Surat Untuk Ayahanda Presiden RI Joko Widodo

monas

 

SURAT DARI RAKYAT JELATA UNTUK BAPAK PRESIDEN


Kepada Yth.
Ayahanda Joko Widodo

Bismillahirrahmaanirrahim.

Ayahanda, semoga bapak presiden berkenan dengan sebutan ini, karena sebutan inilah yang diajarkan oleh guru kami, Almaghfurlah Al Habib Munzir AlMusawa. Ayahanda tentu masih ingat panggilan ini, karena sebutan ini dikatakan AlMaghfurlah di panggung tahun baru Majelis Rasulullah (MR) di monas. Ayahanda masih menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta. Ketika itu, tumpah ruah doa guru kami untuk ayahanda, diiringi tetesan air hujan di malam itu. Ribuan kaum muslimin jamaah MR berzikir dan diikuti pula pengunjung monas lainnya yang awalnya tidak berniat untuk berdoa tetapi tangis doa mereka sebagian ternyata lebih keras dan khusu’ dibandingkan jamaah MR. Mereka khusu’ tenggelam dalam dinginnya malam dan tetesan hujan, mendoakan Jakarta dan Indonesia, para pemimpin, dan semua kebaikan lainnya. Kemudian ayahanda dan kami ternyata masih berjodoh kembali. Ayahanda bapak presiden dan beberapa menteri hadir kembali di acara Maulid Agung di monas. Ayahanda menyampaikan sambutan. Di bawah panggung, Ayahanda mendapat jaket Majelis Rasulullah. Suasana yang hangat dan indah di pagi hari. Pemimpin dan rakyat berdoa bersama untuk keselamatan negeri. Maka izinkanlah monas kami pakai untuk berdoa bersama lagi.

Ayahanda, hubungan manis dan mesra para pemimpin, umara dan ulama tidak hanya berlangsung saat itu saja dan pada era masa kepemerintahan ini saja. Jauh sebelumnya, di seluruh masa kepemimpinan gubernur maupun presiden, semua berjalan seiring mesra, saling mendukung dan mendoakan untuk keberkahan negeri. Bahkan sejak zaman presiden Soekarno , betapa beliau sangat dekat dengan kalangan ulama Jakarta, dari mulai daerah Kwitang hingga pelosok daerah Bungur. Dari segi tempat, jauh sebelumnya sejarah mencatat, sebuah peristiwa besar rapat raksasa di lapangan Ikada yang didalamnya penuh semangat dan doa, berada di dalam bagian monas. Lapangan ini adalah lapangan harapan milik rakyat. Sejak sekitar 7 tahun yang lalu pun telah menjadi lapangan dzikir akbar rakyat mendoakan pemimpin dan negeri. Maka izinkanlah monas kami pakai untuk berdoa bersama lagi.

Ayahanda, apa yang ayahanda takutkan dengan perkumpulan ini?. Ayahanda tentu sangat mengetahui bagaimana didikan dari guru kami. Kami bukan kelompok makar. Kami bukan kelompok yang akan mengubah Indonesia menjadi negara islam. Kami bukan kelompok anti pemerintah. Kami bukan kelompok kekerasan atau radikal. Kami bukan kelompok penggalang massa untuk unjuk kekuatan. Mengenai kami, laporan intelejen yang disusun sejak Republik ini berdiri, tentu lebih lengkap. Silahkan ayahanda pelajari dan baca kembali. Kami yakin catatan kami bersih. Ayahanda tentu sangat mengerti. Kami menggunakan monas untuk duduk bersama membaca maulid, mendengarkan tausiah agama, berdzikir dan berdoa untuk perubahan akhlak kami menjadi akhlak yang baik seperti Rasulullah, perubahan negeri ini menjadi negeri yang aman, makmur, jauh dari bencana, dan mendoakan seluruh Indonesia barat dan timur. Kemudian ribuan hingga puluhan ribu dari kami yang hadir, pulang kembali dengan tertib. Maka izinkanlah monas kami pakai untuk berdoa bersama lagi.

Ayahanda, surat ini ditulis tulus tanpa muatan politik, dan saya tidak berkenan jika surat ini digunakan atau disebar untuk kepentingan politik pihak manapun. Guru kami Almaghfurlah Al Habib Munzir AlMusawa, dan guru beliau yang akan dating ke Indonesia, Al Habib Umar bin Hafizh, tidak pernah mengajarkan mencaci kepada siapapun termasuk kepada pemimpin. Beliau mengajarkan kesantunan dan kelembutan serta menjauhi segala hal yang berbau muslihat. Ayahanda, sebab kedatangan guru beliau lah kami membutuhkan tempat. Jumlah jamaah yang akan hadir akan sangat banyak karena murid dan pecinta (jama’ah) Al Habib Umar bukan hanya di Jakarta saja, tapi diseluruh penjuru Indonesia bahkan mancanegara. Monas adalah tempat luas dan nyaman bagi jamaah rakyat Indonesia yang ingin berdzikir bersama beliau. Atas nama seluruh rakyat di penjuru barat dan timur Indonesia yang ingin menghadiri acara tersebut, maka izinkanlah kami pakai monas untuk berdoa bersama lagi.

Ayahanda, Al Habib Umar bin Hafiz dan rombongannya adalah rombongan ulama besar islam yang telah diterima di penjuru dunia, mulai dari benua Amerika, Afrika, Eropa, Asia, hingga Australia. Seluruh pemimpin di benua tersebut menyambut dan memberikan tempat untuk beliau. Semua pemimpin memberikan tempat untuk beliau, bahkan di negara yang islamnya minoritas. Ayahanda, kami tidak ingin membawa perkara ini menjadi urusan mayoritas-minoritas, tetapi kami kami ingin mengatakan bahwa, Indonesia adalah negeri mayoritas muslim terbesar di dunia dan ayahanda adalah pemimpinnya. Ayahanda, monas adalah juga bumi Indonesia. Acara di monas adalah representasi penerimaan pemimpin pada ulama besar dunia. Sama seperti tamu-tamu agung kenegaraan lainnya, maka begitu pula Al Habib Umar bin Hafiz dan rombongannya patut diterima dan dihormati layaknya budaya kehangatan di Indonesia. Beliau sudah rutin datang ke Indonesia sejak 2004. Dzikir di monas bersama beliau adalah acara yang sangat ditunggu jamaah rakyat Jakarta dan penjuru Indonesia. Maka izinkanlah kami pakai monas untuk berdoa bersama lagi.

Ayahanda, mengapa surat ini ditujukan langsung kepada ayahanda?. Kami rasa ayahanda sedikit banyak telah mengetahui proses perizinan yang masih kami perjuangkan hingga hari ini. Maka izinkalah kami pakai monas untuk berdoa bersama lagi.

Salam Hormat,
Ummu Zahra
(ibu 1 orang anak, karyawan swasta, jamaah majelis)

*surat ini boleh disebar secara utuh tanpa isi yang ditambah atau dikurangi*

Sebarkan Kebaikan Sekarang
loading...

Santri Admin

Santri Admin has written 830 articles

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>