Kisah Habib Ali Berguru Kepada Penjual Madu

Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al Habsyi mempunyai banyak guru yang merupakan ulama dan sufi termasyhur di Jazirah Arab. Sebut saja di antaranya Sayyid Umar bin Hasan Al Haddad yang mengajarkannya fikih dan Syekh Muhammad Khatib yang membimbingnya mempelajari Nahwu atau gramatikal Arab

Namun dari deretan guru-gurunya itu, ada seorang guru yang paling dekat di hati Habib Ali. Ia adalah seorang penjual madu yang ditemui Habib Ali di Kota Syir.

“Beliau (guru Habib Ali) menutup dirinya dengan berjualan madu, kemudian Habib Ali melihat cahaya luar biasa pada beliau dan melihat rahasia beliau, maka mereka tersambunglah,” ujar Habib Alwi bin Abdullah Al Idrus, saat mengisahkan perjalanan hidup Habib Ali Al Habsyi di Haul Habib Ali Al Habsy ke-106, di Masjid Ar Riyadh, Kota Solo, Jawa Tengah, Senin (8/1).

Selepas itu, lanjut dia, Habib Ali kembali bertemu dengan sang penjual madu di Masjid Syir. Di situlah Habib Ali mengenal penjual madu itu merupakan sosok waliyullah (kekasih Allah) bernama Habib Abu Bakar bin Abdullah Al Atos.

Kisah keduanya pun tertuang dalam manakib Habib Ali. Disebutkan, ketika keduanya duduk dengan jarak berdekatan, Habib Abu Bakar akan memalingkan wajahnya jika Habib Ali memandangnya.

Namun di saat Habib Ali tak memandangnya, Habib Abu Bakar justru berbalik memandang wajahnya dengan penuh hikmah. Dari Habib Abu Bakar-lah, Habib Ali mendapat bimbingan tentang hikmah dan rahasia-rahasia tersembunyi untuk berhubungan dengan Allah SWT dan Rasul-Nya.

“Dan begitulah bagaimana Abu Bakar memenuhinya (Habib Ali) dengan rahasia-rahasia, orang-orang tak mengenal kewalian Habib Abu Bakar, tapi Habib Ali mengenal,” jelasnya.

Habib Ali merupakan seorang sufi yang lahir di Qasam, Hadramaut, pada 24 Syawal 1259 Hijriyah atau 1839 Masehi. Ia merupakan putra dari Habib Muhammad bin Husain Al Habsyi dan Habibah Allawiyyah binti Husein bin Ahmad Al Hadi Al Jufri.

Sejak kecil, Habib Ali dikenal sebagai anak yang cerdas dam kuat dalam menghafal Alquran dan hadis. Ia pun kemudian membuat karya berupa kumpulan pujian-pujian untuk Rasulullah yakni Simtud Duror.

Di Indonesia, Simtud Duror sering dilantunkan terutaa saat maulid. Habib Ali meninggal di Hadramaut pada Ahad 20 Rabiul Tsani 1333 Hijriyah. Sepeninggalnya, keturunan Habib Ali menyebarkan pemikiran-pemikiran Habib Ali hingga ke tanah Indonesia dan bermukim di Solo, Jawa Tengah.

Sumber Republika

Sebarkan Kebaikan Sekarang
loading...

Santri Admin

Santri Admin has written 830 articles

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>