Khuthbah Jumat : Kemarau Panjang Akibat Dosa Manusia

MUSIBAH KEMARAU PANJANG AKIBAT DOSA MANUSIA (EDISI KHUTHBAH JUM’AT)

shalat-istisqa-

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَمُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَهَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ الْبَشِيْرِ وَالنَّذِيْرِالَذِيْ تَنْفَتِحُ بِهِ أَبْوَابُ الْخَيْرِ وَتَنْغَلِقُ بِهِ أَبْوَابُ الشَّرِّ وَعَلَى آلِهِ الأَطْهَارِ وَأَصْحَابِهِ الأَخْيَارِ اَمَّابَعْدُ..

فَيَا عِبَادَالله اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَاْلمُتَّقُوْنَ.َ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْن. وَاسْتَغْفِرُوْ رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارً

وَقَالَ اللهُ تَعَلَى فِى كِتَابِهِ اْلكَرِيْمِ وَهُوَ اَصْدَقُ اْلقَائِلِيْنَ. اَعُوْذُ بِااللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُون.

Segala puji bagi Allah yang di tangan-Nya perbendaharaan langit dan bumi, bagi-Nya lah kepemilikan dan bagi-Nya segala pujian dan Dia menyaksikan segala sesuatu. Dia memiliki hikmah dalam segala keputusannya baik dalam syari’atNya maupun dalam taqdir yang ditetapkan-Nya. Dia melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya dan menghukum dengan yang Dia inginkan. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, tidak ada syarikat bagi-Nya, Dzat yang Maha melindungi dan Maha terpuji. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, penutup para nabi dan merupakan pimpinan para nabi dan merupakan hamba yang paling mulia. Semoga Allah memberikan shalawat kepada Nabi dan kepada keluarganya dan para sahabatnya serta para pengikutnya yang setia dengan baik hingga hari kiamat.

Kaum muslimin hamba-hamba Allah yang telah terpilih untuk menjadi hamba yang sadar bahwa segala sesuatu yang ditimpakan oleh Allah kepada hambanya adalah harus menjadi bahan untuk kita belajar dekat kepada Allah .

Sesungguhnya kita semua jika sebagai makhluk yang tercipta dengan memiliki sifat keluh kesah mengeluhkan tentang kemarau panjang ini dan “terlambatnya hujan” dari waktu turunnya, maka yang paling tepat bagi kita adalah mencari tahu penyebabnya agar kita menyadari dan menjauhinya. Dan sesungguhnya di antara sebab terbesar dari “terlambatnya turun hujan” adalah kelalaian kita sebagai manusia dari beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kerasnya hati disebabkan kotoran berupa dosa dan maksiat, sikap kita sering meremehan dalam merealisasikan keimanan dan takwa serta lalainya kita dalam menunaikan kewajiban shalat dan membayar zakat.

Maka durhaka (maksiat) terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebab paling mendasar dalam setiap musibah yang menimpa manusia, baik dalam skala pribadi maupun masyarakat. Dosa-dosa telah membinasakan ummat-ummat terdahulu yang hidup sebelum kita, dan ia juga akan membinasakan kita sebagaimana telah membinasakan mereka, jika kita tidak meninggalkannya dan bertaubat.

Wahai kaum Mu’minin rohimakumulloh……..

Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam meminta kaum Muhajirin agar mewaspadai munculnya lima bala atau bencana yang disebabkan oleh lima dosa. Agar pemahaman kita utuh marilah kita perhatikan kelengkapan hadits tersebut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ أَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

Dari Abdullah bin Umar dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadapkan wajah ke kami dan bersabda: “Wahai golongan Muhajirin, lima perkara apabila kalian mendapat cobaan dengannya, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mengalaminya; (1) Tidaklah kekejian menyebar di suatu kaum, kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit Tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi terhadap para pendahulu mereka. (2) Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim. (3) Tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit akan berhenti meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak akan beri hujan. (4) Tidaklah mereka melanggar janji Allah dan Rasul-Nya kecuali Allah akan kuasakan atas mereka musuh dari luar mereka dan menguasainya. Dan (5) tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan rasa takut di antara mereka.” (HR Ibnu Majah)

Dan obat dari itu semua adalah taubat dan istighfar. Maka musibah kita adalah disebabkan dosa-dosa kita dan obatnya adalah Istighfar. Dan kita tidak ingin saling menyalahkan, sehingga si pedagang datang dan berkata:”Kami tidak diberi hujan karena para petani tidak membayar zakat.” Atau si petani datang dan berkata ”Kami tidak diberi hujan disebabkan kecurangan para pedagang dalam mu’amalahnya.” Atau yang lain datang dan berkata ”Kami tidak diberi hujan disebabkan kebencian dan permusuhan antar tetangga atau antar kerabat.”

Betul, semua ini adalah maksiat yang besar, ia adalah sebab tertahannya hujan dari langit, dan sebab tidak dikabulkannya do’a. Akan tetapi, siapa yang tidak terjatuh ke dalam salah satu darinya, maka mungkin terjatuh ke dalam maksiat yang lain. Maka hendaklah setiap kita memeriksa dosa-dosa kita dan bertaubat darinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jama’ah sekalian, bertakwalah kepada Allah, Rabb kalian, bertobatlah kepada-Nya dari kemaksiatan dan kembali menuju ketaatan kepada-Nya. Kembali mendekat setelah menjauh dari-Nya. Kembali dan menuju kesucian setelah bergelimang dengan najisnya dosa. Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertaubat dan orang-orang yang bersih lagi suci. Ketauhilah, bahwasanya Allah memerintahkan kita untuk bertobat kepada-Nya. Allah berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ

“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (tobat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabb-mu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (Q.s. At-Tahrim: 8).

وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Q.s. An-Nur: 31).

Imam muslim meriwayatkan dalam sahihnya, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai manusia, bertobatlah kalian kepada Allah. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya 100 kali dalam sehari semalam.” Tobat dari dosa dan kemaksiatan merupakan suatu kewajiban berdsarkan perintah Allah dan rasul-Nya.

Jama’ah sekalian, sesungguhnya perbuatan dosa dan kemaksiatan memberikan kemudharatan yang banyak. Ia merupakan sebab musibah, bencana, dan malapetaka. Allah berfirman,

وَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَن كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Q.s. Asy-Syura: 30).

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (Q.s. An-Nur: 63).

وَلاَيَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا تُصِيبُهُم بِمَا صَنَعُوا قَارِعَةٌ أَوْ تَحُلَّ قَرِيبًا مِّن دَارِهِمْ حَتَّى يَأْتِيَ وَعْدُ اللهِ إِنَّ اللهَ لاَيُخْلِفُ الْمِيعَادَ

“Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” (Q.s. Ar-Ra’d: 31).

Tidaklah kesengsaraan yang terjadi di dunia dan akhirat kecuali disebabkan oleh dosa dan kemaksiatan. Apakah yang menyebabkan kaum Nuh tenggelam dengan air yang menenggelamkan gunung?! Apa pula yang menyebabkan kaum Hud ketika dibinasakan dengan angin, sampai-sampai mereka bergelimpangan bak tunggul pohon yang kosong?! Apa pula yang menyebakan kaum Tsamud dikirimkan suara yang memekakkan (petir) sampai-sampai jantung mereka putus dari dada-dada mereka?! Apa yang menyebabkan dibalikkanya desa kaum Luth, sehingga Allah menjadikan bagian atasnya ke bagian bawah kemudian mereka dihujani dengan batu hingga mereka binasa tak bersisa?! Apa yang menyebabkan Firaun dan kaumnya tenggelam?! Apa yang menyebabkan Qarun beserta harta dan keluarganya dibenamkan?! Apa pula yang menimpa Bani Israil, berupa serangan suatu kaum yang memiliki kekuatan besar yang merajalela di kampung-kampung Bani Israil, kemudian Allah menakdirkan kaum tersebut datang untuk kedua kalinya, supaya Bani Israil dibantai sehabis-habisnya?!

Sesungguhnya ‘ibadallah, sebab-sebab itu semua adalah dosa dan kemaksiatan. Allah berfirman,

فَكُلاًّ أَخَذْنَا بِذَنبِهِ فَمِنْهُم مَّنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُم مَّنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُم مَّنْ خَسَفْنَا بِهِ اْلأَرْضَ وَمِنْهُم مَّنْ أَغْرَقْنَا وَمَاكَانَ اللهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Q.s. Al-Ankabut: 40).

مِّمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا فَلَمْ يَجِدُوا لَهُم مِّن دُونِ اللهِ أَنصَارًا

“Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah.” (Q.s. Nuh: 25)

Ayyuhal Muslimun, kita menyadari, tidak seorang pun yang ma’shum bebas dari dosa kecuali orang-orang yang Allah jaga. Dalam Sahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Andaikata kalian tidak berbuat dosa, maka Allah akan mengganti kalian dengan suatu kaum yang berdosa kemudian mereka bersegera bertobat kepada Allah. Allah pun langsung mengampuni mereka.”

Dalam riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak Adam pasti berbuat dosa, dan sebaik-baik pelaku dosa adalah mereka yang bertobat.”

Dengan demikian Allah melapangkan pintu tobat untuk mengabulkan tobat tersebut. Allah berfirman,

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُوا عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَاتَفْعَلُونَ

“Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Asy-Syura: 25).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah membentangkan tangannya di waktu malam, untuk menerima tobatnya pelaku dosa di siang hari. Dan Dia juga membentangkan tangannya di waktu siang, untuk menerima tobat pelaku dosa di malam hari. Hal itu terus terjadi hingga matahari terbit dari sebelah Barat.”

Ayyuhal muslimun, sesungguhnya tobat adalah kembalinya seseorang dari kemaksiatan menuju ketaatan. Dan syarat diterimanya tobat ada tiga. Apabila tidak terdapat satu saja dari tiga poin ini, maka tidak diterima tobatnya. Syarat tersebut adalah:

1. Seseorang harus berhenti dari maksiat yang ia lakukan dengan cara segera meninggalkan perbuatan maksiatnya.
2. Menyesali perbuatannya. Tanda penyesalan tersebut tampak dengan kesedihannya atas apa yang luput darinya.
3. Bertekat kuat selamanya tidak akan kembali lagi kepada kemaksiatan tersebut. Tanda kebenaran tekatnya akan tampak dengan mengisi dan memperbaiki hari-harinya dengan mengejar kembali apa yang ia lewatkan dari perbutan ketaatan.

Apabila kemaksiatan tersebut berkaitan dengan interaksi dengan orang lain, maka perlu ditambahkan syarat yang keempat, yaitu mengembalikan sesuatu yang semestinya menjadi hak orang tersebut atau meminta maaf pada orang yang pernah dizalimi.

Apabila melewatkan ibadah di masa lalu, maka dapat ia qadha dan apabila menzalimi orang lain, maka tunaikanlah haknya. Marilah kita semua bertobat kepada Allah ayyuhal muslimun dan jangan menunda-nundanya. Ketauhilah, bahwasanya tobat dapat menghapuskan dosa-dosa masa lalu, walaupun dosa tersebut adalah dosa besar. Karena Allah Dia-lah Yang Maha Menerima Tobat dan Maha Penyayang. Allah berfirman,

قُلْ يَاعِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لاَتَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosasemuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (Q.s. Az-Zumar: 53)

باَرَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الكَرِيْمِ وَنَفَعْنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فَيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِكْرِ الحَكِيْم . أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ الله لِي وَلَكُمْ وَلسَّائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْماً لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلدَّاعِيْ إِلَى رِضْوَانِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:

أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى، ان امركم بأمر بداء فيه بنفسه وثنى بمﻻئكته وايهاباالمؤمنين من عباده. وقال تعالى :
(إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا) اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَاشِدِيْنَ، اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ اللَّهُمَّ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ لَنَا قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ. أللهمّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ وِاتَّبِعْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ بِاالخَيْرَاتِ وَيَاخَيْرًاالنَّصِرِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الّرَّحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِّلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِناً مُطْمَئِنّاً وَسَائِرَ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ عَامَةً يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ).

عِبَادَ اللهِ، (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ)، (وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمْ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ)، فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أكبر َ.

 

Sebarkan Kebaikan Sekarang
loading...

Ustadz Ibnu Masud

Ustadz Ibnu Masud has written 23 articles

Adalah seorang ustadz yang masih muda namun sangat produktif menulis bantahan bantahan terhadap faham wahabi

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>