PENJELASAN ISTIWA

ISTIWA

Allah SWT berfirman di dalam Alquran

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى [طه: 5]

“ Tuhan yang maha pemurah bersamayam di arsy” (QS Thaha : 5)

Mereka berkata

Pada ayat di atas Allah SWT menerangkan bahwa diri-Nya beristiwa. Istiwa dari segi bahasa adalah bertakhta atau bersemayam, itu artinya Allah berada di tempat yang tinggi yaitu arsy.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ  [الأعراف: 54[

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS Al A`raf : 54)

Dan masih banyak ayat yang menyatakan bahwa Allah beristiwa seperti dalam surat Yunus ayat 3, Ar-Ra’du ayat 2, Al-Furqon ayat 59, As-Sajdah ayat 4 dan Al-Hadid ayat 4.

Selain ayat-ayat di atas, keberadaan Allah di langit juga didukung oleh hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim mengenai seorang sahabat Nabi yang bernama Muawiyah bin Hakam As-Sulami ra. Beliau berkehendak untuk memerdekakan seorang budak wanita  miliknya. Sebelum beliau memerdekakannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajukan dua pertanyaan kepada budak wanita tersebut :

أَيْنَ اللَّهُ  قَالَتْ فِى السَّمَاءِ.قَالَ « مَنْ أَنَا ». قَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ. قَالَ  أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ.

“Di mana Allah ?” Budak wanita itu menjawab, “(Allah itu) di langit”. Rasulullah bertanya, “Siapakah aku i?”. Budak wanita itu  menjawab, “Engkau adalah Rasulullah.” Nabi saw bersabda, “Merdekakan dia, karena dia seorang mukminah”. (HR Muslim) (1)
Dari sini kita mengetahui bahwa ternyata Allah SWT berada di langit dengan keadaan yang layak bagi kesucian-Nya.

Kami Menjawab

Dalam agama Islam, masalah Aqidah merupakan masalah yang sangat fundamental (pokok) sehingga kita dituntut untuk senantiasa berhati-hati dalam menyikapi ayat atau hadits yang menerangkan mengenai hal ini. Terlebih ketika berhubungan dengan sifat Allah SWT, kita tidak boleh menelan mentah-mentah dan menisbatkan hal tersebut begitu saja kepada diri-Nya. Hal ini dikarenakan Alquran turun dalam bahasa arab yang mempunyai gramatika bahasa yang begitu kompleks (lengkap). Satu kata dalam bahasa arab terkadang memiliki bermacam-macam makna seperti makna hakiki, majaz, dzohir, muawwal dan lain sebagainya.

Hal semacam ini sebetulnya bukanlah sesuatu yang jarang kita temui dalam disiplin ilmu Alquran dan, bahkan di dalam beberapa ayat Alquran, Allah juga menisbatkan lupa(2), pinggang(3), tangan(4), betis(5), wajah(6) dan lain sebagainya pada diri-Nya. Tidak hanya itu, dalam hadits Nabi saw, Allah juga disifati dengan kata turun(7), tertawa (8) dan lain-lain.

Jika kita hanya berpegang pada dzohir ayat dan hadits di atas kita akan mendapatkan sebuah kontradiksi dalam memahami teks agama, karena dalam dzohir ayat yang lain banyak sekali keterangan yang menunjukkan bahwa Allah SWT juga ada di Bumi. Sebagai contoh ayat berikut ini :

  1. Allah berfirman bahwa Dia berada bersama kita

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ  [الحديد: 4]

“ Dan Dia bersamamu di mana pun engkau berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.(QS Al Hadid : 4)

وَقَالَ اللَّهُ إِنِّي مَعَكُمْ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلَاةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنْتُمْ بِرُسُلِي وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ فَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ  [المائدة: 12]

Allah berfirman, Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika engkau mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku serta kamu bantu mereka dan engkau minjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. (QS Al Maidah : 12)

قَالَ كَلَّا فَاذْهَبَا بِآيَاتِنَا إِنَّا مَعَكُمْ مُسْتَمِعُونَ  [الشعراء: 15]

“Allah berfirman: “Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu), maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat-mukjizat); Sesungguhnya Kami bersamamu mendengarkan (apa-apa yang mereka katakan) (QS As Syuara : 15)

فَلَا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ  [محمد: 35]

“Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allahpun Bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu.(QS Muhammad 35)

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة: 7، 8]

“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS Al Mujadilah : 7)

قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى [طه: 46]

“Allah berfirman: “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat”. (QS Thaha : 46)

Dan masih ada lagi ayat-ayat lain yang menegaskan hal serupa.

Allah SWT menegaskan berkali-kali bahwa Dia senantiasa bersama kita, lantas di manakah kita, Bukan kah kita berada di bumi?

  1. Bahkan Allah SWT berfirman bahwa Dia lebih dekat dengan urat nadi kita

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ [ق: 16]

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,”(QS Qaf : 12)

  1. Imam Bukhari meriwayatkan dalam hadits shahihnya bahwa Rasulullah saw menyatakan, ketika kita shalat maka Allah SWT berada di hadapan kita(9),
  2. Begitu pula Imam Muslim dalam kitab shahihnya juga meriwayatkan bahwa tempat yang paling dekat antara Antara Allah SWT dengan hamba-Nya yaitu ketika hamba itu sujud(10). Bukankah tempat sujud itu adalah di bumi?, Jika Allah SWT memang berada di langit justru tempat sujud adalah tempat yang terjauh yang memisahkan antara Allah SWT dengan hamba-Nya.

Jika kita hanya berpegang pada dzohir ayat dan hadits tersebut, dikhawatirkan kita akan terjerumus kepada faham mujassimah yang menyamakan Allah dengan makhluk-Nya padahal Allah SWT mempunyai salah satu sifat wajib yaitu Mukholfatuhu lil hawadits (berbeda dengan Makhluk-makhluk Nya). Di dalam Alquran Allah SWT berfirman :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [الشورى: 11[

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS Asy Syura’ : 11)

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ  [الإخلاص: 4[

 “Dan tidak ada satupun yang setara dengan Dia.” (QS Al Ikhlas : 4)

Allah SWT Ada Tanpa Batas Ruang dan Waktu

Apapun yang ada di dunia adalah makhluk Allah SWT tak terkecuali ruang dan waktu. Kedua dimensi ini adalah salah satu dari sekian banyak hal yang berada di dalam kekuasaan Allah. Maka mustahil jika keduanya membatasi eksistensi Allah SWT.

Keyakinan bahwa Allah tidak dibatasi oleh tempat atau arah adalah keyakinan yang sudah disepakati oleh para ulama Ahlu Sunnah baik salaf maupun khalaf. Hanya kaum mujassimah dan sebagian ahli bid`ah sajalah yang meyakini bahwa Allah SWT dibatasi oleh tempat.

Al Baghdadi dalam Al Farqu bainal firaq  berkata :

واجمعوا على انه لا يحويه مكان ولا يجرى عليه زمان

 “Ulama telah bersepakat bahwa Allah tidak diliputi oleh tempat dan zaman.”(11)

Di dalam kitab yang lain Al Hafidz Ibnu Hajar Al Atsqalani juga berkata :

وَقَدْ تَقَرَّرَ أَنَّ اللَّه لَيْسَ بِجِسْم فَلَا يَحْتَاج إِلَى مَكَان يَسْتَقِرّ فِيهِ فَقَدْ كَانَ وَلَا مَكَان

 “Dan telah ditetapkan bahwa Allah bukanlah berupa jisim maka tidak membutuhkan pada tempat untuk didiami dan Allah ada sebelum adanya tempat” (12)

Mula Ali Qari juga berkata :

وَهُوَ الَّذِيْ فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ )الزخرف (84:وَهَذَا مِمَّا اخْتَلَفَ فِيْهِ السَّلَفُ وَالْخَلَفُ بَعْدَ اتِّفَاقِهِمْ عَلَى تَنْزِيْهِ اللِه تَعَالَى عَنْ ظَاهِرِهِ الْمُوْهِمِ لِلْمَكَانِ وَالْجِهَةِ(12)

 Dan Dialah Tuhan di langit dan Tuhan  di bumi (QS Az Zukhruf : 84).  Ayat ini termasuk hal yang diperselisihkan oleh ulama salaf dan khalaf setelah sepakatnya mereka mengenai sucinya Allah dari dzohir ayat yang menunjukkan tempat dan arah.” (13)

Imam Thahawi juga berkata :

وَتَعَالَى عَنِ الْحُدُوْدِ وَالْغَايَاتِ، وَالْأَرْكَانِ وَالْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِ. لَا تَحْوِيْهِ الجِّهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ(13)

”Allah maha tinggi dari batasan-batasan dan ujung dari rukun, anggota-tubuh, atau alat. Dan Allah tidak dibatasi oleh arah yang enam seperti semua hal-hal baru .” (14)

Imam Munawi mengatakan dalam menafsiri ayat yang menerangkan Surga:

( فِي جَنَّةِ عَدْن ) رَاجِعٌ لِلْقَوْمِ أَيْ وَهُمْ فِيْ جَنَّةِ عَدْنٍ لَا إِلَى اللهِ لِاَنَّهُ لَا يَحْوِيْهِ مَكَانٌ.(14)

 “Di dalam surga Aden kembali kepada kaum yang berada di surga Aden maksudnya mereka berada di surga Aden bukan Allah sebab Allah tidak dibatasi oleh tempat” (15)

Pernyataan-pernyataan di atas adalah salah satu bukti bahwa seluruh ulama baik salaf ataupun khalaf telah sepakat untuk mensucikan Allah dari tempat dan arah dan segala bentuk penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya.

Sikap Ulama Menanggapi Ayat-ayat Mutasyabihat

Ada dua metode yang dilakukan ulama dalam menanggapi adanya ayat mutasyabihat yaitu Tafwidh dan Takwil.

Tafwidh.

Inilah metode yang dipilih oleh mayoritas ulama salaf (generasi tahun awal Islam hingga tahun 300 H). Tafwidh yaitu menyerahkan makna sepenuhnya kepada Allah SWT setelah mensucikan Allah SWT dari segala bentuk penyerupaan terhadap makhluk yang diindikasikan oleh dzohir ayat tersebut.

Sebagai contoh, ketika mereka menemukan ayat istiwa yang arti bahasanya adalah bersemayam atau duduk,  mereka menyatakan percaya pada ayat tersebut dan menyerahkan makna sepenuhnya kepada Allah SWT tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk serta tanpa meniadakan sifat tersebut bagi Allah SWT.

Hal ini sangat jauh berbeda dengan paham mujassimah yang menafsirkan makna ayat ini pada makna bahasanya sehingga mengakibatkan penyerupaan Allah SWT dengan makhluk-Nya.

Diriwayatkan dari Ummu Salamah ketika beliau ditanya mengenai ayat di atas beliau tidak menerangkan ayat tersebut dengan maka dzohir akan tetapi beliau menjawab,

اَلْكَيْفُ غَيْرُ الْمَعْقُوْلِ وَالْاِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ، وَالْإِقْرَارُ بِهِ مِنَ الْإِيْمَانِ وَالْجُحُوْدُ بِهِ كُفْرٌ.

 “Caranya tidak diketahui sedangkan makna istiwa tidaklah samar, menetapkannya adalah bagian dari keimanan dan mengingkarinya adalah kufur.” (16)

Imam Malik juga berkata dengan pernyataan senada :

اَلْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ، وَاْلِاسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ، وَاْلِإيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ.

“Caranya tidak diketahui, istiwa maknanya tidak samar, mengimaninya wajib dan bertanya tentangnya adalah bid`ah”(17)

Kuatnya tingkat keimanan yang dimiliki orang-orang yang hidup pada generasi itu membuat metode ini banyak diterapkan oleh ulama-ulama di masa itu, meskipun demikian beberapa ulama salaf ada yang tidak menggunakan metode ini sebut saja Ibnu Abas, At-Thobari dan sebagainya.

Seiring berjalannya waktu, muncullah pertanyaan-pertanyaan yang mendalam tentang ayat mutasyabihat ini sehingga banyak orang awam yang tanpa sadar telah terjebak dalam paham mujasimah dikarenakan memandang ayat ini secara dzohir saja. Mulai saat itulah para mayorias ulama lebih memilih metode takwil karena dinilai lebih aman untuk menyelamatkan akidah orang-orang awam.

Takwil

أَمَّا التَّأْوِيْلُ: فَقَالَ الْعُلَمَاءُ: هُوَ صَرْفُ الْكَلَامُ عَنْ ظَاهِرِهِ إِلَى وَجْهٍ يَحْتَمِلُهُ. أَوَجْبَهُ بُرْهَانٌ قَطْعِيٌّ فِيْ الْقَطْعِيَّاتِ، وَظَنِّيٌّ فَي الظَّنِّيَّاتِ،

Menurut para ulama, takwil adalah memalingkan perkataan dari dzohirnya (makna aslinya) kepada arti-arti lain yang memungkinkan karena adanya bukti-bukti yang qot`iy (pasti) dalam menentukan qot`iyyat (hukum-hukum pasti) dan bukti-bukti dzonni (persangkaan) dalam menentukan dzonniyyat ( hukum-hukum yang belum pasti) (18)

Sebagian orang menolak metode ini berdasarkan ayat :

فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ [آل عمران: 7]

Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS Ali Imran : 7)

Berdasarkan ayat ini Ibnul Qoyyim Al-Jauzi mengatakan dalam Kitabnya As-Showaiq Al- Mursalah bahwa Takwil atau Majaz adalah Thoghut (semacam sihir), terbukti para salaf seperti Imam Malik dan Imam Ahmad serta Imam Syafi’I  tidak melakukan Takwil.

Sekilas pernyataan ini terlihat  kuat dan meyakinkan karena diambil langsung dari Alquran. Namun jikalau memang takwil adalah hal yang dilarang kenapa Rasulullah saw mendoakan Ibnu Abbas agar menjadi orang yang ahli Takwil?

اللهم علمه التأويل وفقهه فى الدين

 “Ya Allah, Ajarilah dia (Ibnu Abbas) ilmu takwil dan berilah kepadanya kepahaman agama.” (HR Thabrani)(19)

Apakah mungkin Rasulullah saw mendoakan agar sahabat beliau diberi kepahaman tentang sesuatu yang dilarang? Selain itu ada fakta-fakta menarik yang menunjukkan bahwa para ulama yang hidup di era klasik (ulama salaf) telah melakukan metode ini.

Takwil Ibnu Abbas

Pernyataan bahwa para salaf tidak melakukan metode ini adalah statement yang sangat lemah. Memang metode ini lebih banyak digunakan oleh ulama mutaakhirin walaupun sebenarnya metode ini telah dikenal sejak periode ulama salaf, sebagai buktinya adalah ayat Alquran berikut ini :

فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَذَا وَمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ  [الأعراف: 51]

 “Maka pada hari (kiamat) ini, kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami.” (QS Al A`raf : 51)

Ibnu Abbas yang merupakan ulama dari kalangan sahabat menakwilkan kata lupa pada ayat itu dengan kata meninggalkan (tidak memberi Rahmat). (20)

Begitupun Imam Bukhari yang termasuk ahli hadits terklasik, juga menerangkan bahwa ulama salaf mempunyai beberapa takwil dalam menafsiri firman Allah SWT :

 كُلُّ شَىْءٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَه

Sebagian menyatakan bahwa wajh pada ayat itu bermakna kerajaan dan ada pula yang menyatakan bahwa itu adalah amal-amal yang dikerjakan karena Allah SWT.(21)

Menakwili tertawa dengan rahmat

Kemudian pada sebuah hadits diterangkan bahwa Allah SWT tertawa kepada hamba-Nya, pada hadits tersebut lagi-lagi Imam Bukhari juga menakwilinya dengan Rahmat :

قَالَ الشَّيْخُ : وَأَمَّا الضَّحْكُ الْمَذْكُوْرُ فِي الْخَبَرِ فَقَدْ رَوَى الْفَرْبَرِيُّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْمَاعِيْلَ الْبُخَارِيِّ رَحِمَهُ اللهُ أَنّهُ قَالَ : مَعْنَى الضَّحْكُ فِيْهِ الرَّحْمَةُ

Berkata Syaikh (Al Baihaqi) : sedangkan mengenai tertawa dialam hadits tersebut, Al Farbari telah meriwayatkan  dari Muhammad nin Ismail Al Bukhari ra behwa beliau mengatakan : Makna tertawa di dalam hadits tersebut adalah rahmat.(22)

Sedangkan mengenai hadits jariyah (budak perempuan) , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajukan dua pertanyaan kepada budak wanita tersebut :

أَيْنَ اللهُ قَالَتْ فِى السَّمَاءِ.قَالَ « مَنْ أَنَا ». قَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللهِ . قَالَ  أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya, “Di mana Allah ?” Lalu dijawab oleh budak wanita itu, “(Allah itu) di langit”, lalu Nabi bertanya lagi, “Siapa saya ini?”, dijawab oleh budak wanita itu, “Engkau adalah Rasulullah.” Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Merdekakan dia, karena dia seorang mukminah (yang beriman dan beraqidah secara benar)”.

Hadits ini tidak bisa dijadikan sandaran karena  beberapa alasan:

  1. Hadits ini adalah hadits ahad, dan hadits ahad hanya memberi dilalah dzonni (petunjuk yang tidak pasti) bukan Qoth’I (petunjuk yang pasti). Para ulama sepakat bahwa hadits ahad yang shahih hanya bisa dijadikan sandaran untuk hukum fiqh bukan aqidah.
  2. Hadits ini mudhtorib (kacau), matan hadits ini berbeda-beda, dalam hadits Muslim, Rasulullah bertanya “Dimana Allah ?” , namun dalam riwayat hadits lain Rasulullah saw bertanya, “Apakah kamu bersaksi tiada tuhan selain Allah?”(23), dalam hadits lain Rasulullah saw bertanya bertanya “Siapa tuhanmu?”.(24)

Selain itu bisa jadi perkataan budak perempuan itu bermaksud mengagungkan Allah SWT dengan menisbatkan-Nya pada tempat yang tinggi (langit), sebagaimana ungkapan orang Arab yang terbiasa mengungkapkan kemuliaan atau kehormatan seseorang dengan ungkapan bahwa seseorang itu berada di tempat yang tinggi (langit) (25).

Sudah selayaknya sebagai seorang muslim kita selalu berhati-hati dalam menentukan sebuah hukum, apalagi jika hukum itu bersentuhan langsung dengan Alquran yang mempunyai metode penafsiran yang sangat kompleks dan hanya bisa dikuasai oleh orang-orang khusus. Terlebih ketika ayat-ayat itu menerangkan tentang sifat Allah SWT dengan segala keagungan-Nya, maka wajib bagi kita untuk betul-betul menelaahnya dari berbagai segi karena kesalahan dalam menafsiri ayat ini bisa menjadi sebuah penghinaan kepada Allah SWT.

Harus kita akui bahwa kapasitas keilmuan kita saat ini sangatlah jauh jika dibanding para sahabat,  muhaddisin, mufassirin dan para ulama salaf lainnya, oleh karena itu langkah paling tepat yang harus kita tempuh adalah menelaah literatur-literatur yang telah mereka susun dalam menyikapi ayat-ayat semacam ini. Demikianlah yang mereka katakan tentang hal ini, hanya segelintir ulama saja yang tidak sesuai dengan pendapat mereka. Menurut anda manakah yang lebih akurat, pernyataan mayoritas ulama yang kompeten atau segelintir ulama yang belum teruji kredibilitasnya? Semoga uraian ini mampu memberikan manfaat agar mata hati kita lebih terbuka dalam menerima sebuah kebenaran.

Referensi

 (1) صحيح مسلم (3/  467)

1227 – حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ – وَتَقَارَبَا فِى لَفْظِ الْحَدِيثِ – قَالاَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ حَجَّاجٍ الصَّوَّافِ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِى كَثِيرٍ عَنْ هِلاَلِ بْنِ أَبِى مَيْمُونَةَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِىِّ قَالَ بَيْنَا أَنَا أُصَلِّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذْ عَطَسَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ فَقُلْتُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ. فَرَمَانِى الْقَوْمُ بِأَبْصَارِهِمْ فَقُلْتُ وَاثُكْلَ أُمِّيَاهْ مَا شَأْنُكُمْ تَنْظُرُونَ إِلَىَّ. فَجَعَلُوا يَضْرِبُونَ بِأَيْدِيهِمْ عَلَى أَفْخَاذِهِمْ فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ يُصَمِّتُونَنِى لَكِنِّى سَكَتُّ فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَبِأَبِى هُوَ وَأُمِّى مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلاَ بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ فَوَاللَّهِ مَا كَهَرَنِى وَلاَ ضَرَبَنِى وَلاَ شَتَمَنِى قَالَ « إِنَّ هَذِهِ الصَّلاَةَ لاَ يَصْلُحُ فِيهَا شَىْءٌ مِنْ كَلاَمِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ ». أَوْ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ وَقَدْ جَاءَ اللَّهُ بِالإِسْلاَمِ وَإِنَّ مِنَّا رِجَالاً يَأْتُونَ الْكُهَّانَ. قَالَ « فَلاَ تَأْتِهِمْ ». قَالَ وَمِنَّا رِجَالٌ يَتَطَيَّرُونَ.

قَالَ « ذَاكَ شَىْءٌ يَجِدُونَهُ فِى صُدُورِهِمْ فَلاَ يَصُدَّنَّهُمْ ». قَالَ ابْنُ الصَّبَّاحِ « فَلاَ يَصُدَّنَّكُمْ ». قَالَ قُلْتُ وَمِنَّا رِجَالٌ يَخُطُّونَ. قَالَ « كَانَ نَبِىٌّ مِنَ الأَنْبِيَاءِ يَخُطُّ فَمَنْ وَافَقَ خَطَّهُ فَذَاكَ ». قَالَ وَكَانَتْ لِى جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِى قِبَلَ أُحُدٍ وَالْجَوَّانِيَّةِ فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ فَإِذَا الذِّيبُ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِى آدَمَ آسَفُ كَمَا يَأْسَفُونَ لَكِنِّى صَكَكْتُهَا صَكَّةً فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَىَّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ أُعْتِقُهَا قَالَ « ائْتِنِى بِهَا ». فَأَتَيْتُهُ بِهَا فَقَالَ لَهَا « أَيْنَ اللَّهُ ». قَالَتْ فِى السَّمَاءِ. قَالَ « مَنْ أَنَا ». قَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ. قَالَ « أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ ».

 (2)تفسير الجلالين (3/  4)

{ الذين اتخذوا دِينَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا وَغَرَّتْهُمُ الحياة الدنيا فاليوم ننساهم } نتركهم في النار { كَمَا نَسُواْ لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هذا } بتركهم العمل له { وَمَا كَانُواْ بئاياتنا يَجْحَدُونَ } أي وكما جحدوا .

 (3)تفسير الجلالين (9/  112)

{ أَن تَقُولَ نَفْسٌ ياحسرتى } أصله يا حسرتي أي ندامتي { على مَا فَرَّطَتُ فِى جَنبِ الله } أي طاعته { وَإِنْ } مخففة من الثقيلة أي وإني { كُنتُ لَمِنَ الساخرين } بدينه وكتابه .

 (4)تفسير القرطبي (16/  228)

قوله تعالى : { إن الذين يبايعونك } بالحديبية يا محمد { إنما يبايعون الله } بين أن بيعتهم لنبيه صلى الله عليه و سلم إنما هي بيعة الله كما قال تعالى : { من يطع الرسول فقد أطاع الله } [ النساء : 80 ] وهذه المبايعة هي بيعة الرضوان على ما يأتي بيانها في هذه السورة إن شاء الله تعالى : { يد الله فوق أيديهم } قيل : يده في الثواب فوق أيديهم في الوفاء ويده في المنة عليهم بالهداية فوق أيديهم في الطاعة وقال الكلبي : معناه نعمة الله عليهم فوق ما صنعوا من البيعة وقال ابن كيسان : قوة الله ونصرته فوق قوتهم ونصرتهم { فمن نكث } بعد البيعة { فإنما ينكث على نفسه } أي يرجع ضرر النكث عليه لأنه حرم نفسه الثواب وألزمها العقاب { ومن أوفى بما عاهد عليه الله } قيل في البيعة وقيل في إيمانه { فسيؤتيه أجرا عظيما } يعني في الجنة وقرأ حفص و الزهري ( عليه ) بضم الهاء وجرها الباقون وقرأ نافع و ابن كثير و ابن عامر ( فسنؤتيه ) بالنون واختاره الفراء و أبو معاذ وقرأ الباقون بالياء وهو اختيار أبي عبيد و أبي حاتم لقرب اسم الله منه .

 (5)تفسير الجلالين (11/  311)

{ يَوْمَ يُكْشَفُ عَن سَاقٍ } هو عبارة عن شدّة الأمر يوم القيامة للحساب والجزاء . يقال : كَشَفَ الحرب عن ساقٍ : إذا اشتدّ الأمر فيها { وَيُدْعَوْنَ إِلَى السجود } امتحاناً لإِيمانهم { فَلاَ يَسْتَطِيعُونَ } تصير ظهورهم طبقاً واحداً .

 (6)تفسير الجلالين (1/  121)

{ فَأَيْنَمَا تُوَلُّواْ } وجوهكم في الصلاة بأمره { فَثَمَّ } هناك { وَجْهُ الله } قبلته التي رضيها { إِنَّ الله واسع } يسع فضله كل شيء { عَلِيمٌ } بتدبير خلقه .

 (7)شرح النووي على مسلم (3/  96)

1261- قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( يَنْزِل رَبّنَا كُلّ لَيْلَة إِلَى السَّمَاء الدُّنْيَا فَيَقُول : مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيب لَهُ ) هَذَا الْحَدِيث مِنْ أَحَادِيث الصِّفَات ، وَفِيهِ مَذْهَبَانِ مَشْهُورَانِ لِلْعُلَمَاءِ سَبَقَ إِيضَاحهمَا فِي كِتَاب الْإِيمَان وَمُخْتَصَرهمَا أَنَّ أَحَدهمَا وَهُوَ مَذْهَب جُمْهُور السَّلَف وَبَعْض الْمُتَكَلِّمِينَ : أَنَّهُ يُؤْمِن بِأَنَّهَا حَقّ عَلَى مَا يَلِيق بِاَللَّهِ تَعَالَى ، وَأَنَّ ظَاهِرهَا الْمُتَعَارَف فِي حَقّنَا غَيْر مُرَاد ، وَلَا يَتَكَلَّم فِي تَأْوِيلهَا مَعَ اِعْتِقَاد تَنْزِيه اللَّه تَعَالَى عَنْ صِفَات الْمَخْلُوق ، وَعَنْ الِانْتِقَال وَالْحَرَكَات وَسَائِر سِمَات الْخَلْق . وَالثَّانِي : مَذْهَب أَكْثَر الْمُتَكَلِّمِينَ وَجَمَاعَات مِنْ السَّلَف وَهُوَ مَحْكِيّ هُنَا عَنْ مَالِك وَالْأَوْزَاعِيِّ : أَنَّهَا تُتَأَوَّل عَلَى مَا يَلِيق بِهَا بِحَسْب مَوَاطِنهَا . فَعَلَى هَذَا تَأَوَّلُوا هَذَا الْحَدِيث تَأْوِيلَيْنِ أَحَدهمَا : تَأْوِيل مَالِك بْن أَنَس وَغَيْره مَعْنَاهُ : تَنْزِل رَحْمَته وَأَمْره وَمَلَائِكَته كَمَا يُقَال : فَعَلَ السُّلْطَان كَذَا إِذَا فَعَلَهُ أَتْبَاعه بِأَمْرِهِ . وَالثَّانِي : أَنَّهُ عَلَى الِاسْتِعَارَة ، وَمَعْنَاهُ : الْإِقْبَال عَلَى الدَّاعِينَ بِالْإِجَابَةِ وَاللُّطْف . وَاللَّهُ أَعْلَم .

 (8)الأسماء والصفات للبيهقي (2/  186)

 أخبرنا أبو الحسين بن بشران ، أنا أبو الحسن المصري ، عن عبد الله بن محمد بن أبي مريم ، عن نعيم بن حماد ، عن سفيان بن عيينة ، سمع مسعر بن كدام ، عن عمرو بن مرة ، عن عبد الله بن سلمة ، عن علي ، ومحمد بن عجلان ، عن عون بن عبد الله ، عن عبد الله بن مسعود ، أنهما قالا : إذا حدثتم عن رسول الله صلى الله عليه وسلم حديثا فظنوا به الذي هو أهيأ وأهدى وأتقى « قال الشيخ : وأما الضحك المذكور في الخبر فقد روى الفربري عن محمد بن إسماعيل البخاري رحمه الله أنه قال : » معنى الضحك فيه الرحمة « . ونحن نبسط الكلام فيه إن شاء الله عند ذكر صفات الفعل.

 (9)صحيح البخارى (2/  202(

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ . أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – رَأَى بُصَاقًا فِى جِدَارِ الْقِبْلَةِ فَحَكَّهُ ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ « إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّى ، فَلاَ يَبْصُقْ قِبَلَ وَجْهِهِ ، فَإِنَّ اللَّهَ قِبَلَ وَجْهِهِ إِذَا صَلَّى(.

 (10)صحيح مسلم (2/  49(

وَحَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ مَعْرُوفٍ وَعَمْرُو بْنُ سَوَّادٍ قَالاَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ غَزِيَّةَ عَنْ سُمَىٍّ مَوْلَى أَبِى بَكْرٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا صَالِحٍ ذَكْوَانَ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ.

 (11)الفرق بين الفرق (ص: 321)

واجمعوا على انه لا يحويه مكان ولا يجرى عليه زمان خلاف قول من زعم من الشهامية والكرامية انه مماس لعرشه وقد قال امير المؤمنين على رضي الله عنه ان الله تعالى خلق العرش اظهارا لقدرته لا مكانا لذاته وقال ايضا قد كان ولا مكان وهو الآن على ما كان واجمعوا على نفى الآفات والغموم والآلام واللذات عنه وعلى نفى الحركة والسكون عنه خلاف قول الهشامية من الرافضة في قولها بجواز الحركة عليه وفي دعواهم ان مكانه حدوث من حركته وخلاف قول من اجاز عليه التعب والراحة والغم والسرور والملالة كما حكى عن ابى شعيب الناسك تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا واجمعوا على ان الله تعالى غنى عن خلقه لا يجتلب بخلقه الى نفسه نفعا ولا يدفع بهم عن نفسه ضررا وهذا خلاف قول المجوس في دعواهم ان الله انما خلق الملائكة ليدفع بهم عن نفسه أذى الشيطان وأذى اعوانه واجمعوا على ان صانع العالم واحد خلاف قول الثنوية بصانعين قديمين أحدهما نور والآخر ظلمة وخلاف قول المجوس بصانعين احدهما اله قديم.

 (12)فتح الباري لابن حجر (21/  4)

وَأَمَّا مَا وَقَعَ مِنْ التَّعْبِير فِي ذَلِكَ بِقَوْلِهِ ” إِلَى اللَّه ” فَهُوَ عَلَى مَا تَقَدَّمَ عَنْ السَّلَف فِي التَّفْوِيض ، وَعَنْ الْأَئِمَّة بَعْدهمْ فِي التَّأْوِيل ، وَقَالَ اِبْن بَطَّال : غَرَض الْبُخَارِيّ فِي هَذَا الْبَاب الرَّدّ عَلَى الْجَهْمِيَّةِ الْمُجَسِّمَة فِي تَعَلُّقهَا بِهَذِهِ الظَّوَاهِر ، وَقَدْ تَقَرَّرَ أَنَّ اللَّه لَيْسَ بِجِسْم فَلَا يَحْتَاج إِلَى مَكَان يَسْتَقِرّ فِيهِ فَقَدْ كَانَ وَلَا مَكَان ، وَإِنَّمَا أَضَافَ الْمَعَارِج إِلَيْهِ إِضَافَة تَشْرِيف ، وَمَعْنَى الِارْتِفَاع إِلَيْهِ اِعْتِلَاؤُهُ مَعَ تَنْزِيهه عَنْ الْمَكَان اِنْتَهَى . وَخَلْطُهُ الْمُجَسِّمَة بِالْجَهْمِيَّةِ مِنْ أَعْجَب مَا يُسْمَع ، ثُمَّ ذَكَرَ فِيهِ أَرْبَعَة أَحَادِيث لِبَعْضِهَا زِيَادَة عَلَى الطَّرِيق الْوَاحِدَة .

 (13)مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح (5/  278)

قال تعالى وهو الذي في السماء إله وفي الأرض إله )الزخرف(44: وهذا مما اختلف فيه السلف والخلف بعد اتفاقهم على تنزيه الله تعالى عن ظاهره الموهم للمكان والجهة تقدس اسمك وفي نسخة أسماؤك أي تطهرت عما لا يليق بك قال الطيبي ربنا مبتدأ الله خبره الذي صفة مادحة عبارة عن مجرد العلو والرفعة لأنه منزه عن المكان ومن ثم نزه اسمه عما لا يليق فيلزم منه تقديس المسمى بطريق الأولى أمرك أي مطاع في السماء والأرض قال الطيبي كقوله تعالى وأوحى في كل سماء أمرها فصلت أي ما أمر به فيها ودبرها من خلق الملائكة والنيرات وغير ذلك كما رحمتك في السماء ما كافة مهيئة لدخول الكاف على الجملة في الفائق الأمر مشترك بين السماء والأرض لكن الرحمة شأنها أن تخص بالسماء دون الأرض لأنها مكان الطيبين المعصومين قال ابن الملك ولذلك أتى بالفاء الجزائية فالتقدير إذا كان كذلك فاجعل رحمتك في الأرض أي في أهلها اغفر لنا حوبنا بضم الحاء وتفتح أي ذنبنا وخطايانا أي كبائرنا وصغائرنا

(14) رسالة الحاوي

– وقال الإمام الحافظ الفقيه أبو جعفر أحمد بن سلامة الطحاوي الحنفي (321 هـ) في رسالته (العقيدة الطحاوية) ما نصه: “وتعالى- أي الله- عن الحدود والغايات والأركان والأعضاء والأدوات، لا تحويه الجهات الست كسائر المبتدعات ” اهـ.

 (15)التيسير بشرح الجامع الصغير ـ للمناوى (1/  989)

فيها قربه الله تعالى وأدناه ابن ( ابن لال عن سلمان ) الفارسي ( باسناد ضعيف ) ( جلوس الامام ) الذي يفتدى به في الصلاة ( بين الاذان والاقامة في ) صلاة ( المغرب من السنة ) بقدر ما يتطهر المقتدون به وخص المغرب لضيق وقتها فربما توهم متوهم أنه توصل صلاتها بالاذان ( فر عن أبي هريرة ) ( باسناد لين ) ( جمال الرجل ) الجمال الذي عليه المعول ليس هو ملاحة وجهه بل هو ( فصاحة لسانه ) ان كانت فصاحته بالسليقة من غير تصنع ولا تيه فلا ينافي خبر ان الله يبغض البليغ من الرجال ( القضاعي ) والعسكري ( عن جابر ) ( باسناد فيه كذاب ) ( جنات الفردوس أربع جنتان من ذهب حليتهما ) بكسر الحاء ( وآنيتهما وما فيهما وجنتان من فضة حليتهما وآنيتهما وما فيهما ) وهذه الأربعة ليس منها جنة عدن فانها ليست من ذهب ولا فضة بل من لؤلؤ وياقوت ( وما بين القوم وبين ان ينظروا إلى ربهم ) ما هذه نافية ( الا رداء الكبرياء على على وجهه ) أي ذاته وقوله ( في جنة عدن ) راجع للقوم أي وهم في جنة عدن راجع للقوم أي وهم في جنة عدن لا إلى الله لانه لا يحويه مكان ( وهذه الانهار تشخب ) بمثناة فوقية مفتوحة وشين معجمة ساكنة وخاء معجمة أي تجري ( من جنة عدن ثم تصدع ) تتفرق ( عد ذلك أنهارا ) في الجنان كلها ( حم طب عن أبي موسى ) الاشعري ورجاله رجال الصحيح.

 (16)فتح الباري لابن حجر (10/  181)

ونقل محيي السنة البغوي في تفسيره عن ابن عباس وأكثر المفسرين ان معناه ارتفع وقال أبو عبيد والفراء وغيرهما بنحوه واخرج أبو القاسم اللالكائي في كتاب السنة من طريق الحسن البصري عن أمه عن أم سلمة انها قالت الاستواء غير مجهول والكيف غير معقول والاقرار به إيمان والجحود به كفر ومن طريق ربيعة بن أبي عبد الرحمن انه سئل كيف استوى على العرش فقال الاستواء غير مجهول الكيف غير معقول وعلى الله الرسالة وعلى رسوله البلاغ وعلينا التسليم.

 (17)ذيل فتاوى ابن حجر الهيتمى (ص: 230)

وأرى هذا مثل الرجل الذي سأل مالكاً عن معنى قوله عز وجل: {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى } [طه: 5] فقال مالك: الاستواء معلوم أو معقول والكيف مجهول والإيمان به واجب والسؤال عن هذا بدعة وأراك رجل سوء أخرجوه عني، وزاد بعضهم في الحكاية: فأدبر الرجل وهو يقول: يا أبا عبد الله لقد سألتُ عنها أهل العراق وأهل الشام فما وقف أحد فيها توقيفك، وأنت ترى مالكاً كيف أدب هذا الرجل وزجره الزجر التام وهو لم يصدر منه إلا السؤال عن بعض المتشابه فما ظنك بمن صرح بما صرح به.

 (18)تهذيب الأسماء (3/  290)

أما التأويل: فقال العلماء: هو صرف الكلام عن ظاهره إلى وجه يحتمله أوجبه برهان قطعي في القطعيات، وظني في الظنيات، وقيل هو التصرف في اللفظ بما يكشف عن مقصوده، وأما التفسير فهو بيان معنى اللفظة القريبة أو الخفية، والأيل في أواخر باب الربا من “الروضة” وهو بفتح الياء المثناة من تحت المشددة وقبلها همزة تضم وتكسر لغتان حكاهما الجوهري وأرجحهما الضم، وهو ذكر الوعول، ورأيته في المجمل مضبوطًا بكسر الهمزة فقط.

 (19)المعجم الكبير (10/  238)

حدثنا علي بن عبد العزيز و أبو مسلم الكشي قالا : ثنا حجاج بن المنهال ثنا حماد بن سلمة أنا عبد الله بن عثمان بن خثيم عن سعيد بن جبير عن ابن عباس قال : كنت في بيت ميمونة بنت الحارث فوضعت للنبي صلى الله عليه و سلم وضوءا فقال النبي صلى الله عليه و سلم : من وضع هذا ؟ فقالت ميمونة : وضعه عبد الله فقال : اللهم علمه التأويل وفقهه في الدين.

 (20)تفسير الطبري-ط الرسالة-ت أحمد شاكر (12/  476)

 حدثني المثتي قال، حدثنا عبد الله بن صالح قال، حدثني معاوية، عن علي، عن ابن عباس:”فاليوم ننساهم كما نسوا لقاء يومهم هذا” ، قال: نتركهم من الرحمة، كما تركوا أن يعملوا للقاء يومهم هذا.

 (21)صحيح البخارى (15/  497(

سورة الْقَصَصِ ( كُلُّ شَىْءٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ ) إِلاَّ مُلْكَهُ ، وَيُقَالُ إِلاَّ مَا أُرِيدَ بِهِ وَجْهُ اللَّهِ . وَقَالَ مُجَاهِدٌ ( الأَنْبَاءُ ) الْحُجَجُ .

 (22)الأسماء والصفات للبيهقي (2/  186)

63     أخبرنا أبو الحسين بن بشران ، أنا أبو الحسن المصري ، نا عبد الله بن محمد بن أبي مريم ، نا نعيم بن حماد ، نا سفيان بن عيينة ، سمع مسعر بن كدام ، عن عمرو بن مرة ، عن عبد الله بن سلمة ، عن علي ، ومحمد بن عجلان ، عن عون بن عبد الله ، عن عبد الله بن مسعود ، أنهما قالا : إذا حدثتم عن رسول الله صلى الله عليه وسلم حديثا فظنوا به الذي هو أهيأ وأهدى وأتقى « قال الشيخ : وأما الضحك المذكور في الخبر فقد روى الفربري عن محمد بن إسماعيل البخاري رحمه الله أنه قال : » معنى الضحك فيه الرحمة « . ونحن نبسط الكلام فيه إن شاء الله عند ذكر صفات الفعل

 (23)المنتقى – شرح الموطأ (4/  101)

1269 – ( ش ) : قَالَ عِيسَى بْنُ دِينَارٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى الْأَعْشَى فَأَسِفْت عَلَيْهَا يُرِيدُ غَضِبْت عَلَيْهَا قَالَ عِيسَى فِي قَوْلُهُ تَعَالَى فَلَمَّا آسَفُونَا انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ مَعْنَاهُ أَغْضَبُونَا وَقَوْلُهُ وَكُنْت مِنْ بَنِي آدَمَ يَعْنِي أَنَّهُ يُدْرِكُهُ مِنْ الْغَضَبِ مَا يُدْرِكُهُمْ وَقَوْلُهُ فَلَطَمْت وَجْهَهَا وَعَلَيَّ رَقَبَةٌ يُحْتَمَلُ أَنْ يُرِيدَ أَنَّ عَلَيْهِ رَقَبَةً بِلَطْمِهِ إيَّاهَا إِنْ كَانَ قَدْ شَجَّ وَجْهَهَا وَيُحْتَمَلُ أَنْ يُرِيدَ أَنَّ عَلَيْهِ رَقَبَةً مِنْ مَعْنًى آخَرَ كَفَّارَةٍ ، أَوْ غَيْرِهَا فَأَرَادَ أَنْ يَخُصَّهَا بِالْعِتْقِ فِي ذَلِكَ لِمَا قَدْ نَالَهَا مِنْ إذْلَالِهَا ، وَسُؤَالُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم لَهَا عَنْ مَعَانِي الْإِيمَانِ يَقْتَضِي أَنَّ الرَّقَبَةَ كَانَتْ وَاجِبَةً عَلَيْهِ مِنْ كَفَّارَةٍ يُشْتَرَطُ فِيهَا الْإِيمَانُ ؛ لِأَنَّ الْعِتْقَ لِلتَّمْثِيلِ لَا يُعْتَبَرُ فِيهِ الْإِيمَانُ .

 ( فَصْلٌ ) وَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم لَهَا مَنْ أَنَا ؟ فَقَالَتْ : رَسُولُ اللَّهِ يَقْتَضِي أَنَّ الْإِيمَانَ لَا يَتَبَعَّضُ وَلَا يَصِحُّ الْإِيمَانُ بِاللَّهِ مَعَ الْكُفْرِ بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم وَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم أَعْتِقْهَا يَقْتَضِي أَنَّ الْإِيمَانَ يَحْصُلُ بِالْإِقْرَارِ بِذَلِكَ وَالِاعْتِقَادِ وَإِنْ لَمْ يَقْتَرِنْ بِذَلِكَ نَظَرٌ وَلَا اسْتِدْلَالٌ .

قَالَ الْقَاضِي أَبُو جَعْفَرٍ وَفِي الْحَدِيثِ الثَّانِي أَنَّ السَّائِلَ قَالَ : إِنَّ عَلَيَّ رَقَبَةً مُؤْمِنَةً فَإِنْ كُنْت تَرَاهَا مُؤْمِنَةً أَعْتِقُهَا فَسَأَلَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم أَتَشْهَدِينَ أَنْ لَا إلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ أَفَتَشْهَدِينَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَفَتُوقِنِينَ بِالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ فَلَمَّا قَالَتْ نَعَمْ قَالَ أَعْتِقْهَا ، وَذَلِكَ يَقْتَضِي أَنَّهُ حَكَمَ بِكَوْنِهَا مُؤْمِنَةً دُونَ أَنْ يَسْأَلَهَا عَنْ نَظَرٍ وَاسْتِدْلَالٍ ، وَكَذَلِكَ كُلُّ مَنْ أَتَى لِيُؤْمِنَ أَخَذْنَا عَلَيْهِ الشَّهَادَتَيْنِ فَإِذَا أَقَرَّ بِهِمَا حَكَمْنَا بِإِيمَانِهِ وَلَمْ نَسْأَلْهُ عَنْ نَظَرِهِ وَاسْتِدْلَالِهِ وَإِنْ كُنَّا نَأْمُرُهُ بِذَلِكَ وَنَحُضُّهُ عَلَيْهِ بَعْدَ إيمَانِهِ وَتَرْجَمَ مَالِكٌ عَلَى هَذَيْنِ الْحَدِيثِينَ بِمَا يَجُوزُ مِنْ الْعِتْقِ فِي الرِّقَابِ الْوَاجِبَةِ فَاقْتَضَى ذَلِكَ تَأْوِيلَهُ فِي الْعِتْقِ الْمَذْكُورِ فِي الْحَدِيثِ أَنَّهُ عِتْقٌ وَاجِبٌ وَأَنَّهُ غَيْرُ مُعَيَّنٍ وَقَدْ تَقَدَّمَ وَصْفُنَا لِمَا يُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ مِمَّا لَا يُجْزِئُ فِي كِتَابِ الْأَيْمَانِ وَالنُّذُورِ وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ لِلصَّوَابِ

 (24)سنن النسائي (6/  252)

3653 – أخبرنا موسى بن سعيد قال حدثنا هشام بن عبد الملك قال حدثنا حماد بن سلمة عن محمد بن عمرو عن أبي سلمة عن الشريد بن سويد الثقفي قال : أتيت رسول الله صلى الله عليه و سلم فقلت إن أمي أوصت أن تعتق عنها رقبة وإن عندي جارية نوبية أفيجزئ عني أن أعتقها عنها قال ائتني بها فأتيته بها فقال لها النبي صلى الله عليه و سلم من ربك قالت الله قال من أنا قالت أنت رسول الله قال فأعتقها فإنها مؤمنة

قال الشيخ الألباني : حسن الإسناد

 (25)المنتقى – شرح الموطأ (4/  101)

( فَصْلٌ ) وَقَوْلُهُ : لِلْجَارِيَةِ أَيْنَ اللَّهُ ؟ فَقَالَتْ : فِي السَّمَاءِ لَعَلَّهَا تُرِيدُ وَصْفَهُ بِالْعُلُوِّ وَبِذَلِكَ يُوصَفُ كُلُّ مَنْ شَأْنُهُ الْعُلُوُّ فَيُقَالُ مَكَانُ فُلَانِ فِي السَّمَاءِ بِمَعْنَى عُلُوِّ حَالِهِ وَرِفْعَتِهِ وَشَرَفِهِ .

Sebarkan Kebaikan Sekarang
loading...

Konsultasi Sunsal

Konsultasi Sunsal has written 134 articles

Grup KONSULTASI FIQIH UMUM & KEWANITAAN berusaha untuk menjawab permasalahan-permasalahan fiqhiyyah berdasarkan kitab-kitab yang mu`tabar dalam ahlus sunnah wal jama`ah. Dalam setiap jawaban selalu dicantumkan ibarat lengkap dari kitab yang bersangkutan dengan pertanyaan yang ada.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>