Menjawab Syubhat Tauhid Wahabi Part III

Menjawab Syubhat Tauhid Wahabi Part III

images (15)

✒?FAEDAH KE-ASWAJAAN. BAB TAUHID 3?

Syubhat :

Asy’ariyyah atau Asya’irah menyelisihi imam mereka sendiri; Abul Hasan al-Asy’ariy dalam masalah teks-teks mutsyabihat di mana Al-Asy’ary memahami teks mutsyabihat dengan hakekat dan dhahirnya tidak sebagaimana ulama Asya’irah yang mentakwilnya atau mentafwidh maknanya. Al-Asy’ariy berkata :

أجمعوا على أنه عز وجل يسمع ويرى ، وأن له تعالى يدين مبسوطتين ، وأن الأرض جميعا قبضته يوم القيامة والسماوات مطويات بيمينه

“Mereka telah berijma’ bahwasannya Allah ‘azza wa jalla mendengar dan melihat. Ia mempunyai dua tangan yang terbuka. Bumi akan digenggam-Nya pada hari kiamat dan langit akan dilipat dengan tangan kanan-Nya”.

Al-Ismaa’iliy juga menyatakannyanya dalam kitab ‘Aqiidah Ahlil-Hadiits, saat ia berkata :

وخلق آدم عليه السلام بيده ، ويداه مبسوطتان ينفق كيف يشاء بلا اعتقاد كيف يداه إذ لم ينطق كتاب الله تعالى فيه بكيف

“Allah menciptakan Adam ‘alaihis-salaam dengan tangan-Nya, dan kedua tangan-Nya terbuka memberikan (karunia kepada makhluk) sebagaimana yang Ia kehendaki, tanpa disertai keyakinan penentuan kaifiyah kedua tangan-Nya; yaitu ketika tidak ada penjelasan di dalam Kitabullah tentang kaifiyah tersebut”.

Oleh karena itu, Anda dapat melihat Asy’ariyyah menyelisihi imam mereka (yaitu Abul-Hasan Al-Asy’ariy) dengan men-tafwidl sifat ini sebagaimana tafwidl yang dilakukan orang-orang bodoh dan membodohkan (ahlul-jahl wat-tajhiil), atau men-ta’wil-nya dengan ta’wil-an para penyeleweng dan pengingkar (ahlut-tahriif wat-ta’thiil).

Jawaban :

Kaum Ay’ariyyah sama sekali tidak menyelisihi pandangan imam Abul Hasan al-As’ari, karena dalam hal ini beliau lebih mengutamakan dan mendahulukan madzhab ulama salaf yakni Tafwidh ul ma’na bukan takwil dan mayoritas diikuti oleh kaum Asy’ariyyah. Sedangkan sebagian Asy’ariyyah lainnya yang mentakwil ayat shifat karena dirasa perlu untuk mengcounter pemahaman tasybih dan tajsim kaum musyabbihah dari kalangan awamnya.

Imam Abul Hasan al-Asy’ri justru sangat bertolak belakang dengan kaum wahabi, sebab kaum wahabi memaknai makna Yad dengan makna hakikatnya secara dhahir dalam bahasa Arab sedangkan makna hakikat secara dhahir dalam bahasa Arab adalah anggota tubuh tertentu yang memiliki ukuran panjang, lebar dan jari. Berbeda dengan Abul Hasan al-Asy’ari dan kaum Asy’ariyyah yang tidak meyakini seperti itu. Perhatikan ucapan imam Abul Hasan al-Asy’ari berikut ini dalam Ibanahnya :

“ Tidaklah samar ayat Allah Ta’ala : “ Karena apa yang Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku “, adanya makna hal itu dengan penetapan kedua tangan dengan makna dua nikmat atau makna hal itu dengan kedua tangan yang berbentuk jarihah. Allah Maha Suci dari hal itu semua, atau makna hal itu adalah penetapan kedua tangan dengan makna dua qudrah, atau makna hal itu dengan kedua tangan yang bukan bermakna kedua nikmat dan juga bukan berbentuk jarihah, demikian juga dua qudrah. Kedua tangan-Nya tidak disifati kecuali dengan apa yang Allah sifati sendiria. Tidak boleh memaknai keduanya dengan dua nikmat , karena menurut ahli bahasa tidak boleh mengatakan : “ Aku berbuat dengan tanganku maksudnya nikmatku “, demikian juga tidak boleh menurut kami dan lawan kami memaksudkannya dengan kedua tangan yang berbentuk jarihah demikian juga dua qudrah. Maka jika ketiga pembagian itu rusak, tersisalah pembagian yang keempat yaitu makna firman Allah Ta’ala “ Dengan kedua tangan-Ku “, adalah اenetapkan kedua tangan yang bukan berbentuk jarihah, bukan dua qudrah, bukan dua nikmat dan tidak boleh disifati kecuali dengan mengatakan : “ Kedua tangan Allah itu adalah kedua tangan yang bukan seperti tangan-tangan yang keluar dari ketiga pembagian yang telah berlalu tadi “. (Al-Ibanah : 133)

Imam Abul Hasan dan imam Ibnu Baththal mengarahkan ‘Yadayya’ (kedua tangan) dengan makna khusus. Jika diperhatikan makna khusus ini, maka bersandarkan pada makna secara global sebagaimana prinsip kaum muawwilah (para pentakwil). Kita perhatikan para ulama ahli tafsir berikut ini ketika mentafsirkan ayat :

“ Bahkan kedua tangan-Nya terbentang luas “.

Imam Ibnul Jauzi menafsirkannya : “ Sesungguhnya Allah Maha Dermawan, memberikan nafkah kepada siapa yang Dia kehendaki “. (Zaad al-Masir : 2/393)

Imam Ibnu Katsir menafsirkannya : “ Bahkan Allah yang Maha Luas keutamaan-Nya, Yang Maha besar pemberian-Nya “. (Tafsir Ibnu Katsir : 2/76)

Imam al-Qurthubi menafsirkannya : “ Nikmat-nikmat Allah begitu banyak tidak terhitung, maka bagaimana diartikan : “ Bahkan kedua nikmatnya terbentang luas “ ? jawabannya adalah : “ Boleh tatsniyyah (kata bentuk dua) ini dari jenis bukan tatsniyyah mufrad (satu), maka contohnya seperti hadits Nabi : “ Perumpamaan Munafiq seperti kambing cacat di antara dua kambing”. Maka salah satu jenis adalah nikmat dunia dan satunya nikmat akherat. Boleh juga dijawab : “ Dua nikmat dhahir dan nikmat bathin, sebagaiman firman Allah : “ Dan Allah menyempurnakan nikmat-niikmat-Nya pada kalian secara dhahir dan bathin “. (Jami’ Ahkam al-Quran : 6/239)

Imam asy-Syaukani menafsirkannya : “ Bahkan Allah di dalam puncaknya kedermawanan. Penyebutan kedua tangan, padahal kaum Yahudi tidak menyebutkan kecuali satu tangan, adalah sebagai bentuk mubalaghah (sangat) di dalam membantah mereka dengan menetapkan apa yang menunjukkan puncaknya kedermawanan. Karena menisbatkan kedermawanan dengan kedua tangan lebih sangat daripada menisbatkannya dengan satu tangan “. (Fath al-Qadir : 2/57)

Dari penafsiran para ulama besar di atas, dipahami bahwasanya mereka semua menafsirkan kedua tangan dengan makna khusus yang bukan mengarah pada makna hakikatnya dalam bahasa Arab dan tidak mengarah pada makna jarihah (anggota tubuh), mereka semua menyerahkan maknanya kepada Allah. Dan inilah madzhab ulama salaf. Dan itulah yang dimaksudkan oleh imam Abul Hasan al-Asy’ari dan Ibnu Baththal bukan sebegaimana pemahaman kaum wahabi.

(Ibnu Abdillah Al-Katibiy; Kota Santri : 21-11-2011)

Sebarkan Kebaikan Sekarang
loading...

Ustadz Ibnu Abdillah Al-Katibiy

Ustadz Ibnu Abdillah Al-Katibiy has written 8 articles

Penulis buku Rekam Jejak Radikalisme Wahabi
dan Ahli Ruqyah Islami

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>