Profil Ponpes Al Khoirot Malang

Profil dan biografi singkat pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang Jawa Timur. Di pesantren di Jawa, pendiri sebuah pesantren umumnya adalah sekaligus pengasuh atau figur utama dari pesantren tersebut. Karena, bagi seorang kyai, pesantren adalah tempat untuk mengabdikan ilmu yang dimiliki dan dipelajari untuk didedikasikan kepada generasi muda Islam yang memiliki aspirasi dan cita-cita yang sama dalam hidup. Yaitu, mencapai kebaikan dunia dan akhirat.

DAFTAR ISI

  1. Pendiri Pesantren
  2. Pengasuh Pesantren
  3. Dewan Pengasuh Harian Dewan Pengasuh Konsultatif
    1. Dewan Pengasuh Harian Putra
    2. Dewan Pengasuh Harian Putri
  4. Pengasuh yang Wafat
  5. Profil Pengasuh


PENDIRIAN DAN KRONIKA PESANTREN

kyai-haji-syuhud-zayyadiPondok Pesantren Al-Khoirot didirikan oleh KH. Syuhud Zayyadi pada 1963. Beliau merupakan bagian dari keluarga besar Bany Itsbat dengan silsilah nasab sampai ke salah satu Walisongo (Sunan Drajad / Sunan Ampel / Sunan Giri).

PPA awalnya merupakan lembaga pengajaran Islam dengan format salaf (tradisional) murni dengan sistem pengajian sorogan dan wethonan / bandongan. Pada tahun 1970-an, madrasah diniyah (madin) Annasyiatul Jadidah didirikan. Madin ini menitikberatkan pada pendidikan ilmu agama dengan sistem klasikal dari kelas 1 sampai kelas 6 ibtidaiyah. Pada tahun 1977, madrasah tsanawiyah mulai dirintis, Namun sekolah ini hanya bertahan kurang dari setahun karena terkendala oleh banyak hal.

Pada tahun 2009, sekolah formal kembali didirikan tidak hanya MTS (Madrasah Tsanawiyah) tapi juga MA (Madrasah Aliyah) dengan nama MTS dan MA Al-Khoirot. MTS dan MA Al-Khoirot mendapat sambutan cukup baik dari masyarakat baik di lingkungan sekitar maupun dari kawasan lain di Indonesia baik dari dalam Pulau Jawa maupun dari luar Jawa.

Keunikan dari MTs dan MA Al-Khoirot adalah siswanya diwajibkan belajar di dalam pondok pesantren. Tidak boleh sekolah dari luar. Begitu juga sebaliknya, santri harus menjadi siswa MTS dan MA kecuali bagi yang sudah lulus SLTA. Intinya, santri harus menjadi siswa dan siswa harus menjadi santri. Sehingga peserta didik betul-betul mengalami transformasi total baik dalam keilmuan maupun perilaku ketika mereka lulus dari MTS MA atau Pesantren Al-Khoirot.

Pada tahun 2012, PPA membuka program baru menghafal Al-Quran (Tahfidzul Quran) dengan tujuan untuk menciptakan generasi muda yang Qurani tidak hanya dalam keilmuan tapi juga dalam perilaku.


PENGASUH PESANTREN

kh-zainal-ali-suyuthiPengasuh menduduki posisi tertinggi dalam hirarki kepemimpinan sebuah pesantren di Jawa, termasuk di PPA. Pengasuh pertama Pondok Pesantren Al-Khoirot (PPA) adalah KH. Syuhud Zayyadi sendiri. Setelah beliau wafat pada tahun 1993, pimpinan pesantren dipegang secara kolektif oleh putra dan menantu beliau di bawah nama Dewan Pengasuh. Dewan Pengasuh terbagi menjadi Dewan Pengasuh Harian dan Dewan Pengasuh Konsultatif.

Dewan Pengasuh harian adalah para pimpinan pesantren yang secara fisikal berada di lingkungan PPA dan terlibat langsung dalam urusan keseharian pesantren. Sedang Dewan Pengasuh Konsultatif adalah pimpinan pesantren yang, karena satu dan lain hal, secara fisik berada jauh di luar lingkungan PPA dan karena itu tidak terlibat langsung dalam aktivitas keseharian dan pengambilan keputusan pesantren. Namun demikian, Dewan Pengasuh Konsultatif tetap diminta konsultasinya dalam pengambilan keputusan yang dianggap sangat penting dan besar.


DEWAN PENGASUH HARIAN

Dewan pengasuh atau Board of Directors adalah pimpinan tertinggi dan bertanggung jawab atas pengelolaan pesantren sehari-hari. Posisi Dewan Pengasuh bersifat kolektif kolegial. Artinya, semua pengasuh memiliki kekuasaan yang relatif sama sehingga satu orang pengasuh tidak dapat mengambil suatu keputusan tanpa persetujuan dewan pengasuh yang lain.


DEWAN PENGASUH HARIAN PUTRA

  1. A. Fatih Syuhud
  2. KH. Ja’far Syuhud
  3. KH. Hamidurrohman Syuhud
  4. KH. Humaidi Syuhud
  5. Ustadz Mochammad Iqbal
  6. Ustadz Ahmad Faisol


DEWAN PENGASUH HARIAN PUTRI

  1. Ny. Hj. Luthfiyah Syuhud
  2. Ny. Hj. Juwairiyah Syamsul Arifin
  3. Ny. Lutfiyatur Rohmah Karim
  4. Ny. Chusnia Khoirotus Saadah
  5. Ny. Malikatun Nufus Baidhowi


DEWAN PENGASUH KONSULTATIF

  1. KH. Zuhri Zaini dan Ny. Hj. Bisyaroh Syuhud  – Pengasuh Ponpes Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.
  2. KH. Amin Hasan Syuhud –  Dewan Pengasuh Ponpes Bata-bata Pamekasan Madura
  3. KH. Afif Thoha dan Ny. Hj. Faizah Syuhud Pengasuh Ponpes Al Falah Sumbergayam, Pamekasan, Madura
  4. KH. Baidhawi Khozin dan Ny. Hj. Khotimah Husna Syuhud Pamekasan, Madura


PENGASUH YANG WAFAT

  1. KH. Syuhud Zayyadi (1930-1993)
  2. Ny. Hj. Masluha Muzakki (1943-1997)
  3. KH. Zainal Ali Suyuthi (1960-2011)


PROFIL PENGASUH

KH. M. SYUHUD ZAYYADI

Pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Al-Khoirot ini belajar ilmu agama sejak kecil. Guru ngaji pertamanya adalah ayah beliau sendiri yaitu Kyai Zayyadi yang juga pengasuh pesantren Madukawan, Pamekasan Madura. Setelah itu beliau belajar di sejumlah pesantren baik di dalam maupun luar negeri. Guru-guru beliau antara lain:

  1. KH. Zayyadi, Pondok Pesantren Madukawan, Pamekasan Madura.
  2. KH. Thoha Pondok Pesantren Al-Falah Sumbergayam Pamekasan Madura
  3. KH. Abdul Madjid Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-bata Pamekasan
  4. KH. Imron Kholil Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan Maduran
  5. Syekh Amin Al-Kutbi Makkah Al-Mukarramah Arab Saudi
  6. Syed Alwi Al-Maliki Makkah Al-Mukarramah Arab Saudi

Profil Kyai Haji (KH) Muhammad Syuhud Zayyadi pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot Karangsuko, Pagelaran (Gondanglegi), Malang, Jawa Timur.

Saat kecil, beliau belajar ilmu agama pada ayah dan ibunya sendiri yaitu KH. Zayyadi dan Nyai Hj. Salmah. Setelah remaja beliau belajar di pesantren Bata-bata yang diasuh oleh pamannya sendiri yaitu KH. Abdul Majid bin Abdul Hamid bin Itsbat . Setelah itu beliau meneruskan nyantri ke Pondok Pesantren Saikhona Kholil Bangkalan yang saat itu diasuh oleh KH. Imron Kholil, sebelum kemudian meneruskan mengaji ke Makkah Al Mukarromah. Di Makkah beliau berguru pada beberapa masyayikh ternama yang terutama adalah Sayyid Amin Al-Kutbi dan Sayyid Alwi Al-Maliki ayah dari Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki.

Lima tahun berada di Makkah beliau pulang dan menikah dengan Ny. Hj. Masluhah Muzakki Gondanglegi, Malang. Tidak lama kemudian pada 1963 beliau pindah ke desa Karangsuko kecamatan Gondanglegi dan mendirikan pesantren yang diberi nama Pondok Pesantren Al-Khoirot.

Pada 1993 KH. Syuhud Zayyadi meninggal dunia dan pimpinan pesantren diteruskan oleh menantunya yaitu KH. Zainal Ali Suyuthi yang masih ada hubungan keponakan mindoan (ayah KH. Zainal Ali ada hubungan kerabat sepupu [Jawa: mindoan] dengan KH. Syuhud.

KH. ZAINAL ALI SUYUTHI

KH. Zainal Ali Suyuthi adalah pengasuh kedua Pondok Pesantren Al-Khoirot. Beliau adalah mantu dari KH. Syuhud Zayyadi dan menjadi pengasuh pesantren setelah KH. Syuhud Zayyadi wafat pada tahun 1993. Guru-guru beliau adalah sebagai berikut:

  1. KH. Baqir Abdul Hamid Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar
  2. KH. Muhammad Syamsul Arifin Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar
  3. Syed Muhammad bin Alwi Al-Maliki, Makkah Al-Mukarramah
  4. Syekh Ismail Al-Yamani, Makkah Al-Mukarramah
  5. Syekh Al-Harawi, Jeddah, Arab Saudi

In Memoriam KH Zainal Ali Suyuthi

Mengenang KH Zainal Ali Suyuthi, pengasuh Ponpes Al-Khoirot 1993-2011
Oleh A. Fatih Syuhud

Tulisan ini juga dimuat di Buletin Al-Khoirot Edisi April 2011

Saya kira setiap muslim menyadari betul arti Al Quran Surah Ali Imran (3) ayat 185 yang menyebutkan bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan mati Atau makna dari Surah An Nisa’ (4) ayat 78 yang menegaskan bahwa, “Di manapun kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh.” Namun, manusia tetaplah makhluk Allah yang terdiri dari akal dan rasa.

Akal pikiran kami merelakan kepergian beliau dengan keikhlasan penuh. Hal ini berdasarkan keimanan pada Allah dan kepatuhan pada kehendakNya yang berhak mengambil jiwa manusia kapanpun Dia kehendaki (QS Yunus 10:49) . Namun, rasa tidak dapat berbohong. Rasa yang mengendalikan emosi kami merasa sulit berkompromi dengan akal. untuk merelakan begitu saja kepergian beliau dari dunai ini untuk selamanya. Dan itu terbukti saat keluarga besar Al-Khoirot—anak istri, saudara, santri dan jama’ah– menangisi kepergian beliau yang terlalu cepat. Sampai-sampai istri beliau, Ny. Hj. Lutfiyah Syuhud, terus menggumamkan ucapan, “Ya Allah, relakan kami melepas kepergiannya” secara berulang-ulang dengan linangan air mata.

Menangisi yang meninggal adalah manusiawi. Rasulullah sendiri menangis saat putra beliau Ibrahim meninggal. Dalam Islam, yang tidak dibolehkan adalah meratap. Karena meratapi orang yang meninggal identik dengan ketidakrelaan atas kehendak Allah.

Di sisi lain, banyaknya orang yang menangis saat meninggalnya Kak Ali, begitu biasanya saya memanggil beliau, adalah bukti betapai banyak orang yang mencintai, menghormati dan menyayangi belau. Tangisan atau tidak adanya tangisan merupakan salah satu bukti dari seberapa seseorang itu disayang atau dibenci semasa ia masih hidup.

Figur Sederhana

Kak Ali merupakan sosok figur yang sederhana dalam banyak hal. Dan karena kesederhanaannya itulah ia memiliki banyak teman dan hampir tidak punya musuh. Kesederhanaan dalam sikap identik dengan perilaku tawadhu’ dan selalu mengalah serta tidak pernah memaksakan kehendaknya walaupun itu dianggapnya baik.

Kesederhanaan dalam gaya hidup (life-sytle) sangat tampak dalam cara beliau berpakaian. Beliau jarang membeli baju baru kalau yang ada masih dianggap baik. Pada saat saya kembali dari India pada Maret 2007, saya menghadiahi belaiu sebuah kaos t-shirt bertuliskan Delhi University. Kaos t-shirt itu saya lihat masih sering belaiu pakai sampai beberapa hari sebelum beliau wafat yang berarti beliau memakai kaos yang sama selama 5 tahun.

Kesederhanaannya dalam gaya hidup bukan berarti belau tidak mampu secara ekonomi. Belaiu adalah seorang pekerja keras dan memiliki naluri wiraswasta yang baik. Oleh karena itu belaiu bukanlah seorang yang kekurangan secara ekonomi. Kecukupan secara ekonomi dan pola hidup yang sederhana membuat beliau dikenal sebagai orang yang dermawan. Para fakir miskin yang datang meminta bantuan selalu pulang dengan senyuman. Begitu juga, beliau adalah orang pertama mengeluarkan dana untuk pembangunan pesantren Al-Khoirot sebelum meminta bantuan pada orang lain.

Melayani Umat

Selain pekerja keras dalam membina usaha, beliau juga dikenal sangat rajin dalam berda’wah. Dengan majlis dzikir Kalimatut Tauhid-nya beliau rajib berkeliling dari kampung ke kampung di seputar kabupaten Malang dan Lumajang untuk menyebarkan da’wah pada umat. Bahkan, sehari sebelum meninggal beliau masih sempat menghadiri majlis dzikir dan pengajian di desa Gesing, Dampit.

Selain itu, beliau juga dikenal sangat rajin bersilaturrahmi. Baik itu dalam bentuk menghadiri undangan pengajian, undangan perkawinan, silaturrahmi biasa maupun takziyah pada orang yang meninggal. Beliau juga dikenal sebagai pribadi yang tidak pernah memilih-milih status sosial yang akan dikunjungi. Bagi belaiu mengunjungi rakyat biasa sama berharganya dengan mengunjungi ulama atau pejabat.

Kombinasi dari kerajinan beliau bersilaturrahmi dan sikap yang tawadhu’ itulah saya kira yang membuat beliau memiliki banyak teman daripada musuh. Dan karena itu, jauh lebih banyak yang menangisi kepergian beliau daripada yang “menertawai” (kalau itu ada).

Pengabdian Kak Ali pada ilmu, santri dan pesantren tentu tidak diragukan lagi. Beliau dikenal istiqamah dalam mengajar. Bahkan, mendidik santri adalah tugas utama yang sangat beliau prioritaskan dibanding tugas da’wah di luar. Sebagai pengasuh utama di pondok pesantren Al-Khoirot, beliau menerima tanggung jawab itu sebagai amanah yang dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan.

Kepedulian Kak Ali akan kondisi moral umat yang semakin terdegradasi memotivasi beliau mendirikan FSPS (Forum Silaturrahmi Peduli Syariah) pada tahun 1998 sebagai wahana kerja sama ulama dan masyarakat dan aparat penegak hukum dalam menjaga dan meningkatkan stabilitas mora dan sosial umat. Gerakan ini mendapat apresiasi banyak pihak karena memiliki cara-cara efektif dan non-kekerasan dan non-anarkis dalam mengimplementasikan program-programnya. Pada 2008 forum ini berganti nama menjadi FPS (Forum Peduli Syariah).

***

Masih sangat banyak hal yang ingin dilakukan dan akan terus dilakukan Kak Ali ke depan baik yang berkaitan dengan pesantren Al-Khoirot secara khusus maupun perjuangan menegakkan syariah dan pemberdayaan umat secara umum. Namun, Allah berkehendak lain. Pada hari Selasa 5 April 2011 bertepatan dengan 1 Jumadil Ula 1433, beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir pada sekitar jam 06.30 pagi dalam perjalanan dari RSI Gondanglegi menuju RSI Aisyiah Malang dalam usia 51 tahun (1960-2011).

Banyak orang berpendapat bahwa beliau wafat terlalu muda. Dengan kata lain, umur Kak Ali terlalu pendek. Bagi saya, umur panjang atau pendek bukan terletak pada berapa usia kita saat meninggal, Ukuran usia pendek dan panjang itu terletak pada seberapa banyak amal baik yang telah kita lakukan selama masa kita hidup. Baik amal untuk diri sendiri maupun amal baik yang bermanfaat pada orang lain. Dalam konteks ini, Kak Ali telah mendapat anugerah umur yang sangat panjang mengingat begitu banyak amal baik yang telah beliau lakukan.

Semoga Allah menerima semua amal baik beliau dan memaafkan semua kesalahan beliau. Dan yang tak kalah penting, semoga kita yang masih hidup dapat meneladani dan terinspirasi oleh sepak terjang beliau khususnya dalammm soal keikhlasan, kerendah-hatian, kedermawanan, dan kesederhanaan Amin.[]

Sebarkan Kebaikan Sekarang
loading...

Santri Admin

Santri Admin has written 833 articles

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>