Biografi KH Mutawakkil Alallah, Sosok yang Penuh Inovasi

Biografi KH Mutawakkil Alallah, Sosok yang Penuh Inovasi

kh-mutawakkil-alallah

Santri Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Pobolinggo, Jatim
 
Mungkin sebagian dari kita belum pernah mampir ke Pesantren Genggong, pesantren yang diasuh oleh Ketua PWNU Jatim saat ini. Saya ingin memberikan sedikit gambaran mengenai sosok beliau.

Saya rasa setiap orang akan terkesima saat memasuki gerbang kompleks Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo, Jawa Timur. Di situ berdiri kokoh (bangunan permanen) lambang Nahdlatul Ulama (NU) yang cukup besar berukuran sekitar 5 x 4 meter persegi. Di bawah lambang tersebut tertulis, “Selamat Datang di Kota Santri Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo Jawa Timur.” Lambang ini sudah lama berdiri tegap sejak puluhan tahun yang lalu. Menunjukkan loyalitas Pesantren Zainul Hasan terhadap organisasi yang berasaskan Ahlussunnah wal Jamaah ini.

Memasuki kompleks pesantren ini sangat menyenangkan hati. Tiap pagi dan sore hari, muda-mudi berbusana rapi menyandang kitab suci, hilir mudik silih berganti pulang pergi mengaji. Gambaran penuh nuansa keagamaan yang kental. Pesantren ini sudah berusia 163 tahun, tepatnya didirikan tahun 1839 M/1250 H oleh Almarhum KH. Zainul Abidin dari keturunan Maghribi (Maroko) di Desa Karangbong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Pesantren Zainul Hasan yang kini memiliki sekitar 5000 santri dan memiliki lebih dari 30 pesantren cabang di seluruh indonesia ini diasuh saat ini oleh KH Mutawakkil Alallah, SH., MM.

KH Mutawakil Alallah dilahirkan di Genggong, 22 April 1959. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di Genggong. Kemudian sempat melanjutkan pesantren di Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Namun di pesantren yang diasuh KH Imam itu, tidak lama hanya sembilan bulan saja. Atas saran kedua orang tuanya itu, ia kemudian melanjutkan pendidikan menengah pada madrasah tsanawiyah dan aliyah di Pondok Pesantren Lirboyo dari 1979-1981. Saat di Lirboyo, Kediri; KH Marzuki, KH Mahrus Ali merupakan sosok idolanya dalam menjalankan konsep perjuangan.

Selepas itu beliau melanjutkan di Fakultas Syariah di Universitas Tribakti, Kediri sampai tingkat III. Lulus dari tingkat III (sarjana muda), KH Mutawakil rupa-rupanya punya keinginan untuk mencari pengalaman, ia kemudian menempuh ujian masuk persamaan di Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta dan diterima. Namun di UII ia tidak bertahan lama, di tengah kuliahnya ia mendapat tawaran beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar di Kairo (Mesir) semakin membangkitkan gairahnya untuk memperdalam ilmu agama yang menjadi latar belakangnya.

Saat menempuh kuliah di Al Azhar, Mesir pada 1983, ia berkesempatan untuk mencari pengalaman study tour ke luar negeri. Misal, ke Frankrut (Jerman), Polandia, Belgia dan Belanda. Saat itu, ia mengambil inisiatif untuk studi banding dengan biaya sendiri. Karena pada waktu itu, KH Mutawakil tidak mempunyai biaya yang cukup, ia kemudian mencari tambahan dana dengan bekerja apa saja, termasuk menjadi pelayan restoran di beberapa negara yang ia kunjungi.

Di tengah keasyikannya menuntut ilmu ternyata ia dijemput pulang oleh sang ayahanda, yakni KH. Saifurrizal pada tahun 1985. Setelah dijemput pulang, ia langsung mengajar di Pesantren Zainul Hasan. Tak berapa lama setelah ia pulang, ibunda dan ayahandanya pulang keharibaan Allah Swt. Akhirnya beliau dipasrahi kepengasuhan menggantikan abahnya KH Hasan Saifurrizal yang beliau rasa merupakan amanah berat yang harus dijalankan karena menurut beliau perjuangan agama adalah pertanggung jawaban di dunia dan akhirat. Dan beliau menikah dengan seorang muslimah dari Jember bernama Nyai Hj. Muhibbatul Lubabah dan dikaruniai enam orang putri.

Kemampuan keagamaan dan kepemimpinan beliau yang sangat mumpuni, juga  terobosan terobosannya yang mampu membangun Pesantren Zainul Hasan menjadi pesantren besar dengan jenjang pendidikan yang lengkap mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Semenjak kepemimpinan beliau Pesantren Zainul Hasan telah mendirikan SMA Unggulan BPTP Zainul Hasan,  MA Model, STIKES Hafshawati, Akbid dan Akper Hafshawati,  dan banyak lagi perkembangan pesat semenjak berada dibawah kepemimpinan beliau.

Beliau sosok kiai yang disegani banyak tamu dari kalangan menteri dan pejabat yang segan kepada beliau melihat beliau begitu teguh dalam memperjuangkan nilai nilai agama dan kebangsaan yang ditanamkan kepada setiap santri yang mondok di Pesantren Zainul Hasan. Beliau juga sangat demokratis menerima tamu dari berbagai kalangan tak jarang yang sowan kepada beliau dari kalangan sastrawan, budayawan bahkan artis.

Selain itu beliau merupakan sosok kiai yang mahir dalam berorganisasi baik keagamaan maupun sosial politik, kemampuan beliau berkomunikasi dengan berbagai lapisan masyarakat menjadikannya diterima oleh semua kalangan. Hingga kiprahnya dikenal banyak orang sebagai sosok kiai yang santun, bijaksana, tegas, dan berintegritas. Khususnya beliau memiliki loyalitas yang sangat tinggi terhadap organisasi terbesar yang ada di bumi pertiwi bahkan Asia yaitu Nahdlatul Ulama yang menjadi background-nya memperjuangkan akidah Ahlussunnah wal Jamaah.

Sosok kiai yang dikenal sangat menyukai angka sembilan ini akhirnya terpilih menjadi Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama dalam dua periode. Hingga hari ini beliau dalam kiprahnya menjadi Ketua PWNU Jatim banyak sekali inovasi yang mampu membangkitkan kembali gairah NU Jatim sesuai manhajnya di antara beliau mendirikanTV 9, channel televisi yang menjadi sarana dakwah Aswaja yang “santun menyejukkan” sekaligus beliau menjadi direktur utamanya. Selain itu beliau juga sangat aktif dan bersemangat dalam pengkaderan dan mengawal Nadlatul Ulama menjaga Aswaja di daerah daerah.

Ini merupakan salah satu bukti bahwa beliau ketika menjadi Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim, dirinya tidak hanya membangun pondasi keimanan dan ketakwaaan, tapi juga memperhatikan aspek sosial ke-umatan yang lain. Kita harus mampu merespon persoalan-persoalan kemasyarakatan dengan kreativitas yang tinggi. Baik di bidang keagamaan, ekonomi, pendidikan, teknologi dan politik, dalam hal ini politik kebangsaan,” tuturnya. “Islam akan kuat jika dibangun oleh iman dan takwa yang kokoh, serta ditopang oleh kekuatan ekonomi,” tuturnya

Sosok beliau yang lain adalah santun dan berakhlaqul karimah kepada siapapun. Beliau tetap menyempatkan menyapa tetangga dan masyarakat kecil jika bertemu. Penampilan beliau juga sangat sederhana dengan baju putih khas yang sering dikenakannya. Disela-sela kesibukan beliau yang begitu padat d iluar beliau tetap menyempatkan mengisi pengajian kitab kuning biasanya beliau mengisi pengajian Al-Hikam karya Ibnu Athoillah dan Tafsir Jalalain di pesantren. Kontrol beliau secara rutin atas kondisi santri menunjukkan tanggung jawabnya yang besar terhadap stabilitas dan kualitas pesantren dan santri. []

Sebarkan Kebaikan Sekarang
loading...

Ustaz Moh Nasirul Haq

Ustaz Moh Nasirul Haq has written 33 articles

NAMA : MOH NASIRUL HAQ, Lahir di Probolinggo,23 Mei 1991. Alumni UNIV. Hasyim Ash'ary Tebuireng Jombang JATIM, sedang menempuh pendidikan di UNIV. Imam Syafi'i Mukalla Hadromaut Rep. Yaman sejak 2013 hingga sekaran. Jago debat bahasa Arab dan Nasyid, sekarang menjadi A'wan syuriah PCINU yaman 2016-2017

Comments

comments

2 thoughts on “Biografi KH Mutawakkil Alallah, Sosok yang Penuh Inovasi

  1. Ali Nuri says:

    Assalamualaikum. Terimakasih atas informasinya. Mohon diinfokan juga Kyai dan Pesantrennya yg sama kerennya dgn pesantren Zainul Hasan untuk wilayah wilayah lain di jawa. Kebanyakan saat ini info teladan-teladan itu berasal dari kyai yang sudah meninggal dunia, jadi tidak bisa diziarahi dan diajak diskusi tentang permasalahan hidup di dunia. Mungkin buat yg aktif di NU tdk masalah krn bisa cari sendiri, tapi bagi masyarakat umum yg baru simpatisan atau baru dpt hidayah tidak tahu harus mengunjungi kyai yang mana. Efeknya cukup banyak juga masyarakat umum yg berguru pd org yang salah, pengennya ke kyai malah dapatnya dukun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>