Wahabi, Murid Yang Durhaka

wahabi-murid-durhaka

Awal tahun 2015 lalu, dunia Islam diguncang oleh berita pengeboman makam Imam Nawawi, ulama terkemuka mazhab Syafii pada abad ke-7 yang terletak di kota Nawa, Suriah. Kantor berita lokal wilayah Nawa merilis video berdurasi  01:03 menit yang menayangkan puing-puing makam Imam Nawawi pasca diledakkan oleh sekawanan orang tak dikenal. Kaum muslimin seluruh dunia tersentak dengan berita ini. Mereka merasa sedih, marah dan geram lantaran tokoh yang selama ini mereka kagumi dizalimi sedemikian rupa.

Dalam jejaring sosial Facebook, beberapa warga Nawa menulis bahwa pada pagi hari tanggal 7 Januari 2015 antara pukul 4 dan 5 Subuh ada sebuah mobil milik Jabhah Nusrah (JN) yang membawa sejumlah personil dengan senapan mesin. Mereka menanam bahan peledak tepat di tengah makam Imam Nawawi. Suara ledakan bom tersebut terdengar sampai ke seluruh penjuru kota Nawa.

Sebelum peledakan makam Imam Nawawi ini, Jabhah Nusrah yang berafiliasi kepada sekte Wahabi ini juga meledakkan makam seorang sahabat Nabi SAW, Ammar bin Yaser, yang juga terletak di Suriah. Sebagaimana kebiasaan mereka, setelah meledakkan kuburan-kuburan yang mereka anggap pusat terjadinya ritual syirik, mereka tertawa terbahak-bahak sembari meneriakkan kalimat takbir.

Umat Islam di seluruh penjuru dunia pun bereaksi. Dalam ceramahnya di Masjid Fadhil kota Sittah Mesir selepas shalat Jumat, Syekh Ali Jumah mengutuk peledakan makam Imam Nawawi di Suriah. Menurutnya, perbuatan biadab ini dilakukan orang-orang Khawarij yang di dalam hadits disebutkan sebagai anjing-anjing neraka.

Dalam ceramahnya itu, ia banyak bercerita mengenai biografi Imam Nawawi sebagai salah seorang ulama rujukan Mazhab Syafii. Diantaranya, Imam Nawawi pernah selama dua tahun tidur dengan posisi duduk untuk mengistirahatkan tubuhnya di sela-sela belajar. Setelah terbangun, ia melanjutkan belajarnya kembali. Imam Nawawi tidak pernah memakan buah yang tumbuh di Damaskus, karena ia pernah mendengar kabar bahwa ada syubhat di dalamnya. Ia sangat wara’ dan berhati-hati dalam memilih makanannya hingga hanya makan dari hasil olahan ibunya sendiri yang ia ambil setiap empat puluh hari.

“Orang seperti ini, mereka katakan sebagai sumber kesyirikan? Allah telah menakdirkan beliau diterima oleh seluruh umat dalam segala hal,” demikian ungkap Syaikh Ali Jumah dengan nada emosional. Kemudian ia melanjutkan keterangannya bahwa Imam Nawawi hidup selama 45 tahun dan berpuasa dahr (sepanjang tahun).

Setelah itu ia bercerita bahwa setiap kali berkunjung ke Suriah, ia selalu berziarah ke makam Imam Nawawi. Makam Imam Nawawi ditumbuhi pohon, hal ini merupakan tanda bahwa orang yang dikuburkan di dalamnya termasuk salah satu pembesar orang-orang shaleh. Fenomena semacam ini menurutnya sangat jarang terjadi di dunia.

Bid’ah

Sikap Wahabi terhadap Imam Nawawi sedari dulu memang nyeleneh. Mereka mengakui Imam Nawawi sebagai salah seorang ulama mujaddid dalam Mazhab Syafii sehingga mereka mempelajari kitab-kitabnya, akan tetapi mereka tidak mau mengambil pendapat-pendapat Imam Nawawi yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka. Wahabi sangat biadab terhadap Imam Nawawi. Sekalipun mereka mengambil ilmu Imam Nawawi, lisan mereka tetap mencaci sang imam sebagai tokoh yang sesat.

Dalam buku terjemahan Syarah Riyadhus Sholihin yang diterbitkan oleh Pustaka Imam Syafii (Penerbit buku Wahabi Indonesia), mereka malah menuding Imam Nawawi tidak mendalami bab akidah. Mereka  selanjutnya mengkafirkan beliau dengan menggunakan hujjah Syekh ibnu Taimiyyah. Sungguh sikap yang sulit diterima oleh akal sehat. Siapakah yang sejatinya tidak memahami akidah? Imam Nawawi yang diakui keilmuannya oleh ulama sepanjang masa atau Wahabi yang bisanya cuma sepotong atau dua potong hadits saja?

Kebencian Wahabi terhadap Imam Nawawi muncul lantaran banyak sekali fatwa beliau yang membuat mereka geram. Fatwa-fatwa beliau yang menegaskan kesesatan akidah Wahabi dipakai sebagai rujukan oleh para ulama Aswaja sedunia. Di antara fatwa-fatwa beliau yang sangat telak menampar muka Wahabi adalah ihwal pembagian bid’ah yang tercantum dalam Syarah Shahih Muslim karya beliau. Berikut fatwa beliau:

    أَنَّ الْبِدَعَ خَمْسَةُ أَقْسَامٍ وَاجِبَةٌ وَمَنْدُوْبَةٌ وَمُحَرَّمَةٌ وَمَكْرُوْهَةٌ وَمُبَاحَةٌ

“Sesungguhnya bid’ah itu terbagi menjadi lima macam: 1. Bid’ah yang wajib 2. Mandzubah (bid’ah yang sunnah) 3. Muharramah (bid’ah yang haram) 4. Makruhah (bid’ah yang makruh), dan 5. Mubahah (bid’ah yang mubah) (Syarh An-Nawawi ‘alaa Shahih Muslim, Juz 7, hal 105)

Fatwa Imam Nawawi ini membuat tuduhan Wahabi terhadap Umat Islam terpatahkan. Argumen mereka tentang persoalan bid’ah dinilai sangat rapuh dan terlihat jelas bahwa mereka tidak mempunyai kapasitas ilmu yang memadai. Fatwa mereka bahwa semua bid’ah adalah sesat tanpa kecuali terbukti asal-asalan. Ada satu lagi fatwa Imam Nawawi yang membuat Wahabi sangat sakit hati. Fatwa ini keluar tatkala Imam Nawawi menjelaskan Ayat Al-Quran  surat An-Nisaa ayat 64,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

“Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita’ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 64)

Penjelasan Imam Nawawi berikut ini membuat Wahabi geram bukan kepalang lantaran tudingan kafir dan sesat kepada Aswaja yang bertawasul dianggap sebagai omong kosong belaka.

عَنِ العُتْبِي، قَالَ: كُنْتُ جَالِساً عِنْدَ قَبْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ: اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلُ اللهِ، سَمِعْتُ اللهَ يَقُوْلُ: { وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا } وَقَدْ جِئْتُكَ مُسْتَغْفِرًا لِذَنْبِيْ مُسْتَشْفِعاً بِكَ إِلَى رَبِّيْ ثُمَّ أَنْشَأَ يَقُوْلُ : يَا خَيْرَ مَن دُفنَت بِالْقَاعِ أَعْظُمُه … فَطَابَ مِنْ طِيْبِهِنّ الْقَاعُ وَالْأَكَمُ نَفْسِيْ الْفِدَاءُ لِقَبْرٍ أَنْتَ سَاكِنُهُ … فِيْهِ الْعَفَافُ وَفِيْهِ الْجُوْدُ وَالْكَرَمُ ثُمَّ انْصَرَفَ الْأَعْرَابِي فَغَلَبَتْنِيْ عَيْنِي، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النَّوْمِ فَقَالَ: يَا عُتْبى، اَلْحِقِ الْأَعْرَابِيّ فَبَشِّرْهُ أَنَّ اللهَ قَدْ غَفَرَ لَهُ

Dari Al-Utbiy. Ia (Al-Utbiy) berkata, “Aku pernah duduk di sisi kubur Nabi Shallallaahu Alaihi Wa Sallam. Lalu datanglah seorang Arab Baduwi yang berkata, ‘Assalaamu ‘alaika yaa Rasuulallaah (salam sejahtera bagimu wahai Rasulullah). Aku telah mendengar firman Allah, “Sesungguhnya jika mereka yang menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang (QS. An-Nisaa’ : 64).” Dan sungguh aku datang kepadamu sebagai orang yang meminta ampun atas dosaku meminta pertolongan melalui perantaraanmu kepada Rabb-ku’. Kemudian ia (Arab Baduwi) berucap, ‘Wahai sebaik-baik manusia yang jasadnya dikuburkan di dalam tanah… Menjadi harumlah tanah dan bukit karenanya… Jiwaku sebagai penebus bagi kubur yang engkau tempati… Di dalamnya ada kesucian, kemurahan, dan kemuliaan.’

“Orang Baduwi itu lantas pergi. Kemudian aku ngantuk dan tertidur. Aku melihat (dalam mimpi) Nabi Shallallaahu Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Wahai Utbiy, kejarlah orang Arab Baduwi itu, dan kabarkanlah kepadanya bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosanya”. Al-Imam An-Nawawi dalam (Al-Adzkar lin-Nawawi hal. 233-234).

Fatwa-fatwa Imam Nawawi itu membuat Wahabi memendam kedengkian yang besar kepada beliau. Dengan kedengkian itu mereka menuduh Imam Nawawi sesat jalan dan bukan Ahlus Sunnah Waljamaah. Dalam kitab Liqa al-Bab al-Maftuh, Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menyatakan bahwa Imam Nawawi bukan Ahlus Sunnah Waljamaah. Ketika Syaikh Utsaimin ditanya tentang status Imam Nawawi, “Apakah Ibnu Hajar al-Asqalani dan An-Nawawi dari golongan Ahlussunnah atau bukan?” Syekh Utsaimin menjawab, “Dilihat dari metode keduanya dalam menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah maka keduanya bukan dari golongan Ahlussunnah.” (Lihat buku dengan judul Liqa al-Bab al-Maftuh, cet. Dar al-Wathan, Riyadl, 1414 H, h. 42).

Tuduhan seperti ini memang wajar. Wahabi senantiasa menyesatkan siapa saja yang tidak sehaluan dengan mereka, terlebih lagi karena Imam Nawawi adalah seorang ulama sufi yang berakidah Asy’ari. semua ulama sufi yang berakidah Asy’ari atau Maturidi dicap sebagai ahlu bid’ah sesat oleh mereka.

Namun demikian, belakangan Wahabi bingung sendiri. Mereka menyatakan Imam Nawawi sesat, akan tetapi mereka masih setia memakai kitab-kitab beliau sebagai bahan kajian. Akhirnya mereka membuat rekayasa dengan mengatakan bahwa Imam Nawawi telah bertaubat dari akidah Asy’ari menuju akidah Salafi Wahabi. Pernyataan ini disebarkan lewat lembaran-lembaran kitab rekayasa yang dinisbahkan kepada Imam Nawawi. Mereka mengemukakan pandapat, “Beliau (Imam Nawawi) sempat bertaubat dari akidah Asy’ari dan kembali ke akidah Salaf kira-kira dua bulan sebelum beliau wafat, dan sempat menulis kitab tentang akidah Ulama Salaf serta mencela Asya’irah.”

Dengan kitab itu, mereka merekayasa seolah-olah Imam Nawawi menulis ringkasan dari dua kitab berbeda, yakni kitab Ghayatul Maram Fi Mas-Alatil Kalam yang katanya karya Syekh Fakhruddin Abu Abbas Ahmad bin Hasan bin Utsman al-Armawi asy-Syafii dan dari kitabnya Imam Nawawi sendiri At-Tibyan Fi Adabi Hamlatil Quran. Selanjutnya mereka berkilah bahwa kitab itu hilang dan yang tersisa hanya satu Juzk atau Jilid yang membahas tentang Kalamullah Huruf dan Suara sehingga jilid itu disebut Juzk Huruf Wal Ashwat atau Juzk Fil Huruf Wal Ashwat atau Juzk Fi Hi Dzikru I’tiqod Salaf Fil Huruf Wal Ashwat. Kitab rekayasa ini di-tahqiq oleh ustad Wahabi bernama Abu Fadhl Ahmad Ibnu Ali ad-Dimyati agar penyamaran itu terkesan benar adanya.

Untungnya kaum muslimin tidak mudah ditipu dengan rekayasa gegabah ala Wahabi itu. Para ulama Aswaja dengan sangat mudah bisa membongkar tipu muslihat mereka. Ada banyak kejanggalan pada kitab rekayasa itu. Pertama, Syekh Fakhruddin Abu Abbas Ahmad bin Hasan bin Utsman al-Armawi adalah orang yang tidak dikenal bahkan tidak pernah ada sama sekali dalam jajaran Ulama Syafiiyyah, dalam kitab mana pun. Tidak mungkin orang yang dipuji setinggi langit oleh Imam Nawawi dalam kitab itu tidak tercatat dalam sejarah. Jangankan kehidupannya, kuburnya pun tidak ada, benar-benar ini tokoh fiktif rekaan Wahabi.

Kedua, kitab Ghayatul Maram Fi Mas-Alatil Kalam karya Abu Abbas al-Armawi juga tidak pernah ada sama sekali, karena orangnya memang tidak pernah ada. Bagaimana mungkin Imam Nawawi meringkas kitab yang tidak pernah ada? Ketiga, Bahwa akidah ulama salaf tidak seperti yang disebut dalam kitab kebohongan itu. Tafwidh ma’at Tanzih atau Takwil Ijmali tanpa Takyif, Tasybih dan Ta’thil, adalah ajaran Ibnu Taymiyah yang belum ada masa Imam Nawawi.

Keempat, dalam kitab biografi Imam Nawawi tidak ada catatan bahwa beliau menulis kitab Juzk Fil Huruf Wal Ashwat. Kelima, tidak disebutkan siapa penemu kitab itu dan kapan ditemukannya, tidak ada murid atau keluarga atau Ulama semasa Imam Nawawi yang tahu adanya kitab itu, dan baru diketahui setelah ratusan atau ribuan tahun kemudian saat kitab itu ada ditangan Abu Fadhl Ahmad Ibnu Ali ad-Dimyati. Jadi sangat mudah untuk mengetahui bahwa sang pen-tahqiq inilah yang menjadi biang rekayasa ini.

Karya-karya Imam Nawawi sudah menjadi rujukan umat Islam di seluruh dunia. Oleh karena itu para ulama tentu sudah mengetahui biografi beliau, seluruh karya beliau, hingga keagungan kapasitas ilmu beliau. Segala hal yang berkaitan dengan Imam Nawawi pasti diketahui para ulama sehingga tak mungkin bisa direkayasa. Di samping itu, banyak pembesar Wahabi juga tidak percaya dengan keberadaan kitab rekayasa ini, sehingga mereka tetap memvonis sang Imam sebagai tokoh sufi yang sesat.
Demikianlah anomali (penyimpangan) Wahabi. Mereka menggali ilmu dari kitab-kitab Imam Nawawi, akan tetapi mereka menuduh beliau sesat. Mereka mengambil manfaat dari ijtihad Imam Nawawi, namun mereka malah menistakan beliau. Bahkan seandainya Imam Nawawi masih hidup, tidak mustahil mereka akan membunuh dan menyembelih kepala beliau. Buktinya, mereka tega meledakkan makam beliau baru-baru ini. Padahal, Imam Nawawi  adalah guru mereka sendiri dalam ilmu hadits.

Dengan demikian, mereka adalah murid-murid yang mendurhakai guru. Sikap orang-orang seperti ini sangat tidak layak untuk ditiru. Mereka tidak akan pernah mendapatkan berkah dari ilmu-ilmu mereka. Bahkan mereka akan “kualat” lantaran tindakan biadab mereka kepada sang guru. Mereka akan selalu terkungkung dalam kepicikan cara berpikir mereka.

Sumber : http://cahayanabawiy.com/2016/09/20/wahabi-murid-yang-durhaka/

Sebarkan Kebaikan Sekarang
loading...

Santri Admin

Santri Admin has written 828 articles

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>