Menjawab Syubhat Tauhid Wahabi Pat II

 Menjawab Syubhat Tauhid Wahabi Pat IIimages (15)

✒?FAEDAH KE-ASWAJAAN. BAB TAUHID 2?

Syubhat :

Kami memahami teks-teks mutasyabihat seperti ayat-ayat atau hadits-hadits sifat yang menjelaskan tangan, mata, wajah dan kaki Allah secara dhahir dan hakekatnya. Karena Tidak mungkin memahami dua tangan kecuali dengan (makna) hakekatnya. Barangsiapa yang tidak membawa makna sifat dua tangan sesuai hakekatnya, maka ia seorang mu’aththil (orang yang menafikkan sifat Allah) terhadap sifat tersebut.

Jawaban :

Kata tangan secara hakikatnya yakni secara bahasa Arab dan dipahami dengan konteks sebagaimana biasanya dipahami, adalah bermakna anggota tubuh tertentu yang kita ketahui (jarihah), ada ukuran panjang, lebar dan jari. Maka ketika wahabi mengatakan, “ Tangan Allah dipahami secara hakekatnya dalam bahasa Arab tanpa menyerupakannya kepada makhluk “, maka secara sadar atau tidak mereka sudah jatu pada lumpur tasybih (menyerupakan Allah kepada makhluk). Karena tangan atau mata, kaki dan wajah makna dhahir dan hakekatnya dalam bahasa Arab (bukan majaz) adalah anggota tubuh tertentu yang memiliki ukuran dan batasan. Maka embel-embel kata setelahnya, “ Tanpa tasybih “, sama sekali tidak berpengaruh untuk mensucikan Allah.

Pada hakekatnya mereka telah menyamakan Allah dengan makhluk-Nya dari segi makna kulli-nya (makna umum) yang hanya ada dalam pikiran mereka. Sebab makna mata secara makna kulli-nya sama juga dengan makna hakekatnya (bukan majaz) yaitu jarihah atau organ yang digunakan untuk melihat, makna tangan dalam makna hakekatnya (bukan majaz) adalah organ yang digunakan untuk memegang, mengambil dan semisalnya. Ketika mata kita sandarkan kepada gajah, kucing, manusia, maka memang memiliki kaifiyyah (visualisi) yang berbeda-beda, yakni mata gajah besar, mata kucing kecil demikian mata manusia, namun makna kulli-nya (makna umum dan hakekatnya) adalah sama yaitu organ yang digunakan untuk melihat atau jarihah.

Demikian juga ketika kaum wahabi menetapkan sifat mata secara hakekatnya (bukan majaz) maka ketika itu juga mereka menyamakan (mentasybih) Allah dengan makhluknya yakni Allah memiliki organ yang digunakan untuk melihat artinya Allah memiliki jarihah, walaupun kaifiyyahnya (visualisasinya) berbeda dari mata makhluk-Nya. Dan pada hakekatnya mereka hanya meniadakan atau menafikan lafaz tasybih saja bukan maknanya dan telah menetapkan kaifiyyah sifat bagi Allah.

Imam Sufyan bin Uyainah mengatakan :

ماوصفه الله تبارك وتعالى به نفسه في كتابه قراءته تفسيره وليس لاحد ان يفسره لا بالعربية ولا بالفارسية

“ Apa yang Allah sifatkan diri-Nya di dalam al-Quran, maka pembacaannya adalah tafsirnya, tidak seorang pun boleh menafsirkannya, tidak dengan bahasa Arab ataupun bahasa persi “.

Abu Jakfar ath-Thahawi berkata :

وَتَعَالىَ- أَيْ اللهُ- عَنِ اْلحُدُوْدِ وَاْلغَايَاتِ وَاْلأَرْكَانِ وَاْلأَعْضَاءِ وَاْلأَدَوَاتِ، لاَ تَحْوِيْهِ اْلجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ اْلمُبْتَدَعَاتِ

“Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi,anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya).Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan,kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.

Imam asy-Syathibi mengatakan :

ومثاله في ملة الاسلام مذهب الظاهرية في اثبات الجوارح للرب المنزه عن النقائص من العين واليد والرجل والوجه المحسوسات والجهة وغير ذالك من الثابت للمحدثات

“ Dan misalnya (ahli bid’ah yang menyimpang dari ushul) di dalam agama Islam adalah madzhab Dhzahiriyyah (kelompok literalisme) yang menetapkan anggota tubuh (organ tubuh) bagi Allah yang Maha Suci dari segala kekurangan, berupa mata, tangan, kaki, wajah yang bersifat indrawi, arah dan selainnya dari penetapan hal-hal yang baru “.

Imam ahli tafsir al-Qurthubi (578 – 656 H) mengatakan :

“ Sungguh telah diketahui sesungguhnya madzhab ulama salaf adalah meninggalkan memperdalam (pembicaraan makna) disertai keyakinan mereka dengan kemustahilan dzahir-dzahirnya, maka mereka mengatakan : “ Laluilah sebagaimana datangnya “.

Al-Imam Badruddin bin Jama’ah (694 – 767 H) menegaskan tentang prinsip ulama salaf dalam menyikapi nash shifat sebagai berikut :

“ Barangsiapa yang menganut (mengaku) mengikuti ucapan ulama salaf, dan berucap dengan ucapan tasybih (penyerupaan) atau takyiif (visualisasi), atau membawa lafaz atas dzahirnya dari apa yang Allah Maha Suci darinya berupa sifat-sifat baharu, maka dia telah berdusta mengaku mengikuti madzhab salaf, lepas dari ucapan dan keseimbangan salaf “.

(Ibnu Abdillah Al-Katibiy, Kota Santri ; 21-07-2011)

Sebarkan Kebaikan Sekarang
loading...

Ustadz Ibnu Abdillah Al-Katibiy

Ustadz Ibnu Abdillah Al-Katibiy has written 8 articles

Penulis buku Rekam Jejak Radikalisme Wahabi
dan Ahli Ruqyah Islami

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>