Ngaji Bid’ah Dari Ulama’ Salaf

MENURUT  ULAMA DI LUAR MADZHAB EMPAT

  1. Ibnu Hazm az-Zahiri

والبدعة : كل ما قيل أو فعل مما ليس له أصل فيما نسب إليه صلى الله عليه وآله وسلم وهو في الدين : كل ما لم يأت في القرآن ولا عن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم إلا أن منها ما يؤجر عليه صاحبه ويعذر بما قصد إليه من الخير ومنها ما يؤجر صاحبه عليه ويكون حسنا وهو ما كان أصله الإباحة كما روي عن عمر رضي الله عنه نعمت البدعة هذه وهو ما كان فعل خير جاء النص بعموم استحبابه وإن لم يقرر عمله في النص -ومنها ما يكون مذموما ولا يعذر صاحبه وهو ما قامت به الحجة على فساده فتمادى عليه القائل به

 “Bid’ah dalam agama adalah segala hal yang datang pada kita dan tidak disebutkan didalam al-Qur’an atau Hadits Rasulullah SAW. Ia adalah perkara yang sebagiannya memiliki nilai pahala, sebagaimana yang diriwayatkan dari Sayyidina`Umar RA: “Alangkah baiknya bid’ah ini!.” Ia merujuk pada semua amalan baik yang dinyatakan oleh nash (al-Qur’an dan Hadits) secara umum, walaupun amalan tersebut tidak ddijelaskan dalam nas secara khusus. Namun, Di antara hal yang baru, ada yang dicela dan tidak dibolehkan apabila ada dalil-dalil yang melarangnya. (Ibnu Hazm, “al Ihkam fi Usul al Ahkam”, I : 47)


 

  1. Imam Shan`ani

Al-Imam Muhammad bin Isma’il Al-Shan’ani, muhaddits dan faqih bermadzhab Zaidi, juga membagi bid’ah menjadi lima. Dalam kitabnya Subulus Salam Syarah Bulughul Maram, beliau mengatakan:

الْبِدْعَةُ لُغَةً: مَا عُمِلَ عَلَى غَيْرِ مِثَالٍ سَابِقٍ، وَالْمُرَادُ بِهَا هُنَا: مَا عُمِلَ مِنْ دُوْنِ أَنْ يَسْبِقَ لَهُ شَرْعِيَّةٌ مِنْ كِتَابٍ وَلاَ سُنَّةٍ وَقَدْ قَسَّمَ الْعُلَمَاءُ الْبِدْعَةَ عَلَى خَمْسَةِ أَقْسَامٍ: وَاجِبَةٍ كَحِفْظِ الْعُلُوْمِ بِالتَّدْوِيْنِ وَالرَّدِّ عَلىَ الْمَلاَحِدَةِ بِإِقَامَةِ اْلأَدِلَّةِ، وَمَنْدُوْبَةٍ كَبِنَاءِ الْمَدَارِسِ، وَمُبَاحَةٍ كَالتَّوْسِعَةِ فِيْ أَلْوَانِ الطَّعَامِ وَفَاخِرِ الثِّيَابِ، وَمُحَرَّمَةٍ وَمَكْرُوْهَةٍ وَهُمَا ظَاهِرَانِ؛ فَقَوْلُهُ: «كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ» عَامٌّ مَخْصُوْصٌ

“Bid’ah menurut bahasa adalah sesuatu yang dikerjakan tanpa mengikuti contoh sebelumnya. Yang dimaksud bid’ah di sini adalah sesuatu yang dikerjakan tanpa didahului pengakuan syara’ melalui Al-Quran dan Sunnah. Dan ulama telah membagi bid’ah menjadi lima bagian: 1) bid’ah wajib seperti memelihara ilmu-ilmu agama dengan membukukannya dan menolak terhadap kelompok-kelompok sesat dengan menegakkan dalil-dalil, 2) bid’ah mandubah seperti membangun madrasah-madrasah, 3) bid’ah mubahah seperti menjamah makanan yang bermacam-macam dan baju yang indah, 4) bid’ah muharramah dan 5) bid’ah makruhah, dan keduanya sudah jelas contoh-contohnya. Jadi hadits “semua bid’ah itu sesat”, adalah kata-kata umum yang dibatasi jangkauannya.” (Subul Al-Salam, 2/48).

KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa para ulama terkemuka dalam setiap kurun waktu mulai dari Imam Syafi’i, Ibnu Abdil Barr, Ibnul Arabi, Ibnu Atsir, Izzuddin bin Abdis Salam, an Nawawi, al Hafizh Ibnu Hajar, al Aini, As Shan’ani, dan masih banyak ulama-ulama lain yang tidak dikutip di sini, membagi bid’ah secara umum menjadi dua bagian, yaitu bid’ah hasanah dan bid’ah madzmumah. Dan bahkan lebih rinci lagi, bid’ah itu dapat dibagi menjadi lima bagian sesuai dengan jumlah hukum-hukum yang berlaku dalam agama.

Demikianlah pendapat para imam besar yang telah terekam dalam berbagai kitab turats (klasik). Masih banyak lagi yang tidak sempat terekam pendapatnya, karena memang ketika itu penulisan kitab tidak semudah sekarang. Setidaknya, ketika mereka diam berarti mereka setuju, karena kalau memang mereka menganggap pendapat Imam Syafii sebagai kesesatan, maka tidaklah mungkin mereka diam saja tanpa menulis buku kritikan. Pendapat Imam Syafii diterima oleh ulama di zaman beliau hingga ulama berikutnya. Barulah pada abad akhir ini muncul segolongan ulama yang menyalahkan pendapat para Imam besar hujjatul-Islam tersebut, bahkan berani menganggap pendapat imam-imam besar tersebut adalah sesat.

Saudaraku, Ketika kita sama-sama berguru dan berpendapat menurut guru, maka bersyukurlah karena kita berguru pada Imam-imam besar seperti Imam Syafii sang perintis madzhab, an Nawawi sang ahli Hadits penulis Syarah Shahih Muslim, al Ghazali sang Hujjah penulis Ihya Ulumiddin, al Baihaqi sang ahli dan perawi Hadits, as Suyuthi sang pakar berbagai disiplin Ilmu Islam, Ibnu Hajar al Asqalani sang ahli Hadits penulis Syarah Shahih al Bukhari, al Qurthubi sang pakar dan penulis kitab Tafsir, al Qasthalani sang ahli Hadits penulis Syarah Shahih al Bukhari dan sebagainya.

“Kalaulah guru-guru kita itu dianggap sesat. Lalu siapa ulama yang bisa dibanggakan oleh umat Islam.”

Mereka yang dianggap sesat itu telah mengharumkan nama Islam dengan pemikiran dan karya-karya mereka. Coba kita tanyakan pada hati kita, seandainya kita harus memilih, siapa yang sebaiknya yang tidak pernah hidup di dunia ini, Imam Syafii dan sebagainya atau ulama abad ini yang menganggap Imam Syafii sesat? Apa yang kita miliki kalau kita mencoret nama-nama mereka dan membuang karya-karya mereka dari rak buku kita.

Apa yang tersisa dari khazanah keilmuan Islam kalau kita membuang kitab-kitab Imam Syafii, Syarah Shahih Muslim  (an Nawawi), kitab Ihya’ Ulumiddin, Fathul Bari, Irsyadussari, Syarah Muwattha’ (az Zarqani), Syarhul Misykah dan sebagainya.

Kalau mereka dianggap sesat dan karya-karya mereka dicekal, maka yang tersisa dari kekayaan umat Islam adalah ulama pencaci maki dan buku-buku yang dipenuhi dengan cacian kepada ulama salaf.

Bahkan menurut sebagian saudara kita dari kelompok Wahhabi atau “salafi”, seagung imam Bukhari pun dianggap kafir saat mentakwil ayat “wajah” bagi Allah dengan “kekuasaan.” Sedangkan saudara kita yang satu ini selalu membawa hadits-hadits riwayat Imam Bukhari dalam taklim dan ceramahnya.

Pembesar ulama hadits sekelas imam Nawawi serta imam Ibnu Hajar al Asqolani pun dianggap kafir dan sesat karena beraqidah Asyariyyah.

La hawla wala quwwata illa billah..

Marilah saudaraku.. Kita fahami agama ini dengan ilmu dan ulama-ulamanya. Buang jauh fanatisme madzhab, guru, aliran dan sebagainya agar kita bisa lebih dewasa dan matang dalam memahami Islam yang agung dan damai serta terbentuk ukhuwwah saling menghargai sesama terutama kepada para ulama-ulama Islam pewaris Rasulullah SAW.

Mari kita berdoa dan berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat dan sesatnya pemahaman serta panjangnya kurun permusuhan diantara kita.


 

Tambahan

Pembagian Bid’ah versi Wahhabi

Menurut Wahhabi bid’ah tidak boleh dibagi karena memahami dengan salah sabda Nabi SAW setiap bid’ah adalah sesat. Tapi fakta tidak bisa berbohong, banyak bid’ah yang ternyata tidak sesat. Dan sebagian ulama rujukan wahabi pun tidak punya cara lain selain membagi bid’ah dengan versinya sendiri tidak dengan versi ulama ahlus sunah terdahulu, karena terlanjur malu telah menyesatkan pendapat ulama ulama tersebut. Berikut sebagiannya:

  1. Syaikh Utsaimin

Syaikh yang menjadi pentolan Wahabi, yang ucapannya tidak dapat diganggu-gugat di kalangan Wahabi ini mengatakan dalam kitabnya:

ﺍﻷﺻﻞ ﻓﻲ ﺃﻣﻮﺭ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺍﻟﺤﻞ ﻓﻤﺎ ﺃﺑﺘﺪﻉ ﻣﻨﻬﺎ ﻓﻬﻮ ﺣﻼﻝ ﺇﻻ ﺃﻥ ﻳﺪﻝ ﺍﻟﺪﻟﻴﻞ ﻋﻠﻲ ﺗﺤﺮﻳﻤﻪ ﻟﻜﻦ ﺃﻣﻮﺭ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﻷﺻﻞ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﺤﻈﺮ ﻓﻤﺎ ﺃﺑﺘﺪﻉ ﻣﻨﻬﺎ ﻓﻬﻮ ﺣﺮﺍﻡ ﺑﺪﻋﺔ ﺇﻻ ﺑﺪﻟﻴﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﻋﻠﻲ ﻣﺸﺮﻭﻋﻴﺘﻪ

Artinya: “Hukum asal perbuatan baru dalam urusan-urusan dunia (Bid’ah dunia-red) adalah halal. Jadi bid’ah dalam urusan-urusan dunia itu halal kecuali ada dalil yang menunjukan keharamannya. Tetapi hukum asal perbuatan baru dalam urusan agama (Bid’ah agama-red) adalah dilarang. Jadi berbuat bid’ah dalam urusan agama adalah haram dan bid’ah kecuali ada dalil dari al-Kitab dan as-sunah yang menunjukan disyari’atkannya.”(Syarah Aqidah al Wasithiyah: 639)

Dan bid’ah pun terbagi menjadi bid’ah dunia dan bid’ah agama. Padahal tadinya dikatakan semua bid’ah adalah sesat sat sat...

 

  1. Syeikh Sholeh bin Abdul Aziz Alu Syaikh

Syeikh Sholeh bin Abdul Aziz tokoh wahabi berdarah ningrat karena merupakan salah satu turunan dari Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitabnya mengatakan:

ﺇﺫﻥ ﺣﺼﻠﻨﺎ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻧﻮﻋﺎﻥ : ﺑﺪﻉ ﺃﺻﻠﻴﺔ : ﻭﻫﻲ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﻜﻮﻥ ﻣﺤﺪﺛﺔ ﻣﻦ ﺣﻴﺚ ﺍﻷﺻﻞ ﻭﻣﻦ ﺣﻴﺚ ﺍﻟﻮﺻﻒ . ﻭﺑﺪﻉ ﺇﺿﺎﻓﻴﺔ : ﻳﻜﻮﻥ ﺃﺻﻠﻬﺎ ﻣﺸﺮﻭﻋﺎ؛ ﻭﻟﻜﻦ ﻫﻴﺄﺗﻬﺎ ﻣﺤﺪﺛﺔ ﻣﻦ ﻣﺜﻞ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓُ ﻭﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺂﺫﻥ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻔﺮﺍﻍ ﻣﻦ ﺍﻷﺫﺍﻥ، ﻭﻣﻦ ﻣﺜﻞ ﺍﻻﺟﺘﻤﺎﻉ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺬﻛﺮ ﻋﻠﻰ ﻧﺤﻮ ﻣﻌﻴﻦ ﺑﺼﻔﺔ ﻣﻌﻴﻨﺔ ﻣﻠﺘﺰﻣﺔ . ﻓﻬﺬﺍ ﻣﻦ ﺣﻴﺚ ﻫﻮ ﻣﺸﺮﻭﻉ ﻓﻲ ﺍﻷﺻﻞ؛ ﻷﻥ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓُ ﻭﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻣﺄﻣﻮﺭ ﺑﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ؛ ﻟﻜﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻬﻴﺌﺔ ﺟﻌﻠﺖ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﻬﻴﺌﺔ ﻣﺨﺘﺮﻋﺔ، ﻓﺴُﻤّﻴﺖ ﺑﺪﻋﺔ ﺇﺿﺎﻓﻴﺔ ﻟﻴﺴﺖ ﺃﺻﻠﻴﺔ ﻷﻥ ﺃﺻﻠﻬﺎ ﻣﺸﺮﻭﻉ؛ ﻟﻜﻨﻬﺎ ﺇﺿﺎﻓﻴﺔ ﻳﻌﻨﻲ ﺃﻥ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺟﺎﺀﺕ ﻣﻦ ﺣﻴﺚ ﺍﻟﻬﻴﺌﺔ، ﻻ ﻣﻦ ﺣﻴﺚ ﺍﻷﺻﻞ، ﻓﻬﺬﺍ ﺍﻟﻨﻮﻉ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻌﺒﺪ ﺑﻬﺎ ﺑﺪﻋﺔ؛ ﻟﻜﻦ ﺃﺻﻠﻬﺎ ﻣﺸﺮﻭﻉ .

Artinya: “Dengan begitu maka kita simpulkan bahwa bid’ah terbagi menjadi dua macam.

(Pertama), Bid’ah Asliyah, yaitu hal baru dilihat dari segi asal dan sifat. (Kedua) Bid’ah Idhofiyah yaitu asalnya disyariatkan, tetapi cara/bentuknya adalah hal baru. Seperti membaca sholawat atas Nabi setelah selesai azan. Contoh lainnya adalah berkumpul untuk berzikir dengan sifat tertentu. Contoh-contoh ini pada asalnya disyariatkan. Sebab membaca sholawat atas nabi merupakan perintah al-quran dan hadits. Tetapi cara pelaksanaanya adalah merupakan hasil ciptaan. Maka Bid’ah ini disebut sebagai bid’ah idhofiyah, bukan bid’ah asliyah sebab pada asalnya ia disyariatkan. Tetapi bid’ah tersebut hanya merupakan idhofiyah, yakni bid’ah dilihat dari segi cara pelaksanaannya bukan dilihat dari segi asalnya. Ini adalah merupakan ibadah yang bid’ah tetapi pada asalnya ia disyariatkan.” (as Sunah wal Bidah: 7)

Sekarang bid’ah terbagi menjadi dua yaitu bid’ah Asli dan Bid’ah tambahan (idhofiyah).


 

  1. Syekh Ibnu Taimiyah.

Ibnu Taimiyah, salah satu ulama sakti rujukan kaum Wahabi. Dalam salah satu fatwanya berkata:

ﻭﻣﻦ ﻫﻨﺎ ﻳﻌﺮﻑ ﺿﻼﻝ ﻣﻦ ﺍﺑﺘﺪﻉ ﻃﺮﻳﻘﺎ ﺍﻭ ﺍﻋﺘﻘﺎﺩﺍ ﺯﻋﻢ ﺃﻥ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﻻ ﻳﺘﻢ ﺇﻻ ﺑﻪ ﻣﻊ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺄﻥ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﻟﻢ ﻳﺬﻛﺮﻩ ﻭﻣﺎ ﺧﺎﻟﻒ ﺍﻟﻨﺼﻮﺹ ﻓﻬﻮ ﺑﺪﻋﺔ ﺑﺎﺗﻔﺎﻕ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﺧﺎﻟﻔﻬﺎ ﻓﻘﺪ ﻻ ﻳﺴﻤﻰ ﺑﺪﻋﺔ . ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺑﺪﻋﺎﺗﺎﻥ ﺑﺪﻋﺔ ﺧﺎﻟﻔﺖ ﻛﺘﺎﺑﺎ ﻭﺳﻨﺔ ﻭﺇﺟﻤﺎﻋﺎ ﻭﺃﺛﺮﺍ ﻋﻦ ﺑﻌﺾ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻬﺬﻩ ﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ . ﻭﺑﺪﻋﺔ ﻟﻢ ﺗﺨﺎﻟﻒ ﺷﻴﺌﺎ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻭﻫﺬﻩ ﻗﺪ ﺗﻜﻮﻥ ﺣﺴﻨﺔ ﻟﻘﻮﻝ ﻋﻤﺮ ﻧﻌﻤﺖ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻫﺬﻩ . ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﺃﻭ ﻧﺤﻮﻩ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﺑﺈﺳﻨﺎﺩﻩ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺪﺧﻞ

Artinya: “Dari sini diketahui kesesatan orang yang membuat jalan atau aqidah yang menganggap bahwa iman tidak sempurna kecuali dengan jalan atau aqidah itu bersamaan dengan itu ia mengetahui bahwa Rosul tidak menyebutkannya dan sesuatu yang bertentangan dengan nas maka semua itu adalah bid’ah sesuai dengan kesepakatan umat islam. Sedangkan bid’ah yang tidak diketahui bertentangan dengan nas, maka sesungguhnya terkadang ia tidak disebut bidah.

Imam Syafii berkata: Bid’ah ada dua.

(Pertama) Bid’ah yang bertentangan dengan kitab, sunah, ijma dan asar dari sebagian sahabat nabi, maka ini adalah bid’ah yang sesat. (Kedua) bid’ah yang sama sekali tidak bertentangan dengan empat hal tersebut maka bid’ah ini terkadang baik sebab ucapan Umar : ini adalah sebaik-baik bidah. Ucapan ini dan yang semisalnya diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad shohih dalam Al-Madkhol.” (Majmu al Fatawa, 20/163)

Jadi menurut Ibn Taimiyah bid’ah itu ada dua. Pertama, Bid’ah yang bertentangan dengan nash. Bid’ah ini disebut sebagai bid’ah dholalah. Kedua, Bid’ah yang tidah bertentangan dengan nas. Bid’ah ini disebut sebagai bid’ah hasanah.

Jika kaum Wahabi mau meninggalkan gengsinya, tidak perlu repot-repot membuat pembagian bid’ah versi baru. Cukup ikuti saja ucapan para ulama salaf dan khalaf bahwa bid’ah itu ada secara umum ada dua bid’ah hasanah dan bid’ah dholalah. Sedangkan secara terperinci hukumnya ada lima sesuai dengan hukum yang ada di dalam ilmu fiqih: Wajib, Haram, Sunah, Makruh dan Mubah.

Sebarkan Kebaikan Sekarang

Pages:

loading...

Santri Admin

Santri Admin has written 839 articles

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>