KISAH NYATA : SEORANG IBU YANG ANTI ULAMA

Di masjid yang jama’ahnya relatif “heterogen”, saya biasanya menyampaikan beberapa pendapat ulama, dengan dalil-dalil mereka secara singkat. Tujuannya, agar kita bisa saling menghormati “perbedaan berdasar dalil” yang terjadi di tengah umat, apalagi jama’ah satu masjid.

Masjid tempat sejuk mencari ketenangan dan keberkahan, bukan ruang panas untuk menyatakan “pendapat saya yang paling benar”. Kita berhak mengikuti suatu madzhab, tapi tidak berhak memaksa orang lain untuk mengikuti madzhab dan pendapat kita. Tentu, selagi semua berdasarkan dalil normatif.

Namun, di tengah menyampaikan pendapat para ulama, ada saja yang masih menganggap:

• “Itu kan omongan orang”.
•“Harusnya Anda langsung mengambil dari al-Qur’an dan Sunnah!”

Seperti pagi itu, saat menyampaikan kuliah subuh rutin di salah satu masjid di kota Malang. Materi yang saya sampaikan adalah fikih, salah satu disiplin ilmu yang penuh dengan khilaf ulama. Saat saya sampaikan beberapa pendapat itu, tiba-tiba ada jama’ah putri mengajukan interupsi. “Ustadz, seharusnya Anda langsung merujuk pada al-Qur’an dan Hadits. Jangan kata orang, kata orang!”

Pernyataan semacam ini sekilas benar dan luhur. Namun sangat tidak elok bila tujuannya untuk mempertentangkan pendapat (baca: hasil ijtihad) ulama dengan al-Qur’an dan Sunnah. Orang awam diteror dengan al-Qur’an, diteror dengan Rasulullah: “Itu kan kata kiaimu, bukan kata Allah dan Rasulullah!”

Saya mengajak pengaju interupsi itu menalar secara mendasar logikanya untuk kembali pada Qur’an Hadits. “Baik bu, kita sepakat untuk merujuk pada al-Qur’an dan Sunnah. Tapi kalau misalnya ada dua hadits, yang satu shahih, yang satu dha’if, ibu pilih hadits yang mana?”

“Jelas yang shahih,” jawab beliau.

“Lalu, siapa yang mengatakan hadits ini shahih, hasan, atau dha’if? Al-Qur’an, Rasulullah, apa ulama, yang menurut ibu ‘kata orang’ itu?”

Beliau tidak menjawab.

Saya tidak bermaksud “menskak” beliau. Tapi memang “kembali pada al-Qur’an dan Sunnah” adalah tugas para ulama mujtahid, bukan orang awam seperti kita ini.

Kita memiliki banyak keterbatasan untuk langsung mengambil kesimpulan hukum dari suatu dalil (istinbath al-ahkam).

Nyatanya, status suatu hadits itu shahih, hasan, atau dha’if pun, adalah produk ijtihad ulama (orang), bukan kata al-Qur’an dan Sunnah. Maka, merujuk ijtihad ulama, bukan berarti meninggalkan al-Qur’an dan Sunnah. Wallahu a’lam.

Oleh: ustadz faris khairul anam

Sebarkan Kebaikan Sekarang
loading...

Santri Admin

Santri Admin has written 833 articles

Comments

comments

One thought on “KISAH NYATA : SEORANG IBU YANG ANTI ULAMA

  1. nurim says:

    Terus saja dijelaskan pada umat. Sebenarnya umat pun hanya ikut-ikutan krn org-org yg menyerukan kembali pada Qur’an dan Sunnah, dalam menjalankan dakwah amat sangat rajin dan serius. Sang ibu terdiam ketika penjelasan ustadz masuk akal, sebenarnya hatinya masih bisa menerima kebenaran (semoga). Kalau hatinya sdh keras, tentunya akan ngeyel dan marah-marah.

    Sebenarnya seruan kembali pada Qur’an dan Sunnah itu sesuatu yg agung, tetapi menuduh bahwa kalau ikut ulama berarti tidak ikut Qur’an dan Sunnah tentunya tuduhan yg tidak benar. Ulama sejati tentunya selalu merujuk pada Qur’an dan Sunnah dlm merumuskan ijtihadnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>