Pondok pesantren Sunniyah Salafiyah yang terletak di jalan raya Sidogiri Km 1 Pasuruan, tepatnya di desa Sungai Wetan, kecamatan Kraton kabupaten Pasuruan Jawa Timur.
Pesantren yang dirintis pertama kali oleh Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf ini tampak begitu sejuk, dengan lokasi yang berada di kelilingi hamparan persawahan, juga pepohonan rindang yang sangat meneduhkan. Sunniyah Salafiyah pada awalnya dirintis Habib Taufiq dengan modal seadanya. Beliau membuka pengajaran agama dengan murid seadanya dan di tempat yang seadanya pula. Di kediaman beliaulah Habib Taufiq mulai mengembangkan khazanah ilmu yang beliau miliki, yaitu di daerah Kauman kota Pasuruan.
Dari kecil menjadi besar, tidak bisa menjadi bisa, biasa menjadi luar biasa, dan tidak ada menjadi ada, sebuah filosofi kehidupan yang harus dijalani setiap mahluk. Begitu juga dengan pesantren Sunniyah Salafiyah, kesederhanaan dan serba keterbatasan pada masa-masa awal berdirinya kini telah berubah menjadi pohon besar yang tidak hanya berdiri kokoh dengan akar-akar tertancap kuat, tapi juga bercabang-cabang, memiliki ranting yang menjulang panjang, dengan dedaunan yang rindang sebagai ayoman, pun buah-buahnya yang ranum menyegarkan, yang siap dipetik kapan saja. Pondok pesantren asuhan Habib Taufiq ini kini telah menjelma sebagai sebuah lembaga yang tak henti menelorkan kader-kader Islami demi keberlangsungan Islam di muka bumi ini.
Melebarkan Jaringan Dakwah
Tantangan zaman yang semakin tak bersahabat, membuat Habib Taufiq tak hanya sekadar mengkader calon-calon da’i, tapi juga mengirimkan para santri yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan untuk diterjunkan langsung ke daerah-daerah yang masih minus islam.
Setelah itu, guna memperlancar dan lebih melebarkan jaringan dakwah Habib Taufiq pun berinisiatif membangun lembaga pendidikan agama atau madrasah di daerah-daerah minus Islam tersebut. Sebelum mendirikan madrasah yang kemudian menjadi cabang dari pesantren Suniyah Salafiyah ini, Habib Taufiq akan melakukan peninjauan berulang kali.
Pembinaan serta pemantauan ini kini menjadi prioritas utama Habib Taufiq, tak pelak beliau pun mengurangi jadwal ceramah keluar demi mengutamakan para santri. Bahkan beliau sangat menginginkan punya waktu khusus untuk bisa datang langsung ke cabang-cabang sunniyah, sebab kata beliau: “Kita serig kecolongan oleh pihak non muslim yang juga menjalankan misi mereka. Seperti pernah kita temui kalangan Misionaris semakin gencar mendirikan gereja-gereja di daerah Tengger Tosari Pasuruan. Untuk melancarkan usahanya itu mereka berhasil mengkristenkan kepala desa di dareah itu. Persoalan itu yang kini harus lebih diperhatikan.”
Berdakwah Lewat Media
Semangat dakwah Habib Taufiq yang begitu menggebu, membuat beliau dalam setiap pertemuan selalu menekankan betapa pentingnya gerakan dakwah dengan berbagai cara. Komitmen ini dibuktikan Habib Taufiq dengan banyak memberikan ceramah-ceramah atau pengajian-pengajian baik di sekitar Pasuruan atau sampai ke luar kota di seluruh Indonesia.
Tidak sampai di situ saja kobaran semangat dakwah Habib Taufiq. Belum puas dengan cara dakwah konvensional, beliau pun mendirikan sebuah majalah dakwah yang bertajuk “Cahaya Nabawiy”, yang mulanya bernama “Pemuda Nabawiy”. Setelah berdakwah bil lisan, kemudian bil kithabah yang tidak sedikit rintangannya. Namun berkat keyakinan beliau dan pertolongan Allah, Cahaya Nabawiy kini telah mampu menembus pasar hingga 11.000 eksemplar tiap kali terbit.
Cahaya Nabawiy ternyata juga belum bisa memuaskan semangat dakwah cucu Habib Ja’far bin Syaikhan Assegaf ini. Beliau kembali melebarkan sayap dakwahnya dengan mendirikan stasiun radio dakwah “Suara Nabawiy”. Bermodal managemen dan dana seadanya, Suara Nabawiy awalnya merangkak, bahkan semua crew Suara Nabawiy pun terdiri dari para tim yang hanya belajar broadceast secara autodidak saja. Namun apa pun kendalanya, the show must go on, perjuangan harus terus berjalan. Dengan tekat kuat, kini Suara Nabawiy sebagai satu-satunya radio dakwah di daerah Pasuruan yang semakin diperhitungkan oleh berbagai pihak.
Setelah sukses dengan Cahaya Nabawiy magazine dan radio dakwah Suara Nabawiy, Habib Taufiq berniat untuk menyempurnakannya dengan mendirikan stasiun televisi dakwah. Sebab menurut beliau sudah saatnya Islam memiliki jaringan dakwah yang lebih luas lagi. Non muslim serta paham-paham sebrang kini telah menguasai seluruh jaringan media masa, sementara Islam masih juga belum sadar bahwa dia terus dicekoki dengan sajian-sajian, tontonan-tontonan yang di dalamnya mengandung unsur kristenisasi yang perlahan menggerogoti akidah bangsa.
Sistem Pendidikan Akselerasi Berbasis Kompetensi
Pesantren Sunniyah Salafiyah –sebagaimana namanya- pun berbasis salaf dengan mengajarkan berbagai disiplin ilmu agama. Pondok ini juga mengadopsi konsep Accelerated Learning (percepatan pembelajaran) dan KBK (kuikulum berbasis kompetensi)
Seluruh santri diwajibkan masuk kelas Ibtida’ (kelas pembekalan). Di sini para santri dibekali materi-materi tauhid, fiqih juga lughah Arab. Kelas ini berlangsung maksimal lima tahun yang di pusatkan pada Pondok cabang , namun bisa juga diselesaikan kurang dari lima tahun , tergantung kemampuan santri. Setelah itu setiap santri diwajibkan memilih satu dari dua kelas takhasus (spesialisasi, yang berada di pondok pusat Pasuruan ) . Pertama, kelas khusus Tahfidz al-Qur’an (menghafal Al Qur’an), selain fokus mempelajari dan mengahafal al-Qur’an, para santri yang memilih kelas ini juga tetap dibekali materi Fiqh dan Nahwu, Shorof, hanya saja materi tambahan itu tidak wajib dihafalkan, karena dianggap cukup dengan apa yang didapat di kelas ibtida’. Kedua, Tarbiah (Kelas Syari’ah + Bahasa) dengan penajaman ilmu Fiqh, Ushul Fiqh, al-Qawaid al-Fiqhiyah, Nahwu, Shorof, balaghoh dan Insya’ (mengarang dalam bahasa Arab), juga diwajibkan menghafal kitab Zubad yang berisi 1.070 bait (Sya’ir) fiqh dan juga diwajibkan menghafalkan Alfiyah Ibnu Malik 1.002 bait.
Kedua kelas spesialisasi atau takhasus ini diselesaikan dalam tiga tahun. Terkadang ada santri yang mengikuti dua kelas takhasus tergantung dari tingkat kemampuan individual.
Sebenarnya Habib Taufiq mempunyai angan-angan untuk membuat Qismut Takmilah(kelas penyempurna), jadi setelah kelas takhasus para santri akan dibekali agar dia benar-benar siap terjun di masyarakat. Selain materi ilmu agama yang menjadi prioritas utama, Sunniyah Salfiyah juga tidak lupa memberikan beberapa ilmu tambahan untuk menunjang dakwah mereka kelak, seperti ketrampilan komputer, bahasa Inggris, organisasi, jurnalistik, broadcreast dan lain-lain.
Para santri berprestasi setelah menyelesaikan jenjang di Sunniyah Slafiyah akan diberikan izin untuk dapat menempuh study ke Hadramaut Yaman, Mesir, Makkah Atu Madinah. Dengan demikian pesantren ini terus bergerak maju untuk menegakkan panji-panji Islam, selalu waspada dengan lawan yang siap menghancurkan Islam dengan berbagai cara dan sudut yang tak terduga.