Kisah Haru Sahabat Julaibib R.A

Imam Abdullah El-Rashied

Saat Rasulullah s.a.w. hijrah ke Madinah, Julaibib adalah anak kecil yang baru melewati usia 10 tahun. Tidaklah ia memenuhi kedua matanya dengan pandangan pada Rasulullah s.a.w. melainkan rasa cinta telah memenuhi segenap relung di hatinya. Hanya saja kala itu Julaibib lebih sibuk bermain dengan teman sebayanya. Yaitu teman-teman yang selalu membuatnya tentram dan merasa nyaman.

Julaibib tak memiliki keluarga tak pula harta benda. Dia menjadikan Masjid Nabawi sebagai rumahnya. Sedangkan Ahli Shuffah ia jadikan sebagai keluarga dan sahabatnya.Bersama Ahli Shuffah-lah Julaibib mendapatkan pasokan pangan dari Rasulullah s.a.w. dan dari orang-orang yang dermawan.

Julaibib adalah anak yang ringan pembawaannya dan senang bersenda-gurau, cepat bergaul dan mudah akrab. Ia senantiasa bermain di rumah Anshor di Yatsrib (Madinah). Ia suka menyebarkan kebahagiaan di tengah-tengah mereka. Ia senantiasa memgharumkan udara Madinah dengan apa yang ia kisahkan pada mereka dari cerita yang jenaka. Mereka pun tak pernah menutup pintu rumah dari Julaibib. Begitu halnya para wanita Anshor tak merasa risih padanya, sebab ia masih anak-anak yang belum dewasa.

*

Kini Julaibib mulai beranjak dewasa. Para suami-suami di Madinah memperingatkan istri dan anak gadisnya agar tak lagi bermain dengan Julaibib. Sebab ia sudah bukan anak kecil lagi sebagaimana kita ketahui sebelumnya. Maka dari itu wajib bagi para wanita menutup diri darinya. Tak pula memperkenankannya masuk ke rumah-rumah mereka sebagaimana sebelumnya.

Suatu ketika Rasulullah s.a.w. berkata pada Julaibib : “Tidakkah engkau menikah saja, hai Julaibib?”.
Dia menjawab : “Siapa yang akan menikahkanku wahai Rasulullah?, aku hanyalah pemuda miskin yang tak punya nafkah tak pula mas kawin”.
Nabi s.a.w. bersabda : “Aku yang akan mencarikanmu istri yang sholehah dan Allah-lah yang akan membuat kalian berdua kaya dengan agunerah-Nya”.

*

Di antara kebiasaan para Sahabat Nabi s.a.w. adalah ketika mereka ingin menikahkan anak gadis atau janda yang ditinggal wafat suaminya, maka mereka akan menawarkannya terlebih dahulu kepada Rasulullah s.a.w. sebelum ada yang melamarnya, agar mereka tahu apakah Rasulullah s.a.w., tertarik atau tidak pada putrinya tersebut.

*

Masa telah berlalu, dan tak ada satupun wanita yang telah disodorkan kepada Rasulullah s.a.w. yang cocok untuk Julaibib. Karena terlalu lama menunggu hal itu, akhirnya Rasulullah s.a.w. membuka perbincangan dengan salah seorang bapak-bapak dari kalangan Anshor : “Wahai Fulan, nikahkanlah Aku dengan anakmu, si Fulanah”.
Lelaki itu berbunga-bunga mendengar pinangan Rasulullah s.a.w. seraya menjawab : “Siap saya laksanankan Ya Rasulallah, sungguh ini adalah nikmat yang begitu besar aku bisa menjadi mertuamu”.
Lantas Rasulullah s.a.w. bersabda : “Bukan aku yang hendak menikahinya”.
Lelaki teresebut diam sesaat dan berkata : “Lantas, Engkau menginginkannya untuk siapa duhai Rasul?”
Rasulullah s.a.w. pun bersabda : “Untuk Julaibib”.
Seketika itu kebahagian yang memenuhi wajah lelaki tersebut menghilang, kemudian memberi tanggapan : “Beri aku waktu hai Rasulullah, hingga aku bisa bermusyawarah dengan ibunya. Sebab aku tidak ingin mengambil sebuah keputusan macam ini tanpa persetujuannya.

*

Lelaki itu kembali ke rumahnya dengan berat hati dan jiwa yanh letih. Dia sangat yakin bahwa istrinya tak kan pernah rela menjadikan Julaibib sebagai suami bagi putrinya. Sedangkan pada waktu yang sama, Sang Lelaki merasa tak enak jika harus menolak permintaan Rasulullah s.a.w. dan membuatnya kecewa, meskipun permintaan tersebut agak susah diwujudkan.

Saat ia tiba di rumah, ia memanggil istrinya : “Duhai istriku, kesinilah”. Sang Istri menjawab : “Ku penuhi panggilanmu”.

Suami : “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. telah meminang putrimu”.
Istri : “Putriku…., Rasulullah s.a.w. meminang putriku, oh alangkah bahagianya ia. Selamat datang hai Rasulullah s.a.w., tentu kami akan menikahkan putri kami dengan Rasulullah s.a.w.. Oh, adakah kemuliaan melebihi ini semua?
Lantas suaminya memotong perkataannya : “Tapi, sayangnya Rasulullah tidak ingin menikahinya untuk dirinya”.
Sang istri tercenung sesaat seraya berkata : “Lantas, dengan siapa beliau akan menikahkannya?”.
Suami : “Dengan Julaibib”.
Istri : “Julaibib? Mustahil, demi Allah aku tak kan menikahkannya dengan Julaibib”.
Suami : “Lantas apa yang harus aku katakan kepada Rasulullah s.a.w.?”.
Istri : “Terserah katakan apa saja pada beliau. Sampaikanlah pada beliau permintaan maaf yang sebesar-besarnya dengan berbagai alasan. Aku tak kan pernah rela menjadikan Julaibib sebagai suami bagi putriku dan aku tak kan pernah rela ia menjadi menantuku”.

Perbincangan antar keduanya kian memanas. Suara mereka kian meninggi. Sang suami meminta kerelaan sang istri dan meminta belaskasihannya. Namun sang istri enggan memenuhi permintaan suaminya seraya membentaknya.

Tatkala sang suami telah putus asa untuk membujuk istrinya dan hendak pergi menemui Rasulullah s.a.w. untuk menyampaikan keputusan akhir dari istrinya, sang putri tiba-tiba hadir di tengah-tengah mereka berdua. Dia telah mendengar sedikit ujung perbincangan yang terjadi antar keduanya, lantas ia berkata : “Siapa yang telah meminangku pada kalian?”.
Sang ibu menjawab : “Rasulullah s.a.w. yang telah meminangmu untuk Julaibib. Namun aku enggan untuk menikahkanmu dengannya. Gadis muda yang cantik dan terpandang sepertimu harusnya mendapatkan suami yang mulia pula”.
Sang putri berkata : “Celaka kalian! Apakah kalian hendak menolak perintah Rasulullah s.a.w.?” Demi Allah, sedikitpun aku tak kan pernah menolak permintaan Rasulullah s.a.w.. Penuhilah permintaan Rasulullah s.a.w.. Sebab Nabi Muhammad s.a.w. itu lebih diutamakan dari pada kaum Mukminin. Berikanlah aku pada Julaibib, dan percayalah Allah sekali-kali tak kan menyia-nyiakanku”.
Sang ibu terdiam dan menahan kepahitan semua ini.
Sang ayah akhirnya pergi menemui Rasulullah s.a.w. seraya berkata : “Terserah apa yang Engkau kehendaki wahai Rasulullah. Nikahkanlah putri kami dengan Julaibib”.
Legalah hati Rasulullah s.a.w. dan mendo’akan untuk putri tersebut :

اَللَّهُمَّ صُبَّ عَلَيهَا الخَيرَ صَبًّا، وَلاَ تَجعَل عَيشَهَا كَدًّا.

“Ya Allah, curahkanlah segala kebaikan kepadanya dan jangan Engkau jadikan kehidupannya dalam keletihan dan kesusahan”.
Lantas, Rasululllah menikahkannya dengan Julaibib.

*

Belum lama kebahagiaan Julaibib atas pernikahan itu terbentang dalam hitungan hari hingga Rasulullah s.a.w. menyerukan Jihad kepada kaum Muslimin bersamanya di Jalan Allah.

Julaibib bersegera memenuhi panggilan Jihad yang dikumandangkan oleh Nabi s.a.w.. Ia menyiapkan dirinya dan mengucapkan salam perpisahan kepada istrinya seraya pergi menemani Rasulullah s.a.w. berjihad di jalan-Nya.

*

Perang yang dikomandoi oleh Nabi s.a.w. telah usai, Allah pun menganugerahi kemenangan bagi kaum Muslimin. Rasulullah s.a.w. bersabda kepada para sahabatnya : “Adakah di antara kalian yang kehilangan (gugur)?”. Mereka menjawab : “Tidak, Ya Rasulullah”. Rasulullah s.a.w. bersbada : “Namun, aku kehilangan Julaibib, tolong cari dia”.

Para sahabat bergegas mencari keberadaan Julaibib di medan pertempuran. Ternyata dia telah menumpas 7 orang musyrik dengan pedangnya, lantas ia juga terbunuh di tengah-tengah mereka, karena terus maju tanpa pernah mundur. Para sahabat akhirnya kembali dan berkata kepada Rasulullah s.a.w. : “Lihatlah itu Julaibib, terbunuh di sekitar 7 orang musyrik yang ia bunuh”.

Rasulullah s.a.w. beranjak dan berdiri di sampingnya seraya bersabda : “Dia telah membuh 7 orang lantas ia terbunuh. Dia dariku dan aku darinya. Dia dariku dan aku darinya”.

Kemudian Rasulullah s.a.w. memerintah mereka untuk menggali kuburan untuknya. Setelah penggalian selesai, Rasulullah s.a.w. berdiri dan membawanya dengan kedua lengan beliau. Meletakkannya dengan kedua tangan beliau di tempat peristirahatan terakhirnya, lantas menutupnya dengan tanah.

*

Setelah masa ‘Iddah istri Julaibib selesai. Banyak sekali lelaki yang datang meminangnya. Sehingga tak ada seorangpun janda Anshor yang ditinggal mati suaminya yang mendapatkan lamaran terbanyak melebihi dirinya. Hal itu tak lain karena orang-orang sudah mengetahui bahwasannya Rasulullah s.a.w. telah mendo’akannya agar Allah mencurahkan segala kebaikan untuknya dan agar hidupnya tidak berada dalam keletihan dan kesusahan.[]

*

Ditulis di Mukalla – Yaman, 30 Rabiul Awal 1438 H / 29 Desember 2016.
Sumber :
Kitab Shuwar Min Hayat Al-Shahabah, jil. 2 hal 91, karya Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya.
Selengkapnya tentang Sahabat Julaibib r.a. bisa dilihat di sumber-sumber berikut ini :
1. Usud Al-Ghobah, juz 1 hal. 348. Karya Imam Ibn Al-Atsir.
2. Al-Ishobah, juz 1 hal. 242. Karya Imam Ibn Hajar Al-‘Asqolani.
3. Al-Isti’ab, juz 1 hal. 256. Karya Imam Ibn Abdilbar.
4. Ibn Hibban, juz 9 hal. 342.

Sumber : http://www.almasyhur.org/2016/12/30/biografi-sahabat-julaibib-r-a/

Sebarkan Kebaikan Sekarang
loading...

Santri Admin

Santri Admin has written 832 articles

Comments

comments

One thought on “Kisah Haru Sahabat Julaibib R.A

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>