Santri net Ucapkan Belasungkawa Untuk Wafatnya Murid KH. Hasyim Asy’ari

KH A. Muchith Muzadi

Stelah beliau mungkin tdk ada lagi murid langsung Kh.Hasyim Asy’ari yg masih hidup

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun…..
Mohon hadiah fatihah dan doa smoga khusnul khotimah. Subuh ini mbah Muchit Muzadi pulang ke rahmatulloh. Dan akan dimakamkan di Jember hari ini. Janazah masih perjalanan dari Malang ke Jember.

KH A. Muchith Muzadi meninggal dunia di RS Persada,Malang,Jawa Timur, sekitar pukul 05.00 beberapa saat lalu (6/9). Menurut rencana, Mbah Muchith akan disholatkan di Ponpes Al HikamMalang. Selanjutnya kakan kandung KH Hasyim MUzadi ini akan dimakamkan di pesantrennya di Jl Kalimantan,Jember, Jatim.Di lingkungan NU, seperti dilansir situs resmi NU, Mbah Muchith Muzadi merupakan pejuang organisasi yang luar biasa. Sejak pindah dariTubanke sejumlah daerah, tak menyurutkan kakak KH Hasyim Muzadi ini untuk terus berjuang bersama NU. Misalnya, menjadi sekretaris GP AnsorJogjakarta(1961-1962), Sekretaris GP Ansor KabupatenMalangdan Sekretaris PCNUJember(1968-1975), wakil ketua PCNUJember(1976-1980), Pengurus LP Ma’arif PWNU Jatim (1980-1985), Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim (1992-1995), Rais Syuriyah PBNU (1994-2004), dan Mustasyar PBNU sejak Muktamar NU ke-31 Boyolali (2004).Bahkan ketika NU masih bersama Masyumi, Kiai Muchith tak ketinggalan untuk ikut mengabdi. Antara lain sebagai Komandan Kompi Hizbullah merangkap anggotaBadan Perwakilan Rakyat Daerah KabupatenTuban(1947-1951).

Karirnya di dalam pemerintahan pun tak kalah mentereng, dirinya pernah menjadi Wakil Ketua Dewan Pemerintah Daerah (DPD), kemudian menjadi Sekretaris Daerah KabupatenTuban(1959-1961).Meski demikian, Mbah Muchith tetap dikenal sebagai pribadi yang bersahaja. Segala jabatan yang diembannya, tak membuatnya tertarik untuk menumpuk banyak harta. Satu nasihat dari salah satu sesepuh NU, KH Munasir Ali. “Chith, dulu orang-orang tua masuk NU, niatndandakno awak (memperbaiki diri),”kata Kiai Muchith menirukan ucapan Kiai Munasir.Namun, sayangnya pesan tersebut kini banyak tak dijalankan para wargaNU.

“Orang (sekarang,-red) masuk NU itu bukan ndandakno awak tapi rebutan iwak (berebut kedudukan),” begitu gurauan Kiai Muchith.Di NU, keterlibatannya begitu besar dalam perumusan konsep menjelangmuktamar di Situbondo tahun 1984 yang kemudian memutuskan khittah jam’iyyah NU, kembalinya NU ke kancah perjuangan, meninggalkan dunia politik praktis. Bersama KH Achmad Shiddiq, Rais Aam Syuriyah PBNU (1984-1989), Kiai Muchith sering disebut sebagai sosok yang mewarnai pemikiran dan gagasan Kiai Achmad Shiddiq. Hampir semua ide-ide cemerlang Kiai Achmad disampaikan terlebih dahulu kepada Kiai Muchith untuk dikonsep dan diketik dengan baik, sebelum disebarkan ke khalayak. Termasuk konsep “Khittah NU, Islam dan Asas Tunggal” yang fenomenal.(*)

Sebarkan Kebaikan Sekarang
loading...

Santri Admin

Santri Admin has written 839 articles

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>