُوْا ثَوَابَ ذَلِكَ إلَى أَهْلِ الْمَقَابِرِ فَإِنَّهُ يَصِلُ إلَيْهِمْ وَكَانَتْ هَكَذَا عَادَةُ اْلأَنْصَارِ فِي التَّرَدُّدِ إلَى مَوْتَاهُمْ يَقْرَءُوْنَ الْقُرْآنَ (مطالب أولي النهى للرحيباني الحنبلي 5 / 9)

“(Dianjurkan membaca al-Quran di kuburan) Al-Marrudzi berkata: Saya mendengar Imam Ahmad berkata: Jika kalian masuk ke kuburan maka bacalah surat al-Fatihah, al-Falaq, al-Nas dan al-Ikhlash. Jadikan pahalanya untuk ahli kubur, maka akan sampai pada mereka. Seperti inilah tradisi sahabat Anshar dalam berlalu-lalang ke kuburan untuk membaca al-Quran” (Mathalib Uli al-Nuha 5/9)

2 hal penting:

Pertama, Membaca Surat al-Fatihah kepada mayyit itu dianjurkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H).

Kedua, Membaca al-Qur’an di kuburan itu bukan hal yang dilarang, bahkan ini perbuatan para kaum Anshar. Paling tidak, ini menurut Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H).

Hal itu bisa kita temukan di kitab Mathalib Ulin Nuha, karangan Mushtafa bin Saad al-Hanbali (w. 1243 H). Beliau seorang ulama madzhab Hanbali kontemporer, seorang mufti madzhab Hanbali di Damaskus sejak tahun 1212 H sampai wafat. Kitab Mathalib Ulin Nuhaitu sendiri adalah syarah atau penjelas dari kitab Ghayat al-Muntaha karya Syeikh Mar’i bin Yusuf al-Karmi (w. 1033 H). (Khairuddin az-Zirikly w. 1396 H, al-A’lam, h. 7/ 234)

Bahkan menurut Imam Ahmad hal diatas adalah konsensus para ulama:

قَالَ أَحْمَدُ الْمَيِّتُ يَصِلُ إلَيْهِ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ الْخَيْرِ لِلنُّصُوْصِ الْوَارِدَةِ فِيْهِ وَلأَنَّ الْمُسْلِمِيْنَ يَجْتَمِعُوْنَ فِي كُلِّ مِصْرٍ وَيَقْرَءُوْنَ وَيَهْدُوْنَ لِمَوْتَاهُمْ مِنْ غَيْرِ نَكِيْرٍ فَكَانَ إجْمَاعًا (كشاف القناع عن متن الإقناع للبهوتي الحنبلي 4 / 431 ومطالب اولي النهى للرحيباني الحنبلي 5 / 10)

“Imam Ahmad berkata: Setiap kebaikan bisa sampai kepada mayit berdasarkan dalil al-Quran dan hadis, dan dikarenakan umat Islam berkumpul di setiap kota, mereka membaca al-Quran dan menghadiahkan untuk orang yang telah meninggal diantara mereka, tanpa ada pengingkaran. Maka hal ini adalah ijma’ ulama (Kisyaf al-Qunna’ IV/ 431 dan Mathalib Uli al-Nuha V/10)

Bersambung di Pages 3

Sebarkan Kebaikan Sekarang

Pages:

loading...

Santri Admin

Santri Admin has written 847 articles

Comments

comments

36 thoughts on “Dear Teuku Wisnu, Ini Dalilnya Baca Al Fatihah Untuk Ahli Kubur

  1. Avatar Hati says:

    Terputusnya amal perbuatan seseorang kecuali 3 hal. Ilmu yg bermanfaat, amal jeriah dan doa anak yg saleh… menurut saya ada sedikit kontradiksi. Mohon pencerahannya

  2. Santri Admin Santri Admin says:

    terputus bagi simayit bukan bagi yang hidup

    yang hidup masih bisa mengirim sodaqoh, qurban doa bagi ahli kubur

    bukankah saat shalat jenazah semua jamaah berdoa memohonkan ampun kepada ahli kubur yang bukan familinya?
    bukankah saat kita memasuki kuburan di sunnahkan mengucapkan salam kepada ahli kubur yang mana salam adalah sebuah doa?

  3. Avatar bang leon says:

    Sumua sama2 punya dalil harus kita jgn memaksakan dalil kta ke org laen
    Marilah kita bersatu dg kalimatin sawak
    Kta bela umat islam yg tertindas

  4. Avatar muh sueb says:

    Maklum aja, dia kan baru belajar agama, dlu nya kan artis doang. Dan hrs tau diri, nte tuh baru belajar agama pengetahuan nya sedikit Jd jangan sok. Kiai-kiai aja akhir aja yg begudang gudang ilmunya melaksanakan pembacaan fatihah utk mayit, nte yg msh kemarin sore besar agama usah bertingkah.

  5. Avatar abie akmal says:

    Bedakan doa sm pahala…kl doa, nabi sdh perintahkan ….tiap2 doa logika nya dipanjatkan spy yg didoakan dpt manfaat dr doa tsb…dlm hal ini mayit spy diampuni dosanya misalnya…tp yg jd mslh kl baca alfatihah adl pahala bacaan sampai ato tdk ke mayit? Silahkan dipakai akalnya…

  6. Avatar Tentara islam says:

    Katanya santri tapi ko memperkeruh suasanya dengan meng kambing hitam kan wisnu? Ya memang dasarnya demen ribut semangat ayo hancurkan islam biar pada puas

  7. Avatar hamba Allah says:

    Jika perbuatan itu baik maka yg pertamakali melakukannya adalah rasulullah, dan ditirukan para sahabatnya , pernahkah para sahabat mengirim al fatikah utk rasulullah?

  8. Avatar irham says:

    Tidak usah khawatir Teuku Wisnu, tetaplah istiqomah di jalan sunnah, semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikanmu kesabaran dan kekuatan.
    barokallahu fiikum.

  9. Avatar W.a says:

    gak usah pusing.ntar kalau meninggal ada yang kirim Al fatihah khususnya untuk kaum muslimin di seluruh dunia entar tinggal bilang tuh ama malaikatnya”malaikat ! ini Al fatihah salah alamat”

  10. Avatar Tentara islam says:

    Ko dear teuku wisnu? Emangnya salah teuku wisnu? Bukannya narasinya tv ? Kirim ke trans tv lah ,wisnu tidak membidahkan ko? Santri kan ber ilmu harusnya sblm melakukan sesuatu liat dulu buktinya nonton videonya ada ko dinyoutube

  11. Avatar Arkin haris says:

    Asalamualaikum. Selain yg H.R bukhori, tolong dikaji kembali apakah hadist diatas sokheh. Kemudian coba terjemahkan surat Al-fatihah, apakah nyambung apabila untuk doa orang mati. Terima kasih :-)

  12. Santri Admin Santri Admin says:

    wa’alaikumsalam apa yang menjadi pertimbangan anda sehingga anda meragukan subur tererpcaya setelah Alquran?
    yang dikirmkan itu pahala membaca alfatihah, bukan alfatiha, sama halnya saat anda berqurban untuk orang tua anda, bukan kambing atau sapinya yang dikirimkan namun pahalanya

  13. Avatar zhyzhy says:

    Assalamualaikum.
    Kenapa judulnya dear teuku wisnu? Bukankah teuku wisnu itu hanya berbicara tentang apa yang diyakininya?
    Logika saja, ketika seorang anak salah, siapa yg disalahkan? Anak itu?
    Menurut saya itu sama saja anda menyalahkan mahdzhab yang dianut TW. Saya maklum kalau TW membuat pernyataan itu dari pemikiran dia sendiri. Tpi sekali lgi dia hanya berbicara sesuai apa yg menurut dia benar.
    Artinya jika anda menujukan artikel ini kepada TW, artinya anda juga menujukannya kepada jutaan umat manusia yang sependapat dengan TW.
    Saya tdk memihak siapa pun, tp saya tidak setuju dgn judul artikel ini.
    Afwan.
    Wassalamualaikum.

  14. Avatar azis says:

    1. Hadis riwayat muslim :
    “Jika manusia, maka putuslah amalnya kecuali tiga : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang selalu mendoakan orang tuanya”
    Jawab : Tersebut dalam syarah Thahawiyah hal. 456 bahwa sangat keliru berdalil dengan hadist tersebut untuk menolak sampainya pahala kepada orang yang sudah mati karena dalam hadits tersebut tidak dikatakan : “inqata’a intifa’uhu (terputus keadaannya untuk memperoleh manfaat). Hadits itu hanya mengatakan “inqatha’a ‘amaluhu (terputus amalnya)”. Adapun amal orang lain, maka itu adalah milik (haq) dari amil yakni orang yang mengamalkan itu kepadanya maka akan sampailah pahala orang yang mengamalkan itu kepadanya. Jadi sampai itu pahala amal si mayyit itu. Hal ini sama dengan orang yang berhutang lalu dibayarkan oleh orang lain, maka bebaslah dia dari tanggungan hutang. Akan tetapi bukanlah yang dipakai membayar utang itu miliknya. Jadi terbayarlah hutang itu bukan oleh dia telah memperoleh manfaat (intifa’) dari orang lain.

  15. Avatar Abdullah says:

    Pendapat yang masyhur dari Imam as-Syafii bahwa beliau melarang menghadiahkan bacaan al-Quran kepada mayit dan itu tidak sampai.

    An-Nawawi mengatakan,

    وأما قراءة القرآن، فالمشهور من مذهب الشافعي، أنه لا يصل ثوابها إلى الميت، وقال بعض أصحابه: يصل ثوابها إلى الميت

    Untuk bacaan al-Quran, pendapat yang masyhur dalam madzhab as-Syafii, bahw aitu tidak sampai pahalanya kepada mayit. Sementara sebagian ulama syafiiyah mengatakan, pahalanya sampai kepada mayit. (Syarh Shahih Muslim, 1/90).

    Salah satu ulama syafiiyah yang sangat tegas menyatakan bahwa itu tidak sampai adalah al-Hafidz Ibnu Katsir, penulis kitab tafsir.

    Ketika menafsirkan firman Allah di surat an-Najm,

    وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى

    “Bahwa manusia tidak akan mendapatkan pahala kecuali dari apa yang telah dia amalkan.” (an-Najm: 39).

    Kata Ibnu Katsir,

    ومن وهذه الآية الكريمة استنبط الشافعي، رحمه الله، ومن اتبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى؛ لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم

    “Dari ayat ini, Imam as-Syafii – rahimahullah – dan ulama yang mengikuti beliau menyimpulkan, bahwa menghadiahkan pahala bacaan al-Quran tidak sampai kepada mayit. Karena itu bukan bagian dari amal mayit maupun hasil kerja mereka. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/465).

    Selanjutnya, Ibnu Katsir menyebutkan beberapa dalil dan alasan yang mendukung pendapatnya. Silahkan di baca kitab Tafsirnya.

  16. Avatar Firman says:

    Alhamdulillah kang, terimakasih penjelasan yg terakhir itu memang saya cari2 buat jawab .
    Semoga gerakan radikal yg sedang marak saat ini bisa segera ditangkal ya kang oleh ponpes beserta santri2 Indonesia. Syukron wassalamu’alaikum

  17. Avatar Djona says:

    Hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma

    Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraniy (360H) rahimahullah dalam kitabnya “Al-Mu’jam Al-Kabiir” 12/444 no.13613, dan Al-Baihaqiy (458H) rahimahullah dalam kitabnya “Syu’ab Al-Iman” 11/471 no.8854:

    عن أَبي شُعَيْبٍ الْحَرَّانِيُّ، ثنا يَحْيَى بْنُ عَبْدِ اللهِ الْبَابْلُتِّيُّ، ثنا أَيُّوبُ بْنُ نَهِيكٍ، قَالَ: سَمِعْتُ عَطَاءَ بْنَ أَبِي رَبَاحٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ، يَقُولُ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَلَا تَحْبِسُوهُ، وَأَسْرِعُوا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ، وَلْيُقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ، وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ بِخَاتِمَةِ الْبَقَرَةِ فِي قَبْرِهِ»

    Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika diantara kalian ada yang meninggal, maka janganlah kalian manahannya, segeralah membawanya ke kuburannya. Dan hendaklah di dekat kepalanya dibacakan pembukaan Al-Quran (surat Al-Fatihah) dan dekat kedua kakinya dengan penutup surat al-Baqarah di kuburnya”

    Hadits ini sangat lemah karena dua cacat:

    1. Yahya bin Abdillah bin Adh-Dhahhak Al-Babluttiy[3] (218H); Al-Haitsamiy (807H) rahimahullah menyebutkan hadits ini dalam kitabnya “Majma’ Az-Zawaid” (no.4242) dan mengatakan: “Di dalam sanadnya ada Yahya bin Abdillah Al-Babluttiy, dia dha’if (lemah periwayatannya).”
    Ibnu Hibban (354H) rahimahullah berkata: Periwayatannya tidak bisa dijadikan hujjah jika sendiri (ساقط الاحتجاج فيما انفرد به).
    Ibnu Adiy (365H) rahimahullah berkata: Tanda kelemahan pada haditnya sangat jelas (أثر الضعف على حديثه بين).
    Periwayatan haditsnya dilemahkan juga oleh Abu Zur’ah Ar-Raziy (281H), Adz-Dzahabiy, Ibnu Hajar (852H) rahimahumullah.
    2. Ayyub bin Nahiik Al-Halabiy[4]; Abu Hatim (277H) rahimahullah berkata: periwayatan haditnya lemah. Abu Zur’ah Ar-Raziy mengatakan: Haditsnya mungkar. Al-Azdiy (374H) rahimahullah mengatakan: Haditsnya ditolak (matruuk). Adz-Dzahabiy mengatakan: Periwayatan haditsnya ditolak oleh ulama (tarakuuhu).

    Lihat silsilah hadits dhaif karya syekh Albaniy rahimahullah 9/152 no.4140.

  18. Avatar NGAWI DIAN says:

    ya ampun,, kenapa admin mengatakan bahwa syekh Albaniy rahimahullah bukan ahli hadist..

    Lalu kenap ia di nobatkan menjadi ahli hadist kalau anda mengatakan dia bukan ahli hadist…

    situs ini juga membuat katagori untuk ulama wahabi.. selalu menguntip dari hadist lemah. …

    saya lebih suka melihat situs yang tidak menyalahkan orang seperti muslim.or.id …

  19. Avatar x name says:

    Yg buat artikel ini hrs bljr ushulul fiqh..
    Dlu para ulama bnyak prbedaan pndapat soal fiqh tp biasa biasa aza tuh…
    G kaya ente yh sprtiny kbakaran jenggot… eh lupa kyny ente g pny jenggot soale yg berjenggot kan sk d katain wahabi…

  20. Avatar Ahmad says:

    Toleransi itu artinya tidak pada 1 pihak aja…. ketika pihak yg berpandangan amalan tsb ada dalilnya minta untuk dihargai pendapatnya seharusnya pihak tersebut juga menghargai pihak lain yang tidak mau melakukan karena berpandangan bahwa amalan tersebut tidak berdasar….
    Bukannya jadi saling hujat dan mencaci….

  21. Avatar syafik says:

    tetap saja itu lemah dalilnya karena dalilnya :
    1. bertentangan dengan QS. An-Najm: 38-39
    2. admin dengan tegas menjelaskan bahwa surat fatihan untuk ruqyah, kalo kita pakai akal ruqyah pasti untuk orang yang masih hidup bukan orang yang sudah mati.
    3. yang perlu dipahami antara alquran dan hadist tidak mungkin saling bertentangan, jika bertentangan dengan alquran pasti itu hadist lemah/palsu.
    4. jika kalian mau beramal dengan hadist lemah/palsu silahkan aja, toh amal kalian balik ke kalian sndiri demikian juga dengan amal saya, sesuai dengan QS. An-Najm: 38-39.

  22. Santri Admin Santri Admin says:

    TAFSIR Surah an-Najm ayat 39
    ( وَاَنْ لَيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعَى (النجم: ٣٩
    “Dan bahwa seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”(QS,an-Najm:39)
    1. Syekh Sulaiman bin Umar Al-‘Ajili menjelaskan
    قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ هَذَا مَنْسُوْخُ الْحُكْمِ فِي هَذِهِ الشَّرِيْعَةِ أَيْ وَإِنَّمَا هُوَ فِي صُحُفِ مُوْسَى وَاِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِمَا السَّلاَمِ بِقَوْلِهِ “وَأَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِيَّتَهُمْ” فَأُدْخِلَ اْلأَبْنَاءُ فِي اْلجَنَّةِ بِصَلَاحِ اْللأَبَاءِ. وَقَالَ عِكْرِمَةُ إِنَّ ذَلِكَ لِقَوْمِ إِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى عَلَيْهِمَا السَّلَامُ وَأَمَّا هَذِهِ اْلأُمَّةُ فَلَهُمْ مَا سَعَوْا وَمَا سَعَى لَهُمُ غَيْرُهُمْ (الفتوحات الإلهية,٤.٢٣٦)
    “Ibnu Abbas berkata bahwa hukum ayat tersebut telah di-mansukh atau diganti dalam syari’at Nabi Muhammad SAW. Hukumnya hanya berlaku dalam syari’at Nabi Ibrahim AS dan Nabi Musa AS, kemudian untuk umat Nabi Muhammad SAW kandungan QS. Al-Najm 39 tersebut dihapus dengan firman Allah SWT وَأَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِيَّتَهُمْ Ayat ini menyatakan bahwa seorang anak dapat masuk surga karena amal baik ayahnya. Ikrimah mengatakan bahwa tidak sampainya pahala (yang dihadiahkan) hanya berlaku dalam syari’at Nabi Ibrahim AS dan Nabi Musa AS. Sedangkan untuk umat Nabi Muhammad SAW mereka dapat menerima pahala amal kebaikannya sendiri atau amal kebaikannya sendiri atau amal kebaikan orang lain” (Al-Futuhat Al-Ilahiyyah, Juz IV, hal 236)
    2. Menurut Mufti Mesir Syekh Hasanain Muhammad Makhluf :
    وَأَمَّا قَوْلُهُ تَعَلَى وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ اِلاً مَاسَعَى فَهُوَ مُقَيًدٌ بِمَا إِذَالَمْ يَهَبِ الْعَامِلُ ثَوَابَ عَمَلِهِ لِغَيْرِهِ وَمَعْنىَ ألْاَيَةِ أَنًهُ لَيْسَ يَنْفَعُ الْإِنْسَانَ فِي الْأَخِرَةِ إِلًا مَا عَمِلَهُ فِي الدُّنْيَا مَالَمْ يَعْمَلْ لَهُ غَيْرُهُ عَمَلًا وَيَهَبَهُ لَه فَاِّنَهُ يَنْفَعُهُ كَذَلِكَ (حكم الشريعة الإسلامية في مأتم الأربعين : ٢٣-٢٤ )
    “Firman Allah SWT وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ اِلاً مَاسَعَى perlu diberi batasan, yaitu jika orang yang melakukan perbuatan baik itu tidak menghadiahkan pahalanya kepada orang lain. Maksud ayat tersebut adalah, bahwa amal seseorang tidak akan bermanfaat di akhirat kecuali pekerjaan yang telah dilakukan di dunia bila tidak ada orang lain yang menghadiahkan amalnya kepada si mayit. Apabila ada orang yang mengirimkan ibadah kepadanya, maka pahala amal itu akan sampai kepada orang yang meninggal dunia tersebut” (Hukm Al-Syari’ah Al-Islamiyah fi Ma’tam Al-Arbai’n, 23-24)
    3. Menurut Syekh Muhammad Al-Arabi:
    أُرِيْدُ اْلِإنْسَانُ اْلكَافِرُ وَأَمَّا اْلمُؤْمِنُ فَلَهُ مَاسَعَى أَخُوْهُ (اسعاف المسلمين والمسامات,٤٧)
    “Yang dimaksud dengan kata “al-insan” ialah orang kafir. Sedangkan manusia yang beriman, dia dapat menerima usaha orang lain. (Is’af Al-Muslimin wa Al-Muslimat, 47).
    Di antara sekian banyak tafsir QS. Al-Najm, 39 yang paling mudah dipahami, sekaligus dapat dijadikan landasan yang kuat untuk tidak mempertentangkan antara ayat dan hadits yang tegas menjelaskan bahwa seseorang yang meninggal dunia dapat menerima manfaat dari amalan orang yang hidup, adalah tafsir dari Abi Al-Wafa’ Ibnu ‘Aqil Al-Baghdadi Al-Hanbali (431-531 H) sebagai berikut:
    اَلْجَوَابُ الْجَيِّدُ عِنْدِيْ أَنْ يُقَالَ أَلْإِنْسَانُ بِسَعْيِهِ وَحُسْنِ عُشْرَتِهِ إِكْتَسَبَ اَلْأَصْدِقَاءَ وَأَوْلَدَ اْلأَوْلَادَ وَنَكَحَ اْلأَزْوَاجَ وَأَسْدَى اْلخَيْرَوَتَوَدَّدَ إِلَى النَّاسِ فَتَرَحَّمُوْا عَلَيْهِ وَأَهْدَوْا لَهُ اْلعِبَادَاتِ وَكَانَ ذَلِكَ أَثَرُسَعْيِهِ (الروح, صحيفه: ١٤٥)
    “Jawaban yang paling baik menurut saya, bahwa manusia dengan usahanya sendiri, dan juga karena pergaulannya yang baik dengan orang lain, ia akan memperoleh banyak teman, melahirkan keturunan, menikahi perempuan, berbuat baik, serta menyintai sesama. Maka, semua teman-teman, keturunan dan keluarganya tentu akan menyayanginya kemudian menghadiahkan pahala ibadahnya (ketika telah meninggal dunia). Maka hal itu pada hakikatnya merupakan hasil usahanya sendiri.” (Al-Ruh, 145).
    Dr. Muhammad Bakar Ismail, seorang ahli fiqh kontemporer dari Mesir menjelaskan:
    وَلَا يَتَنَافَى هَذَا مَعَ قَوْلِهِ تَعَالَى فِى سُوْرَةِ النَّجْمِ وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلاَّمَاسَعَى فَإِنَّ هَذَا التَّطَوُّعَ يُعَدُّ مِنْ قَبِيْلِ سَعْيِهِ فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ بَارًا بِهِمْ فِى حَيَاتِهِ مَا تَرَحَّمُوْا عَلَيْهَ وَلَاتَطَوَّعُوْا مِنْ أَجْلِهِ فَهُوَ فِى الْحَقِيْقَةِ ثَمْرَةٌ مِنْ ثِمَارِ بِرِّهِ وَإِحْسَانِهِ (الفقه الوضح,ج: ١,ص: ٤٤٩)
    “Menghadiah pahala kepada orang yang telah mati itu tidak bertentangan dengan ayat وان ليس للإنسا الإماسعى karena pada hakikatnya pahala yang dikirimkan kepada ahli kubur dimaksud merupakan bagian dari usahanya sendiri. Seandainya ia tidak berbuat baik ketika masih hidup, tentu tidak akan ada orang yang mengasihi dan menghadiahkan pahala untuknya. Karena itu sejatinya, apa yang dilakukan orang lain untuk orang yang telah meninggal dunia tersebut merupakan buah dari perbuatan baik yang dilakukan si mayit semasa hidupnya.” (Al-Fiqh Al-Wadlih, juz I, hal 449).
    Dari penjelasan para ulama ahli tafsir di atas jelaslah bahwa QS. Al-Najm ayat 39 bukanlah dalil yang menjelaskan tentang tidak sampainya pahala kepada orang yang sudah meninggal, QS. Al-Najm ayat 39 tersebut bukanlah ayat yang melarang kita untuk mengirim pahala, do’a, shodaqoh kepada orang yang telah meninggal.
    Wallahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>