Pesan Kh. Soleh Darat Tentang I’tikaf Jelang Lailatul Qodar

PESAN KH SHOLEH DARAT TENTANG I’TIKAF JELANG LAILATUL QADR
Oleh M. Rikza Chamami (Dosen UIN Walisongo & Wakil Ketua Komunitas Pecinta KH Sholeh Darat/KOPISODA)

image

Kaum muslimin di seluruh dunia tentu sangat berharap limpahan pahala bulan Ramadan. Yang paling istimewa dan sangat dinantikan adalah dapat digapainya sebuah malam mulia yang bernama malam qadr (lailatul qadr). Malam ini disebutkan sebagai malam yang lebih mulia dari seribu bulan sebagaimana disampaikan dalam al-Qur’an surat al-Qadr: Lailatu al-qadri khairun min alfi syahr.

KH Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani (terkenal dengan Mbah Sholeh Darat) mengenalkan tentang hakikat lailatul qadr sebagai hari raya bagi para malaikat. Dalam Kitab Lathaifu al-Thaharah wa Asrar al-Shalah disebutkan oleh Mbah Sholeh Darat, bahwa Syaikh Abdul Qadir Al Jailaini menyampaikan: “Adapun malam nishfu Sya’ban itu adalah ‘idul Malaikah (hari raya para Malaikat). Dan demikian juga malam lailatul qadrjuga sebagai hari raya para Malaikat. Sebab Malaikat itu tidak tidur, maka lebaran bagi Malaikat ada di malam hari. Berbeda dengan lebaran manusia”.

Sebuah pesan yang sangat mulia, dimana masyarakat Islam ditunjukkan sebuah peristiwa agung di dalam bulan-bulan Islam. Jika malam nishfu Sya’ban oleh Allah ditunjukkan harinya jelas pada tanggal 15 bulan Sya’ban, maka tidak demikian malam lailatul qadr yang oleh Allah sangat dirahasiakan keberadaannya. Yang ada hanyalan pendapat para shahabat Nabi dan para ulama mengenai tanda-tanda lailatul qadr yang berada pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan.

Mbah Sholeh Darat dalam kitab karangannya yang menggunakan bahasa Jawa pegon bernama Majmu’atu al-Syari’ah al-Kafiyah li al-‘Awam halaman 107 menjelaskan bab tentang i’tikaf. Yang dimaksudkan dengan i’tikaf adalah berdiam diri di di dalam masjid dengan niat i’tikaf. Amalan i’tikaf ini hukumnya sunnah. Dan berubah menjadi sunnag muakkad (sunnah yang sangat diharuskan) ketika masuk bulan Ramadan, terutama dalam sepuluh hari terakhir pada malam duapuluh satu hingga berakhir hingga menemukan lailatul qadr.

Adapun syarat i’tikaf itu ada tujuh, yaitu: Islam, berakal, suci dari haidl/nifas, berdiam diri di masjid dengan sekdarthama’ninah, berada di Masjid/serambi Masjid (walaupun tidak dipakai shalat Jum’at), niat i’tikaf, niat fardlu i’tikaf jikai’tikafnya sebagai nadzar. Pahala bet’tikaf di dalam masjid semuanya sama, kecuali di Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsha.
Yang membatalkan i’tikaf itu ada tujuh hal, yaitu: keluar dari masjid tanpa udzur, murtad, mabuk, haidl, nifas, jima’, keluarnya air mani akibat bersenggolan. Dan pahala orang i’tikaf akan hilang jika orang yang i’tikaf itu melakukan: misuh(Jawa) di dalam Masjid, membicarakan orang lain, berbohong, adu domba, makan makanan haram dan mencium istri di Masjid dengan syahwat.

Disunnahkan ketika masuk ke masjid melakukan i’tikaf dengan menggunakan kaki kanan dan berdoa:
اعوذ بالله العظيم وجهه الكريم وسلطانه القديم من الشيطان الرجيم بسم الله والحمد لله اللهم صل على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد اللهم اغفرلي ذنوبي وافتح لي ابواب رحمتك وسهل لي ابواب رزقك
Dan ketika keluar dari masjid menggunakan kaki kiri dengan membaca:
اللهم اغفرلي ذنوبي وافتح لي ابواب فضلك واحفظني من الشيطان وجنوده برحمتك يا ارحم الراحمين.*)

Sebarkan Kebaikan Sekarang
loading...

Santri Admin

Santri Admin has written 833 articles

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>