Dalil Puasa Tarwiyah

Puasa Tarwiyah masuk keutamaan sembilan hari pertama Dzulhijjah.

Puasa

Pertanyaan ini sering muncul di tengah-tengah masyarakat. Berpuasa di hari kesembilan Dzulhijjah atau dikenal
dengan Hari Arafah banyak orang mengetahui hukumnya, yakni sunah. Tetapi, tak sedikit yang masih gamang soal
hukum berpuasa pada hari kedelapan Dzulhijjah. Apa hukumnya?

Sebuah artikel sederhana karya Dr Abdurrahman bin Shalih bin Muhammad al-Ghafili yang berjudul Hukm Shiyam Asyr Dzilhijjah,berusaha memaparkan hukum puasa yang sering disebut denganHari Tarwiyah tersebut.

Ia menjelaskan topik ini merupakan bahasan klasik yang telah banyak dikupas dalam deretan kitab hadis ataupun
ulama-ulama terdahulu.

Para ulama sepakat, Puasa Tarwiyah hukumnya sunah. Bahkan, sangat dianjurkan berpuasa sejak hari pertama
Dzulhijjah hingga Hari Arafah, tepatnya 9 Dzulhijjah.

Dalam kitab Minah al-Jalil Syarh ‘Ala Mukhtashar al-Khalil yang bermazhab Maliki  disebutkan hukum berpuasa selama sembilan hari pertama Dzulhijjah hukumnya sunah, istilah puasa tersebut dikenal dengan sebutan
asyr Dzilhijjah.

Penegasan yang sama disampaikan dalam kedua kitab bercorak Mazhab Syafi’i, yakni al-Majmu’ Syarah Muhadzab dan Mughni al-Muhtaj Ila Ma’rifat Ma’ani al-Fadz al-Minhaj.

Hukum berpuasa Tarwiyah dan Arafah serta puasa selama sembilan hari pertama Dzulhijjah ialah sunah. Anjuran
berpuasa itu tidak terbatas kepada mereka yang tidak berhaji, tetapi juga berlaku pula bagi jamaah haji.

Mewakili Mazhab Hanbali, ada kitab al-Mughni karya Ibnu Qudamah. Kitab tersebut menegaskan, kesembilan hari
pertama Dzulhijjah (asyr Dzilhijjah) merupakan hari yang utama dan dimuliakan.

Pahala ibadah di sepanjang hari tersebut ditingkatkan karena itu hendaknya menambah frekuensi dan intensitas
beribadah pada hari-hari tersebut. Mazhab Zhahiri juga berpandangan sama, ini seperti ditegaskan oleh Ibnu Hazm
dalam kitab al-Muhalla.

Ibnu Hajar al-Asqalani menganalisis keutamaan rentetan hari di separuh pertama Dzulhijjah didasari satu fakta
yang sangat menarik, yaitu sejumlah ibadah yang pokok berkumpul menjadi satu pada hari tersebut, seperti
shalat, sedekah, dan manasik haji. “Keistimewaan itu tak ada di hari lain,” kata tokoh bermazhab Syafi’i
tersebut.

Beberapa hadis yang dijadikan sebagai dasar ketentuan hukum berpuasa pada sembilan hari pertama, termasuk Hari Tarwiyah danArafah, antara lain, hadis riwayat Ibnu Abbas.

Hadis yang dinukilkan oleh Imam Bukhari dan Ahmad mengisahkan, Rasulullah SAW pernah bersabda, tidaklah
terdapat amal ibadah yang lebih pantas dilakukan, kecuali di kesembilan hari pertama Dzulhijjah.

Riwayat ini diperkuat oleh nukilah Hunaidah bin Khalid dari istri-istri Rasul. Dikisahkan, Nabi Muhammad SAW
berpuasa pada sembilan Dzulhijjah.

Imam Nawawi dalam kitab Syarah an-Nawawi ala Muslim menyatakan berpuasa selama hari itu hukumnya tidaklah makruh, bahkan sangat dianjurkan dan disunahkan.

Apalagi, hari kesembilan Dzulhijjah atau puasa Hari Arafah. Hadis yang dinukilkan oleh Bukhari dan Ahmad dari Ibnu Abbas di atas cukup menjadi bukti kuat terkait sunahnya berpuasa di sepanjang hari tersebut, termasuk Tarwiyah.

Sedangkan hadis riwayat Muslim dari Aisyah menyatakan, Rasul tidak pernah berpuasa pada hari-hari tersebut, bisa jadi ada banyak kemungkinan sebab.

Entah sakit atau sedang bepergian. Mungkin pula saat Rasul berpuasa, Aisyah sedang tidak berada di sisinya. Sehingga, kedua riwayat itu tidak saling kontradiktif.

Menurut Ensiklopedi Fikih Kuwait (al-Mausu’ah al-Kuwaitiyah), para ulama sepakat hukum berpuasa delapan hari
sebelum Hari Arafah hukumnya sunah. Ini merujuk hadis riwayat Ibnu Abbas di atas.

Menurut Mazhab Hanbali, sebelum puasa Arafah, puncaknya adalah berpuasa Tarwiyah. Mazhab Maliki bahkan menegaskan puasaTarwiyah pahalanya bisa menutup dosa-dosa kecil yang dilakukan selama setahun.

Sunah berpuasa ini, seperti pandangan Mazhab Maliki dan Syafi’i, berlaku pula untuk jamaah haji. Sedangkan
Mazhab Maliki, memakruhkan puasa pada hari tersebut bila hal itu dinilai akan memberatkan pelaksanaan manasik.

Komite Tetap Kajian dan Fatwa Arab Saudi menyatakan, hukum berpuasa Arafah adalah sunah bagi yang tidak
berhaji. Jika hendak berpuasa sehari sebelumnya atau Hari Tarwiyah,silakan.

Bila ingin berpuasa selama sembilan hari pertama Dzulhijjah berturut-turut juga sangat baik. Ini kembali pada keutamaan hari tersebut, seperti penegasan riwayat Ibnu Abbas tadi. 

Oleh Nashih Nashrullah, Republika.co.id

Sebarkan Kebaikan Sekarang
loading...

Santri Admin

Santri Admin has written 832 articles

Comments

comments

One thought on “Dalil Puasa Tarwiyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>