Santri Penjemput Berkah

OLEH : SHOLIHAH (SANTRI MADRASAH DARUSSALAMAH SUMBERSARI KEDIRI).

Menjadi tradisi dikalangan para santri, khususnya santri dipesantren salaf. Yang mana para santri berlomba lomba untuk menjemput keberkahan. Berkah yang diyakini para santri merupakan salah satu ciri khas perbedaan antara santri dan bukan santri. Meski terkadang ada orang yang tidak nyantri juga meyakini adanya keberkahan.

Dipesantren, proses mencari berkah bisa terlihat dengan tindakan para santri menjemput berkah tersebut. Ada yang berdiri disaat melihat kiai atau guru lewat, ada yang berebut sisa minum kiai, ada pula yang mengabdi untuk memasak pada kiai, ada pula yang merapikan tempat kiai mengaji, dan banyak lagi.
Lalu, sebenarnya apa makna dari berkah itu sendiri?.

Secara Etimologi ulama berpendapat dalam kitab tahdzir wat tanwir (5/33);
البركة :هي النماء والزيادة, حسية كانت أو عقلية, وكثرة الخير ودوامه, يقال : بارك الله لك
“barokah: yaitu naik atau bertambah, baik bisa dirasa maupun bisa di nalar akal, dan bertambahnya kebaikan dan keberlanjutannya. Dikatakan ; semoga Allah memberkahimu.”

Dalam hal ini diterangkan dalam kitab faidul qodir juz 1 halaman 138;
(اللهم بارك لنا فيه) من البركة وهي زيادة الخير ودوامه
“makna hadits (ya allah berilah kami keberkahan di dalamnya) dari barokah, yaitu bermakna tambahnya kebaikan dan terus menerusnya berkah tersebut.”

Keberkahan bisa menyebabkan terjadi kebaikan secara kontinyu kepada setiap orang yang mendapatkannya. berkah yang diperoleh akan dirasakan dari dampak kehidupan yang dialami.

Bisa jadi orang yang mendapatkan berkah dicukupkan rezekinya oleh allah walaupun pas-pasan, bisa jadi mendapat keberkahan bertambah bertaqwa pada Allah, bisa jadi usahanya lancar, bisa juga menjadi keluarga yang tentram, bisa juga ilmu yang dimiliki berguna bagi orang banyak walaupn sedikit.
Kisah mengenai adanya berkah bukan hal yang fiktif. Sudah banyak bukti adanya keberkahan khususnya keberkahan dari para kiai. Hal ini bukan tanpa tendensi, karena rosulullah s.a.w sendiri telah menjelaskan secara eksplisit anjuran agar kita encari berkah dari mereka yang dituakan. Baik dari segi nasab maupun keilmuan dan kesalehan.

Sebagaimana dalam hadits beliau bersabda;

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “البركة من أكابركم” رواه الحاكم في المستدرك (1/62)

 

“diriwayatkan dari Ibnu Abbas Rodliyallahu ‘Anhuma ia berkata; Rosulullah s.a.w bersabda ; “keberkahan Allah bersama orang orang besar diantara kamu.” (HR. Hakim 1/62)

Oleh karena itulah para santri selalu menjemput “barokah” (berkah) dari para kiai. Tindakan para santri “zaman now” saat menjemput berkah bukan berarti hasil penemuan terbaru, atau penelitian ilmiah kontenporer yang baru ditemukan. Akan tetapi ini telah dicontohkan oleh segenap Ulama sejak masa silam.

imam jauzi pun yang telah menceritakan bagaimana para pendahulu dari kalangan ulama salaf yang mencari berkah dari orang alim. Walaupun hanya sekedar melihat wajahnya saja. Ia berkata ;
وقد كان جماعة من السلف يقصدون العبد الصالح للنظر في سمته وهدبه لا لاقتباس علمه (صيد الخاطر للجوزي:165)
“ telah ada sekumpulan dari kalangan Salaf yang menemui orang yang sholeh hanya untuk memandang tingkah dan kedaannya bukan untuk mendapatka ilmunya.”

Bayangkan saja para ulama telah mencontohkan bagaimna saat ia mengunjungi ulama hanya untuk melihat keadaannya. Tentu ini bermakna mereka mengharap berkah dari memandang orang alim. Apalagi santri yang sampai mengabdi pada ulama dengan tulus guna menjemput berkah!.

Sungguh luar biasa cara santri menjemput barokah, bahkan kami menemukan santri di pesantren sumbersari Kediri yang meminta berkah dari ludah gurunya. Awalnya kami menganggap itu hal yang tidak benar, ternyata persepsi itu salah. Karena pada zaman nabi sendiri banyak sahabat yang menadahi ludah nabi di tangan mereka kemudian di usapkan pada wajah mereka. Sebagaimana hadits tentang bertabarruk dengan ludah nabi (no hadits ; 2529, juz 1/66.)
وما تنخم النبي (ص) إلا وقعت في كف رجل منهم فدلك بها وجهه وجلده
“tidaklah nabi berdahak (meludah) kecuali dahak itu jatuh pada telapak tangan salah satu sahabatnya. Kemudian ia menggosokkan ludah itu pada wajah dan kulitnya.”

Sementara itu ibnu taymiyah juga mengapresiasi para penjemput berkah. Beliau mengatakan :
Adapun Esensi keberkahan dari segenap waliyullah yang shaleh dari aspek kemanfaatan mereka bagi makhluk. Dengan cara doa mereka untuk taat kepada Allah agar diturunkan rahmat oleh allah serta dijauhkan dari adzab sebab para wali. Hal itu benar adanya, dan barangsiapa yang benar benar tulus mengharap berkah dalam konteks yang demikian maka pertanyaannya benar. (majmu’ fatawa 11/113).

Dari sini bisa kita ambil pelajaran bahwa para santri penjemput barokah semata mata ia hanya mengharapkan keberkahan dari ilmu yang dikandung oleh gurunya, sehingga dengan keberkahan itu ia semakin menjadi muslim yang baik dan hidup dalam keberkahan.
Sekian.
Sumbersari 14-april-2018.

Sebarkan Kebaikan Sekarang
loading...

Ustaz Moh Nasirul Haq

Ustaz Moh Nasirul Haq has written 33 articles

NAMA : MOH NASIRUL HAQ, Lahir di Probolinggo,23 Mei 1991. Alumni UNIV. Hasyim Ash'ary Tebuireng Jombang JATIM, sedang menempuh pendidikan di UNIV. Imam Syafi'i Mukalla Hadromaut Rep. Yaman sejak 2013 hingga sekaran. Jago debat bahasa Arab dan Nasyid, sekarang menjadi A'wan syuriah PCINU yaman 2016-2017

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>