Akidah Tajsim Wahabi

wahabi

Dari makna jisim secara Bahasa maupun istilah, kita pahami makna tajsim yaitu menganggap Dzat Allah memiliki bagian dan susunan.

Kaum wahabi, ketika mereka menafikan bagian dan susunan dari Dzat Allah, maka sesungguhnya mereka hanya menafikannya secara lafadznya saja, sedangkan maknanya mereka benar-benar menetapkannya. Kita buktikan apa sebenarnya yang mereka sebut dengan bagian (ab’adh) dan organ ?

Ibnu Utsaimin mengatakan :

لا نقول إنها أجزاء وأبعاض , بل نتحاشا هذا اللفظ , لكنّ مسماها لنا أجزاء وأبعاض , لأن الجزء والبعض : ما جاز انفصاله عن الكل فالرب عز وجل لا يتصور أن شيئًا من هذه الصفات التي وصف بها نفسه – كاليد – أن تزول أبدًا ؛ لأنه موصوف بها أزلًا وأبدًا , ولهذا لا نقول : إنه أبعاض وأجزاء

“ Kami tidak mengatakan sesungguhnya ia adalah bagian-bagian dan anggota, bahkan kami menjauhi lafadz ini, akan tetapi maknanya bagi kami adalah bagian dan anggota, karena bagian dan anggota adalah; sesuatu yang boleh terlepas dari keseluruhannya, maka Allah ta’ala tidak bisa tergambar sesungguhnya sifat-sifat yang Allah sifati diri-Nya ini seperti Yad (tangan) akan musnah selamanya, karena Allah disifati dengan tangan selamanya, oleh sebab itu kami tidak mengatakan Allah itu anggota dan bagian “.

Ibnul Qayyim juga pernah mengatakan :

وكذلك الأبعاض هي ما جاز مفارقتها وانفصالها وانفكاكها , وذلك في حق الرب تعالى محال , فليست أبعاضًا ولا جوارح

“ Demikian juga ab’aadh (organ/anggota) itu adalah sesuatu yang boleh terpisah dan terlepas, dan hal ini bagi Allah mustahil, maka Allah bukanlah anggota dan tubuh “

Coba kita perhatikan definisi organ dan anggota menurut mereka, agar kita tahu apa yang dinafikan oleh mereka. Ibnu Utsaimin dan Ibnul Qayyim mendefinisikan bagian dan organ dengan sesuatu yang bisa terlepas dan terpisah dari keseluruhan.

Definisi ini sama sekali tidak menunjukkan dari lafadznya itu sendiri bahkan tidak secara Bahasa, istilah dan ‘urf. Makna dan definisi ini, tidak lah masyhur (tersohor) di kalangan ulama ahli Bahasa Arab.

Adapun makna bagian (ab’adh), anggota / organ (jarihah) dan bagian / susunan (juz’u) yang ma’ruf (tersohor), maka mereka menetapkannya, walaupun mereka menolak lafadznya. Maka sadar ataupun tidak, mereka berkeyakinan bahwa Allah tersusun dari bagian atau organ meskipun mereka menolak lafadz bagian dan organ. Sifat ‘ain, yad, rijl, wajh dan semisalnya menurut mereka ini adalah (الاعيان) yakni sesuatu, maka Allah menurut mereka tersusun dan menyatukan dalam Dzatnya terhadap A’yaan (‘ain, yad, rijl, wajh) tersebut. Justru inilah pemahaman tajsim yang sesungguhnya. Naudzu billah min dzaalik…

Untuk menyiasati agar orang lain tidak meyakini mereka berpaham tajsim, maka mereka membuat suatu qaid atau syarat dalam makna tajsim yaitu suatu susunan yang awalnya terpisah kemudian tekumpul atau suatu kumpulan yang memungkinkan bisa terpisah, maka bagi mereka ini disebut jisim, kalau tidak didahului dengan terpisah atau tidak memungkinkan terpisah, maka bukanlah jisim. Inilah syarat sesuatu dapat disebut jisim menurut kaum wahabi dan taimiyyun.

Bahkan di Antara mereka adsa yang terang-terangan mengatakan bahwa menisbatkan jisim, jarihah dan a’dha bagi Allah tidaklah mengapa. Ibn Baaz mengatakan :

“ Meniadakan jisim, organ dan anggota tubuh dari Allah adalah termasuk ucapan yang tercela “ .

Muhammad Khalil Harras mengatakan dalam ta’liqnya (komentarnya) terhadap kitab tauhidnya Ibnu Khuzaimah yang dicetak tahun 1403 terbitan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah pada halaman 63 atau terbitan Dar al-Jail halaman 89 berikut :

“ Menggenggam tentunya dengan tangan secara hakekatnya bukan dengan nikmat. Jika mereka berkata “ Sesungguhnya huruf ba di sini bermakna sebab maksudnya dengan sebab iradah kenikmatan “, maka kita jawab pada mereka “ Dengan apa menggengam itu ?? karena sesungguhnya menggenggam itu butuh kepada alat, maka niscaya tak ada jawaban dari mereka, jika saja mereka mau merendahkan diri mereka “.

Mereka mengganti istilah ab’adh (bagian/anggota) dan tarkib (susunan) menjadi a’yaan padahal istilah a’yaan ini istilah bid’ah yang tdiak dikenal dalam al-Quran dan sunnah. Menurut mereka a’yan Allah ini yang membedakan Dzat Allah dari sesuatu lain-Nya, maka Dzat Allah memiliki a’yaan yang berbeda a’yan satunya dengan a’yan lainnya pada Dzat Allah dengan arah dan isyarat fisik kepada selainnya. Makna ini jelas tab’idh (pembagian) yang merupakan dari kelaziman jisim.

 

Sumber : Abdillah Al-Katibiy.

Sebarkan Kebaikan Sekarang
loading...

Santri Admin

Santri Admin has written 838 articles

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>