Contoh Akidah Rasulullah Menurut Sahabat, Tabiin dan Salaf

Penulis : Von Edisn Alouisci

Ini hanya sebagian kecil saja dari contoh Akidah yang dipahami dan diikuti generasinya mayoritas Ahlus sunnah wal jamaah tulen di seluruh dunia.

AKIDAH IMAM SYAFI’I
Imam asy-Syafi’i Muhammad ibn Idris (w 204 H), seorang ulama salaf terkemuka perintis madzhab Syafi’i, berkata: Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Kemudian Dia menciptakan tempat, dan Dia tetap dengan sifat-sifat-Nya yang Azali sebelum Dia menciptakan tempat tanpa tempat. Tidak boleh bagi-Nya berubah, baik pada Dzat maupun pada sifat-sifat-Nya ” (Lihat az-Zabidi, Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn…, j. 2, h.24).

AKIDAH SAHABAT SAYYIDINA ALI BIN ABI THOLIB

Barang siapa mensifati Allah bahwa Allah di dalam sesuatu maka berarti mensifati Allah bahwa Allah adalah mahdud / sesuatu yang dibatasi, maka ia kafir. Barang siapa mensifati Allah bahwa Allah di atas sesuatu maka berarti mensifati Allah bahwa Allah membutuhkan, maka ia kafir

(Lihat: Kifayah an-Nabih fi Syarh at-Tanbih)

AKIDAH SAHABAT SAYYIDINA ABU BAKR ASH-SHIDDIQ

Beliau berkata -semoga Allah meridlainya- : “Pengakuan bahwa pemahaman seseorang tidak mampu untuk sampai mengetahui hakekat Allah adalah keimanan, sedangkan
mencari tahu tentang hakekat Allah, yakni membayangkan-Nya adalah kekufuran dan syirik”.

AKIDAH SYEKH AL ‘ALIM ABU AL HUDA ASH-SHAYYADI

Beliau salah seorang khalifah syekh Ahmad ar-Rifa’i (dalam Thariqah ar-Rifa’iyyah) pada abad XIII H, dalam kitabnya at-thariqah ar-rifa’iyyah berkata:
“Sesungguhnya mengatakan Wahdah al Wujud (Allah menyatu dengan makhluk-Nya) dan Hulul (Allah menempati makhluk-Nya) menyebabkan kekufuran dan sikap berlebih-lebihan dalam agama menyebabkan fitnah dan akan menggelincirkan seseorang ke neraka, karenanya wajib dijauhi”.

AKIDAH AL-IMAM FAKHR AR-RAZI

• Seorang ahli tafsir terkemuka; al-Imam al-Fakhr ar-Razi ( w 606 H) dalam kitab tafsirnya menuliskan sebagai berikut: “Jika keagungan Allah disebabkan dengan tempat atau arah atas maka tentunya tempat dan arah atas tersebut menjadi sifat bagi Dzat-Nya. Kemudian itu berarti bahwa keagungan Allah terhasilkan dari sesuatu yang lain; yaitu tempat. Dan jika demikian berarti arah atas lebih sempurna dan lebih agung dari pada Allah sendiri, karena Allah mengambil kemuliaan dari arah tersebut. Dan ini berarti Allah tidak memiliki kesempurnaan sementara selain Allah memiliki kesempurnaan. Tentu saja ini adalah suatu yang mustahil” .

AKIDAH IMAM MALIK :

IMAM MALIK IBN ANAS Al-Hafizh al-Bayhaqi dalam karyanya berjudul al-Asma’ Wa ash-Shifat, dengan sanad yang baik (jayyid), -sebagaimana penilaian al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari-, meriwayatkan dari al-Imam Malik melalui jalur Abdullah ibn Wahb, bahwa ia -Abdullah ibn Wahb-, berkata: “Suatu ketika kami berada di majelis al-Imam Malik, tiba-tiba seseorang datang menghadap al-Imam, seraya berkata:
“Wahai Abu Abdillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimanakah Istawa Allah?”. Abdullah ibn Wahab berkata: Ketika al-Imam Malik mendengar perkataan orang tersebut maka beliau menundukan kepala dengan badan bergetar dengan mengeluarkan keringat. Lalu beliau mengangkat kepala menjawab perkataan orang itu: “ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa sebagaimana Dia mensifati diri-Nya sendiri, tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana, karena “bagaimana” (sifat benda) tidak ada bagi-Nya. Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”. Lalu kemudian orang tersebut dikeluarkan dari majelis al-Imam Malik (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h.408)“.

AKIDAH SYEKH ABD AL GHANI AN-NABULSI

Beliau -semoga Allah merahmatinya- dalam kitabnya al faidl ar-rabbani berkata: “Barangsiapa mengatakan bahwa Allah terpisah dari-Nya sesuatu, Allah menempati sesuatu, maka dia telah kafir”.

AKIDAH AL-HAFIZH IBN AL-JAWZI

Beliau berkata dalam kitabnya Daf’u Syubah at-Tasybih:
“Sesungguhnya orang-orang yang menyifatkan Allah dengan tempat dan arah, maka sesungguhnya dia termasuk Musyabbih dan Mujassim yang tidak mengerti sifat Allah”

AKIDAH AL-HAFIDZ IBN HAJAR AL-ASQALANI

Beliau berkata di dalam Fath al-Bari:
“Sesungguhnya kaum Musyabbihah mujassimah itu adalah mereka yang menyifati Allah dengan tempat, padahal Allah Maha Suci dari tempat.”

FINAL AKIDAH RASULULLAH !!

Baginda Rasulullaah shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda:

ﺍﻧﺖ ﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﻓﻠﻴﺲ ﻓﻮﻗﻚ ﺷﻴﺊ ﻭﺍﻧﺖ ﺍﻟﺒﺎﻃﻦ ﻓﻠﻴﺲ ﺩﻭﻧﻚ ﺷﻴﺊ ﺭﻭﺍﻩ  ﻤﺴﻠﻢ
“Engkaulah adz-Dzohir yang tidak ada sesuatu-pun di atas-Mu, dan Engkaulah al-Baathin, yang tidak ada sesuatu apapun di bawah-Mu” (HR. Muslim) mau bantah Rasulullah ?? kafir !!??

masih ada ratusan ulama salaf, tabiin dan tabiut tabiin ditambah ribuan ahli ulama berikutnya hingga sekarang yang intinya berkidah “Allah ada tanpa tempat dan tidak berarah” termasuk generasi Imam Hasan Asyari dan Maturidi… ini belum lagi dari akidah para generasi Ahlul bayt (versi aswaja) yang sudah barang tentu mengikuti jejak Rasulullah.
Misal ulama generasi Imam Hasan Asyari.. bisa cek dari kitab asli mereka..

• Al-Imam Abu al-Laith Nashr bin Muhammad al-Samarqandi (W 393 H/1003 M), pengarang tafsir Bahr al-`Ulum (4 jilid).
• Al-Imam Abu al-Hassan Ali bin Ahmad al-Wahidi al-Naisaburi al-Syafi`e (W 468/1076 M) pengarang tafsir al-Basit, al-Wasit, al-Wajiz dan kitab Asbab al-Nuzul.
• Al-Imam al-Hafiz Muhyi al-Sunnah Abu Muhammad al-Husain bin Mas`ud al-Baghawi al-Sayfi`e (433-516 H/1041-1122 M) pengarang tafsir Ma`alim al-Tanzil (4 jilid).
• Al-Hafiz Ibn al-Jauzi al-Hanbali, pengarang kitab Zad al-Masir fi `Ilm al-Tafsir.
• Al-Imam Abu Muhammad Abdul Haqq bin Ghalib bin Abdurrahman bin Athiyyah al-Gharnati al-Andalusi (481-542 H/1088-1148 M), pengarang kitab al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-`Izz (8 jilid).
• Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Maliki al-Qurtubi (W 671 H/1273 M), pengarang tafsir al-Jami’ li Ahkam al-Quran.
• Al-Imam Nasiruddin Abu Sa`ad Abdullah bin Umar al-Syirazi al-Baidhawi al-Syafi`e (W 685 H/1286 M) pengarang tafsir Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil.
• Al-Imam Hafizuddin Abu al-Barakat Abdullah bin Ahmad bin Mahmud al-Nasafi al-Hanafi (W 710 H/1310 M) pengarang tafsir Madarik al-Tanzil wa Haqaiq al-Ta’wil (4 jilid).
• Al-Imam Alauddin Abu al-Hassan Ali bin Muhammad al-Khazin al-Baghdadi al-Syafi`e (678-741 H/1279-1340 M) pengarang tafsir Lubab al-Ta’wil fi ma`ani al-Tanzil (4
jilid).
• Al-Imam Abu Hayyan Muhammad bin Hayyan al-Andalusi (654-745 H/1256-1344 M) pengarang tafsir al-Bahr al-Muhit (8 jilid) dan tafsir al-Nahr al-Mad (4 jilid).
• Al-Imam Ahmad bin Yusuf al-Samin al-Halabi (W 756 H/1355 M) pengarang tafsir al-Durr al-Mashun fi `Ilm al-Kitab al-Maknun.
• Al-Imam al-Hafiz Abu al-Fida Ismail bin Kathir al-Dimaysqi al-Syafi`e (700-774 H/1301-1373 M) pengarang Tafsir al-Quran al-`Azhim (4 jilid), tafsir al-Quran terbaik dalam metodologi ma`thur.
• Al-Imam Burhanuddin Abu al-Hassan Ibrahim bin Umar al-Biqa`i al-Syafi`e (809-885 H/1406-1480 M) pengarang tafsir Nazhm al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar (8 jilid), karya terbaik dalam memaparkan kolerasi antara ayat-ayat al-Quran.
• Al-Hafiz Jalaluddin al-Suyuti, pengarang Tafsir al-Jalalain, al-Durr al-Manthur fi al-Tafsir al-Ma`thur dan lain-lain.

Mayoritas Ulama sedunia berakidah “Allah ada tanpa tempat dan tidak berarah” Sisanya Mutazilah, mutasyibah, atau akidah berbau berhala lainnya.. dan itu kebanyakan sekte sesat, pengikut paham akidah ibnu taimiyah. Apapun sanggahan dan bantahan tentang hal ini, dipastikan ia tidak menerima pendapat sahabat, tabiin dan tabiut tabiin bahkan Rasulullah. Jangan mengatakan “kami telah sesuai sunnah Rasulullah dan khulafaur rasydin jika pada kenyataan soal akidah tidak sejalan, padahal akidah itu masalah Iman dan jauh lebih utama ketimbang figh walaupun pada dasarnya sama sama penting.

BEBERAPA CONTOH AKIDAH WAHABI

1. AKIDAH BIN BAZ

Ibnu Baz berkata: “TINGGINYA ALLAH SAMA DENGAN TINGGINYA ADAM YAITU 60 HASTA ATAU KURANG LEBIH 30 METER. (MAJMU’ FATAWA ALLAMAH ABDUL AZIZ
IBNU BAZ DAR AL-IFTA JILID 4,FATWA no 2331,HAL.368). Bin Baz ” dalm kitab Akidah Ahl Iman fii Khalqi Adama ‘alaa suratir Rahman”, Juga menjelaskan hal yang sama, bahwa Allah seperti nabi Adam

2.SYAIKH UTSAIMIN

ia berkata: “ALLAH SEPERTI ADAM MEMPUNYAI WAJAH, MATA, TANGAN, DAN KAKI. (ibnu Utsaimin Syarh al-Aqidah li ibni Taimiyyah, Dar Atstsuraya cetakan 1,hal,107,293).

3. AKIDAH IBNU TAIMIYAH

Dalam kitabnya “Bayan Talbiis al-Jahmiyyah” juz 7 ; hal.290, Ibnu Taymiyah menshahihkan hadits dha’if dan munkar ru’yah Ibn ‘Abbas ra dengan lafal pemuda Amrad, sedangkan redaksinya sebagai berikut :…Rasulullah saw bersabda :”Aku melihat Rabb-ku dalam bentuk pemuda amrad berambut keriting dengan pakaian berwarna hijau.”

4.AKIDAH PENDIRI WAHABI

Dalm Kitab Fathu al Majîd Syarh Kitab al Tauhîd:515-516) karya Muhammad bin abdul wahab panutan wahabi, Imam Besar Sekte wahabi menegaskan bahwa Allah bersemayan di atas Arsy… arsy-Nya berada di atas laut yang berada di atas langit ke tujuh dan memiliki kedalaman seperti jarak antara satu langit dengan langit lainnya yaitu 71 atau 72 atau 73 tahun perjalanan…. Nah di atas lautan itu ada delapan ekor kambing hutan yang ukurannya sangat besar, antara kuku-kuku dan lutut-lututnya seperti jarak antara satu langit dengan langit lainnya.. di atas punggung-punggung kedelapan kambing hutan itulah Arsy Allah bertempat… lalu Allah bersemayam di atas Arsy-Nya yang berada di atas punggung-punggung kambing hutan.
Bin baz mengatakan tinggi Allah 60 hasta kayak nabi adam.. La kalo kambingnya saja besar sekali kayak kata Muhammad bin Abdul Wahab ?? berati Tuhan wahabi maha kecil dong belum seujung kukunya KAMBING. Masih banyak pula contoh akidah generasi wahabi yang intinya disebutkan oleh sahabat dan kaum salaf sebagai akidah Musyabbih dan Mujassim yang di cap kafir oleh mereka.
nah… bagimana dengan Anda ?? Allah yang Anda yakini itu Allah dalam konteks sahabat, tabiin,  tabiut tabiin dll atau Allah berbentuk berhala yang memiliki tempat dan berbentuk seperti makhlukNya ??
Pada akhirnya saya hanya ingin sampaikan Firman Allah “…. Kursi Allah (tempat keberadaan Allah) meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Allah Maha Tinggi, lagi Maha Besar.” –(QS.2:255). “Maha Suci dan Maha Tinggi Dia, dari apa yang mereka katakan (sifatkan), dengan ketinggian yang sebesar-besarnya.” – (QS.17:43) dan (QS.21:22, QS.23:91, QS.37:159, QS.43:82).
“…. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami), supaya kamu memikirkannya.” – (QS.57:17) dan (QS.16:11, QS.2:164,QS.13:3, QS.16:67, QS.16:69).
“Dan sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia,dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih (dekat) kepadanya daripada urat lehernya,” –(QS.50:16).

Semoga ada manfaat bagi kita semua khususnya saudara saudariku Aswaja Paud agar tidak salah dalam ber akidah. intaha.

“ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TIDAK BERARAH”
by. Von Edison Alouisci
Fans Pages : http://www.facebook.com/von.edison.alouisci

Sebarkan Kebaikan Sekarang
loading...

Von Edison Alouisci

Von Edison Alouisci has written 18 articles

Masih Muda,Gaul,energik berasal dari Palembang Darussalam atau dikenal dengan kota hadramautnya Indonesia.dengan namanya yang ASING ditelinga dan lidah Indonesia sesungguhnya beliau Adalah ISLAM tulen sebagaimana umumnya nama nama EROPA barat yang beragama Islam.

beliau Adalah
-Peneliti dan penulis lepas paham paham ajaran Islam berpaham As sawad al a`zhom
-Senior/Ahli Bidang Tehnik Electro dan Electronika Disalah satu Perusahaan besar milik negara
-Anggota ORARI (Organasasi Radio Amatir Republik Indonesia) dgn Callsign YD4LLZ dibawah Lisensi Kominfo
-Cukup Menguasai Tehnologi IT
-Jebolan Al quds University,gaza.Palestina
-Berguru dengn beberapa Ulama secara langsung diberbagai tempat.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>