Menjenguk “Allah Yang Sakit”

sakit

Sekilas judul artikel ini sangat mengagetkan, padahal untuk mengetuk hati yg keras membatu (tak mau peduli dengan orang lain) harus dikagetkan agar memiliki rasa empati.

Apa itu empati? mengapa kita harus berempati kepada orang lain? Apa bedanya dengan simpati? Kata empati sering kali diartikan dengan rasa peduli. Tapi rasa empati jauh lebih mendalam dari peduli.

Menurut wikipedia bahasa Indonesia, Empati adalah kemapuan seseorang untuk mengenali , mempersepsi, dan merasakan pesaraan orang lain. Karena pikiran, kepercayaan dan keinginan seseorang berhubungan dengan perasaannya. Seseorang yg berempati akan mampu mengetahui pikiran dan kemauan orang lain.

Jadi dengan berempati, kita akan masuk kedalam dunia orang lain, dan sama2 merasakan apa yg dirasakannya.

Mengapa harus berempati? karena Islam senantiasa mengajarkan kita untuk berempati, baik kepada sesama manusia, dan kepada semua makhlukp ciptaan-Nya

مَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ فَإِنَّ اللَّهَ فِى حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yg mencukupi kebutuhan saudarnya, niscaya Allah akan memenuhi kebutuhannya, dan barang siapa yg melepaskan satu kesusahan yg dialami oleh seorang muslim, maka Allah akan menghindarkannya dari satu kesusahan di hari kiamat.” (HR. Muslim)

Diantara rasa empati yg ada pada seorang muslim adalah menjenguk orang sakit. Hukum menjenguk orang sakit adalah fardhu kifayah, karena ada perintah dan merupakan hak saudara sesama muslim.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ: رَدُّ السَّلاَمِ، وَعِيَادَةُ الْمَرِيْضِ، وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ، وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ، وَتَشْمِيْتُ الْعَاطِسِ

“Hak seorang muslim terhadap muslim yg lain ada lima yaitu menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengikuti jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan orang yg bersin (bila yg bersin mengucapkan hamdalah, jika tidak maka tidak didoakan).” (HR. Al-Bukhari no. 1240 dan Muslim no. 5615)

Bara’ bin Azib berkata,

وعَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ ، قَالَ:أَمَرَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم …وَأَمَرَ بِسَبْعٍ : عِيَادَةِ الْمَرِيضِ ، وإتباع الْجَنَائِزِ ، وَتَشْمِيتِ الْعَاطِسِ ، وَرَدِّ السَّلاَمِ ، وَإِبْرَارِ الْمُقْسِمِ ، وَنَصْرِ الْمَظْلُومِ ، وَإِجَابَةِ الدَّاعِي

“Rasulullah melarang dan memerintahkan kami dalam tujuh perkara: Kami diperintah untuk mengiringi jenazah, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan menolong orang yg dizholimi, memperbagus pembagian, menjawab salam dan mendoakan orang yg bersin…” (HR. Bukhari no. 18698)

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam, Allah Ta’ala berfirman di hari Kiamat:

« يَا ابْنَ آدَمَ مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِي . قَالَ : يَارَبِّ ،كَيْفَ أَعُودُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعِزَّةِ ؟ فَيَقُولُ : أَمَاعَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلانًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ ، وَلَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِي عِنْدَهُ ؟ وَيَقُولُ : يَا ابْنَ آدَمَ ، اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمْنِي . فَيَقُولُ : كَيْفَ أُطْعِمُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعِزَّةِ ؟ فَيَقُولُ : أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلانًا اسْتَطْعَمَكَ فَلَمْ تُطْعِمْهُ ، أَمَاعَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ أَطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي ؟ وَيَقُولُ : يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَسْقَيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِي . فَيَقُولُ : أَيْ رَبِّ ، وَكَيْفَ أَسْقِيكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعِزَّةِ ؟ فَيَقُولُ : أَمَاعَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلانًا اسْتَسْقَاكَ فَلَمْ تَسْقِهِ ، وَلَوْ سَقَيْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي ؟ » .

“Hai anak Adam, Aku telah sakit, tetapi engkau tidak menjenguk-Ku. Orang itu bertanya: Wahai Tuhan, bagaimana cara sy menjenguk-Mu, sedangkan Engkau Tuhan penguasa alam semesta? Allah menjawab: Apakah engkau tidak mengetahui bahwa seorang hamba-Ku bernama Fulan sedang sakit tetapi engkau tidak mau menjenguknya. Sekiranya engkau mau menjenguknya, pasti engkau dapati Aku di sisinya.

Wahai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tetapi engkau tidak mau memberikan makan kepada-Ku. Orang itu bertanya: Wahai Tuhan, bagaimana caranya saya memberi makan kepada-Mu, sedang Engkau Tuhan penguasa alam semesta? Allah berfirman: Ketahuilah, apakah engkau tidak peduli adanya seorang hamba-Ku, si Fulan, telah datang meminta makan kepadamu, tetapi engkau tidak memberinya makan. Ketahuilah, sekiranya engkau mau memberinya makan, pasti engkau akan menemukan balasannya di sisi-Ku.

Wahai anak Adam, Aku minta minum kepadamu, tetapi engkau tidak mau memberi-Ku minum. Orang itu bertanya: Wahai Tuhan, bagaimana caranya aku memberi-Mu minum, padahal Engkau Tuhan penguasa semesta alam? Allah berfirman: hamba-Ku, si Fulan, minta minum kepadamu tetapi engkau tidak mau memberinya minum. Ketahuilah, sekiranya engkau memberinya minum, pasti engkau akan menemui balasannya di sisi-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini mengungkapkan dialog antara Allah dengan hamba-Nya menggunakan kata2 kiasan. Sebab Allah Maha Suci dari kekurangan dan kelemahan yg biasa menjadi sifat yg melekat pada makhluk.

Lapar, haus dan sakit adalah kelemahan yg melekat pada makhluk dan hal2 tersebut sama sekali jauh dari sifat2 Allah Ta’ala. Maksud dari kata kiasan yg digunakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam dalam hadits ini, dalam ilmu balaghah disebut dengan tasybih baligh. Artinya, ungkapan yg sangat mendalam untuk menggambarkan suatu kondisi sehingga pendengarnya ikut larut dalam kesedihan atau kegembiraan, simpati atau antipati terhadap keadaan yg digambarkan oleh pembicara.

Pada hadits di atas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bahwa seorang manusia yg sakit atau lapar atau haus benar2 sangat mendambakan pertolongan dan bantuan, mengharapkan orang yg dapat menghiburnya. Kondisi yg sangat memprihatinkan ini oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam digambarkan sebagai penderitaan yg dirasakan oleh Allah juga. Padahal Allah adalah Dzat yg Maha Perkasa, Maha Sempurna, Maha Gagah, Maha Berkuasa dan sifat2 Maha lainnya, sehingga suatu hal yg sangat mustahil menurut akal jika Allah menderita sakit, lapar dan haus.

Menggunakan ungkapan dengan bahasa kiasan seperti yg diutarakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits di atas, dimaksudkan untuk mengetuk hati manusia yg paling halus, paling sensitif agar bersungguh-sungguh memperhatikan nasib orang lain yg sedang mengalami penderitaan dan berjuang sepenuh hati untuk menyelamatkan si penderita.

Keselamatan orang lain dikaitkan dengan bantuan yg kita berikan kepadanya membuktikan, bahwa Allah memerintahkan kepada manusia untuk menyelamatkan orang lain dari ancaman kemusnahan atau penderitaan. Sehingga manusia selamat dan hidup sejahtera, aman dan tenteram di dunia ini.

Oleh karena itu, untuk mendorong hati manusia menaruh rasa belas kasih kepada sesamanya, peduli terhadap sesama, Allah gambarkan orang2 yg sedang sakit atau menderita kehausan dan kelaparan sebagai kondisi yg dialami oleh Allah sendiri.

Dengan demikian orang2 yg beriman dimotivasi, ditumbuhkan semangatnya agar peduli dan bermurah hati membantu orang yg lapar atau kehausan atau orang yg sedang sakit dengan menjenguknya.

Orang2 yg berbuat kebaikan semacam ini Allah janjikan keselamatan dan pahala di akhirat dengan balasan tidak terhingga. Wallahu a’lam bis-Shawab.

Demikian Ibnu Mas’ud At-Tamanmini menjelaskan dalam kajiannya dan semoga bermanfa’at. Aamiin

والله الموفق الى اقوم الطريق

Sebarkan Kebaikan Sekarang
loading...

Ustadz Ibnu Masud

Ustadz Ibnu Masud has written 23 articles

Adalah seorang ustadz yang masih muda namun sangat produktif menulis bantahan bantahan terhadap faham wahabi

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>