Bid’ah (Lebih Dalam Dan Terperinci)

Definisi Bid`ah 

Bahaya bid`ah penting untuk diketahui, namun ada hal lain yang tak kalah penting untuk diketahui yaitu pengertian bid`ah. Banyak yang saling tuduh bid`ah karena perbedaan cara ibadah padahal yang mereka tuduh bid`ah sebenarnya hanyalah perbedaan madzhab, atau perbedaan ulama dalam masalah fiqhiyah. Seperti masalah terjemah khutbah, qunut, menggerakan jari dalam tahiyyat, bilangan tarawih dll. Ada juga yang begitu tekun melakukan sesuatu dianggap ibadah, tapi pada kenyataanya apa yang dia lakukan adalah bid`ah yang perlu dijauhi. Untuk menghindari hal-hal seperti ini kita harus mengetahui apa itu bid`ah?

Jika kata bid`ah disebut, maka yang dimaksud bisa dua kemungkinan. Yang pertama adalah bid`ah lughowiah (secara bahasa) atau bid`ah syar`iyah (secara syari`at) (2).

 

Bid`ah lughowiah

Yang dimaksud dengan bid`ah secara bahasa hal yang baru yang belum pernah ada sebelumnya. baik berupa hal baik atau hal yang buruk, berhubungan dengan hal duniawi seperti alat-alat komunikasi dan transportasi modern atau berhubungan dengan masalah agama seperti pembukuan Al Quran, Hadits dll. Semuanya bisa dikatakan bid`ah jika dilihat dari segi bahasa. Oleh karena itulah Sayidina Umar berkata mengenai shalat tarawih berjamaah :  نعمت البدعة هذه  (Inilah sebaik-baiknya bid`ah)(3).  Ini karena  dulunya Rasul dan para sahabat melakukan shalat tarawih sendiri-sendiri. Jadi adanya shalat tarawih dilakukan dengan teratur dalam satu Imam merupakan satu Bidah (hal baru) di masa itu.

Kalau dilihat dari segi ini maka kata bid`ah tidak selalu berkonotasi negatif, terkadang baik dan terkadang jelek. Akan tetapi dalam penerapannya jika lafadz bid`ah disebut secara mutlaq tanpa embel-embel maka yang dimaksud adalah bid`ah yang tercela (bid`ah syar`iyah). lain halnya jika kata bid`ah tersebut disandingkan dengan kata lain seperti perkataan “bid`ah hasanah” atau lainnya, maka barulah yang dimaksud adalah bid`ah dari segi bahasa(4).

 

Bid`ah syar`iyah

Maksud Bid`ah Syariyah adalah makna bid`ah dipandang dari kaca mata Syariat. Sebagai perbandingan: makna Sholat secara bahasa artinya adalah doa, sedangkan makna shalat secara syariat adalah perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Ini menunjukkan ada beda antara makna bahasa dan makna syariat. Begitulah pula mengenai bidah.

Secara bahasa makna bidah adalah hal baru yang belum pernah ada sebelumnya  baik hal baru itu terjadi di masa Rasulullah saw atau sesudah masa Beliau saw. Namun jika ditinjau dari segi Syariat Bid`ah adalah hal baru yang tidak ada di masa Rasulullah saw(4,5). Namun, hal ini pun butuh kepada tinjauan syar’i untuk menentukan boleh atau tidak nya. Semua hal baru yang ada setelah masa Rasulullah saw dan  bertentangan dengan kandungan al Quran atau hadits itulah  Bidah yang tidak boleh dilakukan, sedangkan hal yang baru setelah zaman Rasulullah yang masih bernaung di bawah nash Al-Qur’an dan Al-Hadist maka bid’ah tersebut boleh dilakukan .

Jadi, tidak semua bidah Syariyah/ hal baru yang tidak dilakukan Rasulullah saw adalah tercela. Terkadang Rasulullah meninggalkan sesuatu walaupun sangat ingin melakukanya karena takut akan memberatkan umatnya atau alasan lainnya(5).  Yang tercela adalah perbuatan atau keyakinan yang menyalahi hukum atau keyakinan yang telah ada, atau tidak memiliki landasan hukum baik secara umum atau secara parsial, kemudian diklaim sebagai ajaran agama(6), seperti keyakinan pluralitas beragama (menganggap semua agama sama), faham Syiah, Trinitas Tauhid, membuat hukum-hukum baru tanpa dasar, dll.

Secara sederhana pengertian bid`ah syar`iyah yang buruk adalah segala bentuk perbuatan atau keyakinan yang bukan bagian dari ajaran Islam, dikesankan seolah-olah bagian dari ajaran Islam, seperti membaca ayat-ayat al-Qur’an atau shalawat disertai alat-alat musik yang diharamkan, keyakinan/faham kaum Mu’tazilah, Qodariyah, Syi’ah, termasuk pula paham-paham Liberal yang marak akhir-akhir ini, dan lain-lain.

Bid`ah inilah yang tidak boleh dilakukan. Sedangkan bid’ah syar’iyah yang baik adalah segala bentuk perbuatan yang masih berlandaskan terhadap Al-Qur’an dan Al-hadist di bawah naungan firman Allah :

وافعلوا الخير لعلكم تفلحون

“Kerjakanlah kebaikan maka niscaya kalian akan sukses”.

Bid’ah inilah yang boleh dilakukan menurut syari’ah.

Besambung di Pages 3

Sebarkan Kebaikan Sekarang

Pages:

loading...

Santri Admin

Santri Admin has written 832 articles

Comments

comments

6 thoughts on “Bid’ah (Lebih Dalam Dan Terperinci)

  1. Sukoriono says:

    Saya senang sekali hadirnya kajian keislaman yang diprakarsai oleh “santri net” sampai saat ini,saya yakin kedepan sangat dibutuhkan terutama sebagai kajian strategis untuk meletakan dasar dasar kebenaran maksud syariah, yang secara terukur memastikan bahwa tidak ada satupun nash Alqun’an ,hadist ,maupun ijmak para Ulama Salaf sampai sekarang bertentangan satu dg yang lain,termasuk kreatifitas dan inisiatif para cendikiawan dan Calon2 Ulama mendatang, yang belerja keras me!bendung,menghentikan upaya pemikiran dipandang bepotensi menimbulkan kerancauan memahami syariah,seperti masalh ” kata bid’ah” yg tdk lekang dimakan zaman. (Blitar,14 juni2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>