Bid’ah (Lebih Dalam Dan Terperinci)

 Pembagian bid`ah

Bid`ah ditinjau dari segi syariat memiliki dua jenis pembagian. Yang pertama yang membagi bid`ah menjadi dua macam, ini seperti apa yang dinyatakan oleh Imam Syafi`i, Imam Nawawi dan imam-imam lainnya , yaitu :

Bid`ah Dholalah, yaitu hal baru yang bertentangan dengan Al Quran, Hadits atau Ijma` (kesepakatan ulama). Seperti Shalat shubuh tiga raka`at atau merubah lafadz-lafadz adzan dll.

Bid`ah Maqbulah (diterima), yaitu hal baru yang berisi kebaikan dan tidak bertentangan dengan syari`at, maka ini tidak ada khilaf mengenai diperbolehkanya. Seperti shalat tarawih berjamaah yang merupakan inisiatif Sayidina Umar.

Yang kedua adalah ulama yang membagi bid`ah menjadi lima macam, Pembagian ini dipopulerkan oleh Imam Izuddin bin Abdus Salam dan banyak dinukil dalam kitab-kitab  mutaakhirin, Yaitu :

  1. Wajib, seperti belajar ilmu gramatikal bahasa arab (nahwu) untuk memahami Al Quran dan hadits.
  2. Haram, seperti Madzhab Qadiriyah, dll.
  3. Sunnah, seperti membangun lembaga pendidikan, dan shalat tarawih berjamaah.
  4. Mubah, seperti berjabat tangan setelah shalat.
  5. makruh, seperti menghiasi masjid atau Al quran.

Metode yang digunakan oleh Imam `Izuddin dalam penggolongan ini adalah dengan meninjau pada kaidah hukum yang telah ada. Jika hal baru tersebut tercakup dalam kaidah wajib maka hukumnya wajib, jika masuk kaidah sunnah maka hukumnya sunnah, dan seterusnya. Sebagai contoh belajar bahasa arab jika bertujuan untuk bisa memahami apa yang wajib dia fahami dari syari`at maka hukumnya pun menjadi wajib.(7)

Dari keterangan diatas menjadi jelas bahwa umumnya ulama tidak membeda-bedakan antara bid`ah dalam masalah agama atau dalam masalah dunia.

Sebagian ulama ada yang mengingkari pembagian ini dan menyatakan bahwa tidak ada bid`ah dalam agama kecuali bid`ah yang sesat, seperti Imam Syatibi dalam kitab I`tishamnya(8). Sebagian lagi menyatakan bahwa bid`ah yang diperbolehkan adalah bid`ah dalam hal keduniaan saja seperti membuat alat-alat baru yang belum pernah ada di zaman rasul, dll.

Pendapat seperti ini selain menyalahi pendapat mayoritas ulama ahlu sunnah Juga menyalahi apa yang dilakukan oleh para sahabat serta thabiin. Karena di antara mereka banyak yang melakukan hal baru dalam agama yang tidak diajarkan Rasulullah. Seperti jamaah tarawih yang diprakarsai oleh Sayidina Umar, Adzan kedua dalam shalat jum`at yang merupakan inisiatif Sayidina Utsman, memberi titik, harakat serta tanda waqaf dan tanda-tanda lainya dalam Al Quran yang baru dilakukan di masa dinasti Umayyah dan diakui oleh para thabiin(bahkan ada yang menyatakan bahwa orang pertama yang memberi tanda dalam al Quran adalah Al Hajjaj bin Yusuf(9), penguasa dzolim di masa Bani Umayyah), pengkodefikasian hadits serta pembukuannya dll. Semua adalah hal baru dalam agama dan tidak pernah diajarkan Rasul. Apabila kita katakan bahwa semua hal baru dalam agama adalah bid`ah yang menyesatkan maka berarti secara tidak langsung kita telah menuduh para sahabat dan thabiin telah melakukan kesesatan dan perbuatan dosa secara kolektif (bersama). Padahal, sejarah telah membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang pilihan yang tidak diragukan lagi keimanan dan ketaqwaannya. Bahkan diantara mereka ada yang sudah dijamin sebagai penghuni surga. Oleh karena itu, sungguh tidak dapat diterima akal, kalau para sahabat Nabi SAW yang begitu agung dan begitu luas pengetahuannya tentang al-Qur’an dan Hadits tidak mengetahuinya, apalagi tidak mengindahkan larangan Rasulullah SAW.

Mereka yang mengatakan mengenai Pembagian bid`ah

Yang pertama kali membagi bid`ah ke dalam dua hal yaitu yang baik dan yang buruk, adalah Rasulullah SAW sendiri, Beliau bersabda :

من سن في الإسلام سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها بعده من غير أن ينقص من أجورهم شيء ومن سن في الإسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شيء (رواه مسلم )

“Barangsiapa yang menciptakan satu gagasan yang baik dalam islam, maka dia memperoleh pahalanya dan juga pahala orang yang melaksanakanya dengan tanpa dikurangi sedikitpun. Dan barangsiapa yang menciptakan satu gagasan yang jelek dalam islam, maka dia akan terkena dosanya dan juga dosa orang-orang yang melaksanakanya dengan tanpa dikurangi sedikitpun”  (HR Muslim)

Pada hadist ini telah dikaji oleh para ulama’ bahwasanya isi dari hadist menunjukkan ada سنة حسنة dan ﺳُﻨَّﺔً ﺳَﻴِّﺌَﺔً yang makna nya adalah gagasan baik dan gagasan jelek sesuai dengan devinisi bid’ah secara syar’i menunjukkan bahwa ada بدعة حسنة  dan بدعة ﺳَيئة .

Hadits ini dengan jelas mendorong kita untuk berinisiatif dengan prakarsa yang baik dan bermanfaat agar bisa diamalkan oleh kita dan orang-orang setelah kita, sekaligus melarang keras untuk menggagas hal yang buruk yang bisa merugikan kita dan orang-orang setelah kita nantinya(10). Rasulullah dalam hadits ini tidak membatasi inisiatif tersebut kepada hal-hal dunia saja. Mereka yang mengatakan bahwa hadits ini khusus mengenai gagasan dalam urusan dunia, maka telah mengada-ngada karena urusan dunia jika diamalkan tidak mendatangkan pahala atau dosa.

Sebagian mereka yang menentang pembagian bid`ah mengatakan bahwa maksud hadits ini bukan seperti dzahirnya akan tetapi maksudnya adalah :

من أحيا سنة من سنة الرسول صلى الله عليه وسلم فله  ثوابها وثواب من اتبعه بها

“Barang siapa yang menghidupkan sunah dari sunah Rasulullah maka bagi dia pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya”

Jadi menurut mereka maksud gagasan tersebut haruslah gagasan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Pendapat yang mereka ajukan tidak sesuai dengan keumuman lafadz yang ada dalam hadits tersebut, memang hadits tersebut datang sebab inisiatif salah seorang ansor untuk memberikan sedekah kepada salah satu kaum arab yang datang kepada Nabi, kemudian orang-orang mulai berdatangan untuk memberikan sedekah mengikuti jejak orang anshor tersebut(11). Akan tetapi sesuai qaidah yang dijadikan patokan adalah keumuman lafadz bukan kekhususan sebab  (العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب).

Mungkin pendapat seperti ini muncul karena ada sedikit persamaan lafadz antara hadits di atas dengan hadits ihyau sunnah yang diriwayatkan oleh imam Turmudzi, yaitu :

أَنَّهُ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِى قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِى فَإِنَّ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلاَلَةٍ لاَ يَرْضَاهَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا أخرجه الترمذي في سننه كتاب العلم

“Barang siapa yang menghidupkan satu sunah daripada sunahku yang telah mati setelahku maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkanya tanpa dikurangi sedikitpun, Barang siapa yang membuat bid`ah dengan bid`ah yang dholalah yang tidak diridhai Allah dan Rasulnya maka baginya dosa orang-orang yang mengamalkanya dengan tanpa dikurangi sedikitpun”

Kedua hadits ini meskipun agak sama lafadznya akan tetapi terjadi dalam dua peristiwa berbeda. Selain itu, sebenarnya hadits ini justru memperkuat pendapat bahwa bid`ah tidak seluruhnya menyesatkan, karena dalam hadits tersebut Rasul membatasi bid`ah yang dilarang hanya kepada bid`ah dholalah saja.

Kemudian sahabat pertama yang menyatakan bahwa bid`ah tidak selalu buruk adalah Sayidina Umar yang mengatakan ketika melihat orang-orang melakukan shalat tarawih berjama`ah,

نعمت البدعة هذه (Inilah sebaik-baiknya bid`ah). Juga perkataannya kepada Sayidina Abu Bakar ketika menyarankan untuk mengumpulkan Al Quran, Sayidina Abu Bakar bertanya kepadanya “Bagaimana mungkin kamu melakukan apa yang tidak dilakukan Rasul “ Sayidina Umar berkata “ Demi Allah Ini adalah hal yang baik “. Sedangkan penerapan pembagian bid`ah menjadi hal baik dan buruk sudah dimulai sejak zaman Khalifah Abu Bakar dengan perbuatanya mengumpulkan Al Quran, dan penunjukkan Sayidina Umar sebagai Khalifah setelahnya, padahal Rasulullah SAW sebelum wafat tidak menunjukkan seorangpun untuk menjadi khalifah(12).

Para Thabi`in telah menerapkan pembagian ini. Paling agungnya thabiin yang menyatakan bahwa bid`ah terbagi menjadi dua adalah Imam Syafii, beliau berkata :

المحدثات من الأمور ضربانأحدهما ما أحدث مما يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا فهذه البدعة الضلالة والثاني ما أحدث من الخير لا خلاف فيه لواحد من هذا، وهذه محدثة غير مذمومة،… ]البيهقي بإسناده في مناقب الشافعي

“Hal baru terbagi menjadi dua, pertama apa yang bertentangan dengan Al Quran, Sunah, atsar, dan ijma, maka inilah bid`ah dholalah. Yang kedua adalah hal baru dari kebaikan yang tidak bertentangan dengan salah satu dari yang telah disebut, maka tidak ada khilaf bagi seorangpun mengenainya bahwa hal baru ini tidak tercela….(13)”

Lihatlah bagaimana Imam Syafii menyatakan bahwa tidak ada khilaf sedikitpun mengenai kebolehan hal baru yang baik, ini menunjukkan bahwa para ulama di zaman Imam Syafii hampir seluruhnya telah memilah bid`ah kepada yang baik dan yang buruk.

Masih banyak lagi ulama Ahlu sunnah yang membagi bid`ah (baik dalam agama atau selainnya), menjadi bid`ah yang bisa diterima dan bid`ah yang ditolak. Diantaranya Imam Izudin bin Abdussalam, Imam Ghozali, Imam Nawawi, Imam Subki, Imam Suyuthi, Imam Ibn Hajar, Imam Asy Syaukhani dalam Nailul Author, Al Qostholani dalam Irsyadus saari, Az Zarqani dalam Syarah Muwatha, Al Halabi, dan masih banyak ulama lain yang tidak mungkin disebut satu per satu(14). Rasulullah saw telah bersabda :

إِنَّ أُمَّتِى لَنْ تَجْتَمِعَ عَلَى ضَلاَلَةٍ فَإِذَا رَأَيْتُمُ اخْتِلاَفًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الأَعْظَمِ. سنن ابن ماجه

“Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat atas kesesatan, jika kalian melihat pertentangan maka ikutilah kelompok terbesar”

Oleh karena itulah, sebagian ulama mengatakan, taqlid kepada pendapat ulama yang paling banyak lebih utama daripada taqlid kepada yang lebih senior.(15)

Besambung di Pages 4

Sebarkan Kebaikan Sekarang

Pages:

loading...

Santri Admin

Santri Admin has written 832 articles

Comments

comments

6 thoughts on “Bid’ah (Lebih Dalam Dan Terperinci)

  1. Sukoriono says:

    Saya senang sekali hadirnya kajian keislaman yang diprakarsai oleh “santri net” sampai saat ini,saya yakin kedepan sangat dibutuhkan terutama sebagai kajian strategis untuk meletakan dasar dasar kebenaran maksud syariah, yang secara terukur memastikan bahwa tidak ada satupun nash Alqun’an ,hadist ,maupun ijmak para Ulama Salaf sampai sekarang bertentangan satu dg yang lain,termasuk kreatifitas dan inisiatif para cendikiawan dan Calon2 Ulama mendatang, yang belerja keras me!bendung,menghentikan upaya pemikiran dipandang bepotensi menimbulkan kerancauan memahami syariah,seperti masalh ” kata bid’ah” yg tdk lekang dimakan zaman. (Blitar,14 juni2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>