Forsan Salaf has written 242 articles

Forsan Salaf adalah situs yang dikelola Yayasan Sunniyah Salafiyah. Memuat bahasan-bahasan ilmiah yang mendalam dan bisa dipertanggungjawabkan. Seluruh isi telah disaring dan dikaji ulang oleh sebuah tim yang berada di bawah pengawasan Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf.

Comments

comments

46 thoughts on “Hukum Bermu’amalah Dengan Bank

  1. zen says:

    Kita sebagai anak tentu ingin membahagiakan orang tua. Tapi tatkala orang tua sudah terlanjur terjerat hutang dg bank, dan kesulitan untuk membayarnya.
    Bagaimana solusinya ust, apakah kita ikut membantu (istilahnya “urunan”) dengan saudara2 yang lain atau bagaimana ust?

  2. zen says:

    Kita sebagai anak tentu ingin membahagiakan orang tua. Tapi tatkala orang tua sudah terlanjur terjerat hutang dg bank, dan kesulitan untuk membayarnya.
    Bagaimana solusinya ust, apakah kita ikut membantu (istilahnya “urunan”) dengan saudara2 yang lain atau bagaimana ust?

  3. @ zen, justru itu menjadi perbuatan yang baik dari anak dengan berusaha untuk melepaskan beban orang tua dari belenggu haram. Dengan begitu, orang tua anda akan cepat terlepas dari perbuatan riba. Namun dengan tetap tidak meninggalkan usaha untuk menasehati orang tua secara sopan dan santun agar tidak bersentuhan dan mendekati segala perkara yang berbau riba.
    mudah2an bermanfaat. amin.

  4. @ zen, justru itu menjadi perbuatan yang baik dari anak dengan berusaha untuk melepaskan beban orang tua dari belenggu haram. Dengan begitu, orang tua anda akan cepat terlepas dari perbuatan riba. Namun dengan tetap tidak meninggalkan usaha untuk menasehati orang tua secara sopan dan santun agar tidak bersentuhan dan mendekati segala perkara yang berbau riba.
    mudah2an bermanfaat. amin.

  5. safii says:

    Bank yang dimaksud diatas apa juga termasuk Bank Muamalat wat Tamwil (BMT), karena kenyataan dilapangan BMT menggiring nasabahnya agar memberi hasil yang lebih banyak, hingga sampai pada kondisi “memberi karena malu”, yang haram diterima oleh BMT sebagaimana didawuhkan AlGhozali.

  6. safii says:

    Bank yang dimaksud diatas apa juga termasuk Bank Muamalat wat Tamwil (BMT), karena kenyataan dilapangan BMT menggiring nasabahnya agar memberi hasil yang lebih banyak, hingga sampai pada kondisi “memberi karena malu”, yang haram diterima oleh BMT sebagaimana didawuhkan AlGhozali.

  7. safii says:

    lagi, sepertinya di BMT, nasabah tidak bebas memilih akad syar’i yang dikehendaki. nasabah cendrung diarahkan (dipilihkan tanpa persetujuan) pada akad yang menguntungkan pihak Bank. dan sepertinya lagi “menanggung kerugian bersama” disaat Amil/Mudharrib bangkrut tidak diberlakukan oleh BMT.mau ndak mau uang yang pinjamkan harus kembali utuh plus bagi hasilnya.Mohon maaf, kalau tulisan ini mengganggu.ini mewakili keluhan nasabah BMT yang lain.

  8. safii says:

    lagi, sepertinya di BMT, nasabah tidak bebas memilih akad syar’i yang dikehendaki. nasabah cendrung diarahkan (dipilihkan tanpa persetujuan) pada akad yang menguntungkan pihak Bank. dan sepertinya lagi “menanggung kerugian bersama” disaat Amil/Mudharrib bangkrut tidak diberlakukan oleh BMT.mau ndak mau uang yang pinjamkan harus kembali utuh plus bagi hasilnya.Mohon maaf, kalau tulisan ini mengganggu.ini mewakili keluhan nasabah BMT yang lain.

  9. zen says:

    Trima kasih ust ats jawabannya, tentu ini suatu ilmu yang sangat bermanfaat bagi kami.

    Ada masalah yang berbeda ust, fulan mengetahui bahwa riba adalah haram, tapi orang tua dan saudara dalam keadaan ekonomi yang terjepit (misal waktunya bayar cicilan barang, dll) kemudian orang tua dan saudara tersebut datang kepada fulan untuk meminta tolong di pinjamkan uang dengan jaminan usaha yang dijalankan oleh fulan.

    1.Apakah boleh membantu orang tua dan saudara yang meminta untuk hutang kepada bank? Bagaimana solusinya ust?
    2.Ketika fulan ingin menolak bagaimana cara terbaik menghadapinya, mengingat orang tua dan saudara yang lagi dalam kesusahan tersebut? Mohon solusinya ust?

  10. zen says:

    Trima kasih ust ats jawabannya, tentu ini suatu ilmu yang sangat bermanfaat bagi kami.

    Ada masalah yang berbeda ust, fulan mengetahui bahwa riba adalah haram, tapi orang tua dan saudara dalam keadaan ekonomi yang terjepit (misal waktunya bayar cicilan barang, dll) kemudian orang tua dan saudara tersebut datang kepada fulan untuk meminta tolong di pinjamkan uang dengan jaminan usaha yang dijalankan oleh fulan.

    1.Apakah boleh membantu orang tua dan saudara yang meminta untuk hutang kepada bank? Bagaimana solusinya ust?
    2.Ketika fulan ingin menolak bagaimana cara terbaik menghadapinya, mengingat orang tua dan saudara yang lagi dalam kesusahan tersebut? Mohon solusinya ust?

  11. @ zen, ketika orang tua dalam kesusahan ekonomi, maka wajib bagi anak2 yang mampu untuk membantu sebagai bentuk nafkah anak kepada orang tua. Adapun jika tidak mampu juga dan tidak ada jalan lain kecuali dengan pinjam uang, maka jangan sampai masuk dalam riba seperti hutang pada bank, walaupun atas perintah orang tua karena لا طاعة المخلوق في معصية الخالق ” tidak ada ketaatan kepada makhluk untuk berma’siat kepada Allah”, akan tetapi cari pinjaman yang tidak berbau riba, bahkan jika perlu harus menjual sebagian harta kita untuk membantu orang tua itu lebih bagus dari pada menjadikan orang tua kita dan keluarga kita dalam kemaksiatan dan murka Allah.
    bukankah segala kesulitan itu adalah cobaan dari Allah, maka mintalah jalan keluar dari Allah jangan tambah membuat Allah murka dengan melakukan kemaksiatan kepada Allah SWT.
    Allah berfirman dalam Al-Qur’an :
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
    ” wahai orang2 yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”
    ini menunjukkan, dalam kepedulian kita kepada keluarga juga harus didasari atas keselamatan dari murka Allah, bukan malah menjatuhkan diri dalam kemaksiatan,
    Mudah2an Allah memberikan kemudahan dalam segala urusan anda baik dunia dan akhirat, Amin.

  12. @ zen, ketika orang tua dalam kesusahan ekonomi, maka wajib bagi anak2 yang mampu untuk membantu sebagai bentuk nafkah anak kepada orang tua. Adapun jika tidak mampu juga dan tidak ada jalan lain kecuali dengan pinjam uang, maka jangan sampai masuk dalam riba seperti hutang pada bank, walaupun atas perintah orang tua karena لا طاعة المخلوق في معصية الخالق ” tidak ada ketaatan kepada makhluk untuk berma’siat kepada Allah”, akan tetapi cari pinjaman yang tidak berbau riba, bahkan jika perlu harus menjual sebagian harta kita untuk membantu orang tua itu lebih bagus dari pada menjadikan orang tua kita dan keluarga kita dalam kemaksiatan dan murka Allah.
    bukankah segala kesulitan itu adalah cobaan dari Allah, maka mintalah jalan keluar dari Allah jangan tambah membuat Allah murka dengan melakukan kemaksiatan kepada Allah SWT.
    Allah berfirman dalam Al-Qur’an :
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
    ” wahai orang2 yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”
    ini menunjukkan, dalam kepedulian kita kepada keluarga juga harus didasari atas keselamatan dari murka Allah, bukan malah menjatuhkan diri dalam kemaksiatan,
    Mudah2an Allah memberikan kemudahan dalam segala urusan anda baik dunia dan akhirat, Amin.

  13. hmm says:

    klo kita berinvestasi di bank semacam asuransi ato tabungan rencana yg nanti hasil akhirnya yg kita terima lebih besar nominalnya tp belum tentu lebih besar nilai riilnya dr yg kita investkan krn dana kita dipake buat mendanai usaha itu gmn? boleh kah?

  14. hmm says:

    klo kita berinvestasi di bank semacam asuransi ato tabungan rencana yg nanti hasil akhirnya yg kita terima lebih besar nominalnya tp belum tentu lebih besar nilai riilnya dr yg kita investkan krn dana kita dipake buat mendanai usaha itu gmn? boleh kah?

  15. @ hmm, dalam investasi harus mengetahui terhadap kerja penerima modal dan tidak ada unsur riba. Sehingga jika usaha Bank adalah menggunakan dana investasi para nasabah untuk tujuan mendapatkan keuntungan besar dengan jalan riba seperti praktek pinjaman dengan bunga berkala, maka investasinya haram dan hasilnya pun haram, karena investasi kita bisa membantu Bank untuk melakukan praktek riba yang diharamkan oleh syariat, berarti membantu dalam kemaksiatan.

  16. @ hmm, dalam investasi harus mengetahui terhadap kerja penerima modal dan tidak ada unsur riba. Sehingga jika usaha Bank adalah menggunakan dana investasi para nasabah untuk tujuan mendapatkan keuntungan besar dengan jalan riba seperti praktek pinjaman dengan bunga berkala, maka investasinya haram dan hasilnya pun haram, karena investasi kita bisa membantu Bank untuk melakukan praktek riba yang diharamkan oleh syariat, berarti membantu dalam kemaksiatan.

  17. zen says:

    Alhamdulillah wa jazakumulloh kher ats jawaban dan nasehat2nya ust. Sungguh kami bersyukur dengan adanya forsansalaf.com yang menjadi salah satu sarana untuk membuat kita bisa lebih mudah memahami ilmu agama. Kami nantikan nasehat2 antum untuk kami yang sangat awam tentang agama.

    Due tige Jarjid dlm upin & ipin berpantun
    Zen ucapkan matur nuhun…

  18. zen says:

    Alhamdulillah wa jazakumulloh kher ats jawaban dan nasehat2nya ust. Sungguh kami bersyukur dengan adanya forsansalaf.com yang menjadi salah satu sarana untuk membuat kita bisa lebih mudah memahami ilmu agama. Kami nantikan nasehat2 antum untuk kami yang sangat awam tentang agama.

    Due tige Jarjid dlm upin & ipin berpantun
    Zen ucapkan matur nuhun…

  19. badawy says:

    aslkm ww,

    pak ustadz……,bagaiman cara mencari pinjaman yang halal menurut agama……?pinjaman tersebut akan digunakan untuk usaha….mohon pencerahanya…karna kami sangat membutuhkan dana, makasih…wasalam….ww

  20. badawy says:

    aslkm ww,

    pak ustadz……,bagaiman cara mencari pinjaman yang halal menurut agama……?pinjaman tersebut akan digunakan untuk usaha….mohon pencerahanya…karna kami sangat membutuhkan dana, makasih…wasalam….ww

  21. Mencari modal usaha dalam syariat bisa dengan 3 cara :
    1. Qord (hutang) yaitu hutang secara biasa dengan tanpa adanya sistem bagi hasil,dan tidak boleh ada riba’ didalamnya
    2. Qirod (tanam modal) yaitu penyerahan modal untuk usaha kepada seseorang dengan tanpa adanya campur tangan dari pihak pemberi modal,dan keuntungan dibagi secara persentase yang disepakati
    3. Syarikah (kongsi) yaitu pengumpulan dana dari dua orang atau lebih untuk bekerja sama dalam usaha yg sudah ditentukan dan keuntungan atau kerugian ditanggung bersama berdasarkan persentase jumlah modal masing masing

  22. Mencari modal usaha dalam syariat bisa dengan 3 cara :
    1. Qord (hutang) yaitu hutang secara biasa dengan tanpa adanya sistem bagi hasil,dan tidak boleh ada riba’ didalamnya
    2. Qirod (tanam modal) yaitu penyerahan modal untuk usaha kepada seseorang dengan tanpa adanya campur tangan dari pihak pemberi modal,dan keuntungan dibagi secara persentase yang disepakati
    3. Syarikah (kongsi) yaitu pengumpulan dana dari dua orang atau lebih untuk bekerja sama dalam usaha yg sudah ditentukan dan keuntungan atau kerugian ditanggung bersama berdasarkan persentase jumlah modal masing masing

  23. abdurrahman says:

    Assalamu’alaikum wr.wb ustadz

    Ustadz bagaimana hukum membeli rumah dengan kredit? seperti banyak sekarang karyawan2 pabrik / lainya yang membeli rumahnya ddengan cara kredit melalui bank-bank konvensional,dengan alasan kalau mau beli cast mereka tidak mampu dan mungkin tidak akan pernah kebeli selai dengan cara kredit!

    sebelumya terimakasih atas jawabanya!

    wassalamu’alaikum wr.wb

  24. abdurrahman says:

    Assalamu’alaikum wr.wb ustadz

    Ustadz bagaimana hukum membeli rumah dengan kredit? seperti banyak sekarang karyawan2 pabrik / lainya yang membeli rumahnya ddengan cara kredit melalui bank-bank konvensional,dengan alasan kalau mau beli cast mereka tidak mampu dan mungkin tidak akan pernah kebeli selai dengan cara kredit!

    sebelumya terimakasih atas jawabanya!

    wassalamu’alaikum wr.wb

  25. Membeli rumah dengan cara kredit hukumnya sah semenjak tidak ada sanksi dari bank jika pembayarannya terlambat dan tidak ada dua harga (harga kontan dan harga kredit) yg berbeda ketika akad,jika ada dua harga dalam penawarannya saja (tdk masuk dalam akad) maka diperbolehkan.Tetapi realita yang ada tidak demikian karena kebanyakan hutang yang pembayarannya terlambat akan diberi sanksi oleh pihak bank dan ini merupakan riba’,oleh karena itu kami sarankan anda berhati-hati untuk bermuamalat dengan bank

  26. Membeli rumah dengan cara kredit hukumnya sah semenjak tidak ada sanksi dari bank jika pembayarannya terlambat dan tidak ada dua harga (harga kontan dan harga kredit) yg berbeda ketika akad,jika ada dua harga dalam penawarannya saja (tdk masuk dalam akad) maka diperbolehkan.Tetapi realita yang ada tidak demikian karena kebanyakan hutang yang pembayarannya terlambat akan diberi sanksi oleh pihak bank dan ini merupakan riba’,oleh karena itu kami sarankan anda berhati-hati untuk bermuamalat dengan bank

  27. abdurrahman says:

    Assalamu’alaikum wr.wb

    1.Ustadz maaf mohon dijelaskan maksud dari “tidak ada dua harga (harga kontan dan harga kredit) yg berbeda ketika akad,jika ada dua harga dalam penawarannya saja (tdk masuk dalam akad) maka diperbolehkan.”

    2.apabila kita sudah terlanjur membeli rumah dgn kredit, kemudian kita mendapatkan sanksi(termasuk riba) dari bank dikarenakan terlambat membayar angsuranya, apakah kita juga ikut berdosa?

    3.Kalau kita meminjam / berhutang kepada bank (yang menerapkan sanksi bila telat membayar), kemudian selama membayar hutang tersebut (diangsur)sampai lunas kita tidak pernah telat, apakah diperbolehkan?

    terimakasih atas jawabanya!

    Wassalmu’alaikum wr.wb

  28. abdurrahman says:

    Assalamu’alaikum wr.wb

    1.Ustadz maaf mohon dijelaskan maksud dari “tidak ada dua harga (harga kontan dan harga kredit) yg berbeda ketika akad,jika ada dua harga dalam penawarannya saja (tdk masuk dalam akad) maka diperbolehkan.”

    2.apabila kita sudah terlanjur membeli rumah dgn kredit, kemudian kita mendapatkan sanksi(termasuk riba) dari bank dikarenakan terlambat membayar angsuranya, apakah kita juga ikut berdosa?

    3.Kalau kita meminjam / berhutang kepada bank (yang menerapkan sanksi bila telat membayar), kemudian selama membayar hutang tersebut (diangsur)sampai lunas kita tidak pernah telat, apakah diperbolehkan?

    terimakasih atas jawabanya!

    Wassalmu’alaikum wr.wb

  29. @abdurrahman,wa’alaikum salam
    1.yang dimaksud 2 harga (harga tunai dan kredit) berbeda dalam akad adlh jika pihak penjual memberikan 2 harga lain misal : klau tunai 100jt klau kredit 120jt dan kedua pilihan tersebut disebutkan dalam akad (transakasi),tapi kalau hanya penawaran saja sperti berupa brosur atau yang lainnya maka diperbolehkan
    2.Membantu perbuatan dosa adalah dosa,jadi lebih baik dihindari
    3.jika syarat tersebut (sanksi) disebutkan ketika akad maka tidak sah walaupun tidak pernah terlambat,akan tetapi jika diluar akad maka sah dan syarat (sanksi) tersebut tidak wajib dibayar

  30. @abdurrahman,wa’alaikum salam
    1.yang dimaksud 2 harga (harga tunai dan kredit) berbeda dalam akad adlh jika pihak penjual memberikan 2 harga lain misal : klau tunai 100jt klau kredit 120jt dan kedua pilihan tersebut disebutkan dalam akad (transakasi),tapi kalau hanya penawaran saja sperti berupa brosur atau yang lainnya maka diperbolehkan
    2.Membantu perbuatan dosa adalah dosa,jadi lebih baik dihindari
    3.jika syarat tersebut (sanksi) disebutkan ketika akad maka tidak sah walaupun tidak pernah terlambat,akan tetapi jika diluar akad maka sah dan syarat (sanksi) tersebut tidak wajib dibayar

  31. ummu says:

    Ustadz,dulu saya pernah meminjam uang di bank BRI& koperasi sekolah untuk membuat rumah.pada waktu itu yang saya tahu selama kita tidak makan uang riba tidak haram hukumnnya.
    saya baru tahu setelah baca buku ternyata yang meminjam uang dari bank juga haram hukumnya, karena sudah termasuk pelaku dari riba.
    Tetapi pada waktu itu kami sudah mencoba pinjaman di bank syariah, dan hasilnya ternyata syaratnya saya tidak bisa memenuhi.
    bagaimana hukumnya ustadz klo seperti kasus saya ini?
    terimakasih atas jawabannya

  32. ummu says:

    Ustadz,dulu saya pernah meminjam uang di bank BRI& koperasi sekolah untuk membuat rumah.pada waktu itu yang saya tahu selama kita tidak makan uang riba tidak haram hukumnnya.
    saya baru tahu setelah baca buku ternyata yang meminjam uang dari bank juga haram hukumnya, karena sudah termasuk pelaku dari riba.
    Tetapi pada waktu itu kami sudah mencoba pinjaman di bank syariah, dan hasilnya ternyata syaratnya saya tidak bisa memenuhi.
    bagaimana hukumnya ustadz klo seperti kasus saya ini?
    terimakasih atas jawabannya

  33. @ummu,meminjam uang dengan syarat mengembalikannya lebih adalah riba baik itu dari bank,kopersi atau yang lainnya.dan membantu perbuatan dosa adalah dosa dalam bentuk apapun termasuk riba,walaupun dalam keadaan apapun.

  34. @ummu,meminjam uang dengan syarat mengembalikannya lebih adalah riba baik itu dari bank,kopersi atau yang lainnya.dan membantu perbuatan dosa adalah dosa dalam bentuk apapun termasuk riba,walaupun dalam keadaan apapun.

  35. Purwoko Adhi Widhi Nugroho says:

    Assalamu’alaykum ustadz, saat ini ana sedang merintis usaha di bidang peternakan ayam, Ana bekerjasama dengan teman sebut saja si A, dia memiliki keahlian dibidang peternakan ayam, tetapi dia tidak memiliki modal, kemudian si A pinjam di BPR singkat cerita dissetujui oleh BPR. Modal kami 50:50 demikian juga dengan keuntungan kami di bagi 50:50 setelah dikurangi modal masing2. Bagaimana hukum usaha kami karena tercampurnya modal yang si A berasal dari bank, sedang modal saya berasal dari tabungan sendiri? mohon nasehatnya

  36. Purwoko Adhi Widhi Nugroho says:

    Assalamu’alaykum ustadz, saat ini ana sedang merintis usaha di bidang peternakan ayam, Ana bekerjasama dengan teman sebut saja si A, dia memiliki keahlian dibidang peternakan ayam, tetapi dia tidak memiliki modal, kemudian si A pinjam di BPR singkat cerita dissetujui oleh BPR. Modal kami 50:50 demikian juga dengan keuntungan kami di bagi 50:50 setelah dikurangi modal masing2. Bagaimana hukum usaha kami karena tercampurnya modal yang si A berasal dari bank, sedang modal saya berasal dari tabungan sendiri? mohon nasehatnya

  37. @ Purwoko, wa’alaikum salam Wr. Wb.
    Uang yang dipinjem dari Bank dengan adanya riba dari persyaratan bunga adalah riba. Dengan demikian, modal yang anda gunakan tercampur dengan harta riba. Yang berarti keuntungan yang di dapatkannya pun setengahnya adalah berbau riba.
    Oleh karena itu, demi keberkahan dalam usaha anda, alangkah baiknya anda gantikan modal yang berasal dari riba dengan modal yang benar-benar halal, karena ALlah SWT telah berfirman :
    يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ
    ” Allah menghapus (keberkahan) pada riba dan menumbuhkembangkan shodaqoh “

  38. @ Purwoko, wa’alaikum salam Wr. Wb.
    Uang yang dipinjem dari Bank dengan adanya riba dari persyaratan bunga adalah riba. Dengan demikian, modal yang anda gunakan tercampur dengan harta riba. Yang berarti keuntungan yang di dapatkannya pun setengahnya adalah berbau riba.
    Oleh karena itu, demi keberkahan dalam usaha anda, alangkah baiknya anda gantikan modal yang berasal dari riba dengan modal yang benar-benar halal, karena ALlah SWT telah berfirman :
    يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ
    ” Allah menghapus (keberkahan) pada riba dan menumbuhkembangkan shodaqoh “

  39. Akhi says:

    Seingat saya insa Allah Yg d mksud dua akad itu antara cash misal rp 50 dan kalau kredit rp 100 sedang si pembeli langsug meninggalkan tempat dan si pembeli oke atau setuju (tdk memilih antara 2 aqad), tapi kalau memilih satu di antaranya itu tdk bisa d katakan 2 aqad

  40. Akhi says:

    Seingat saya insa Allah Yg d mksud dua akad itu antara cash misal rp 50 dan kalau kredit rp 100 sedang si pembeli langsug meninggalkan tempat dan si pembeli oke atau setuju (tdk memilih antara 2 aqad), tapi kalau memilih satu di antaranya itu tdk bisa d katakan 2 aqad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>